alexametrics
24.7 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Pelaku Pembunuh Stasiun Jember bukan Asli orang Pakusari

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Warga di Desa Bedadung, Kecamatan Pakusari Jember, tak begitu mengenal sosok Hafid Prsetyo Hadi, tersangka pembunuhan sekaligus pencurian dengan kekerasan di Jalan Wijaya Kusuma dekat stasiun Jember, Lingkungan Kampung Osing, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang. Itu karena pria 31 tahun yang tinggal di Dusun Krajan Lama, Desa Bedadung, itu bukan orang asli setempat. Dia baru pindah bersama keluarganya di kampung tersebut.

Warga hanya mengenal Hafid sebagai tukang servis TV dan pasang parabola. Selain itu, warga juga mengetahui jika Hafid bekerja di salah satu toko elektronik di Jember. Di toko ini, pria dua anak itu bekerja sebagai teknisi. “Dia sering dipanggil orang untuk memperbaiki televisi dan memasang anten parabola,” kata Yuli, warga Dusun Krajan Baru, Desa Bedadung, kemarin (19/1).

Menurut warga, Hafid yang merupakan pelaku pembunuhan, pencurian dan kekerasan peristiwa berdarah jalan wijaya kusuma sekitar stasiun Jember itu berasal dari Banyuwangi. Dia kemudian menikah dengan perempuan asal Kecamatan Mayang Jember. Di tempat tinggalnya sekarang, Hafid diketahui tidak pernah berbuat macam-macam. Dia juga cukup ringan tangan ketika ada tetangga yang meminta bantuannya memperbaiki televisi yang rusak. “Orangnya baik kok, dan sering dipanggil untuk masang anten parabola. Kalau kesehariannya bekerja di toko elektronik,” pungkas Yuli.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jawa Pos Radar Jember berusaha mencari keterangan tambahan dari warga yang lain. Tetapi, kebanyakan mereka menolak berkomentar. Namun, rata-rata warga menyatakan bahwa Hafid yang kini menjadi pelaku pembunuhan, pencurian dan kekerasan peristiwa berdarah jalan wijaya kusuma sekitar stasiun Jember itu merupakan warga baru dan belum lama tinggal di Desa Bedadung. Sebelumnya, warga menyebut, dia tinggal bersama istrinya di Kecamatan Mayang Jember.

Sehari setelah terjadinya pembunuhan di sekitar stasiun Jember yang menggegerkan pusat kota Jember itu, warga di sekitar lokasi kejadian masih banyak yang membicarakan peristiwa berdarah tersebut. Warga tidak menyangka kejahatan itu terjadi siang bolong dan di dekat pusat keramaian.

Hamid, 45, warga Jalan Kaliurang, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, yang setiap hari bekerja di sekitar stasiun ini, mengatakan, sebelum pelaku dibekuk oleh warga, terdengar ibu korban yang berteriak rampok. Saat itu, banyak orang yang datang. Namun, pintu pagar sudah ditutup dan pelakunya sudah ditangkap.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Warga di Desa Bedadung, Kecamatan Pakusari Jember, tak begitu mengenal sosok Hafid Prsetyo Hadi, tersangka pembunuhan sekaligus pencurian dengan kekerasan di Jalan Wijaya Kusuma dekat stasiun Jember, Lingkungan Kampung Osing, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang. Itu karena pria 31 tahun yang tinggal di Dusun Krajan Lama, Desa Bedadung, itu bukan orang asli setempat. Dia baru pindah bersama keluarganya di kampung tersebut.

Warga hanya mengenal Hafid sebagai tukang servis TV dan pasang parabola. Selain itu, warga juga mengetahui jika Hafid bekerja di salah satu toko elektronik di Jember. Di toko ini, pria dua anak itu bekerja sebagai teknisi. “Dia sering dipanggil orang untuk memperbaiki televisi dan memasang anten parabola,” kata Yuli, warga Dusun Krajan Baru, Desa Bedadung, kemarin (19/1).

Menurut warga, Hafid yang merupakan pelaku pembunuhan, pencurian dan kekerasan peristiwa berdarah jalan wijaya kusuma sekitar stasiun Jember itu berasal dari Banyuwangi. Dia kemudian menikah dengan perempuan asal Kecamatan Mayang Jember. Di tempat tinggalnya sekarang, Hafid diketahui tidak pernah berbuat macam-macam. Dia juga cukup ringan tangan ketika ada tetangga yang meminta bantuannya memperbaiki televisi yang rusak. “Orangnya baik kok, dan sering dipanggil untuk masang anten parabola. Kalau kesehariannya bekerja di toko elektronik,” pungkas Yuli.

Jawa Pos Radar Jember berusaha mencari keterangan tambahan dari warga yang lain. Tetapi, kebanyakan mereka menolak berkomentar. Namun, rata-rata warga menyatakan bahwa Hafid yang kini menjadi pelaku pembunuhan, pencurian dan kekerasan peristiwa berdarah jalan wijaya kusuma sekitar stasiun Jember itu merupakan warga baru dan belum lama tinggal di Desa Bedadung. Sebelumnya, warga menyebut, dia tinggal bersama istrinya di Kecamatan Mayang Jember.

Sehari setelah terjadinya pembunuhan di sekitar stasiun Jember yang menggegerkan pusat kota Jember itu, warga di sekitar lokasi kejadian masih banyak yang membicarakan peristiwa berdarah tersebut. Warga tidak menyangka kejahatan itu terjadi siang bolong dan di dekat pusat keramaian.

Hamid, 45, warga Jalan Kaliurang, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, yang setiap hari bekerja di sekitar stasiun ini, mengatakan, sebelum pelaku dibekuk oleh warga, terdengar ibu korban yang berteriak rampok. Saat itu, banyak orang yang datang. Namun, pintu pagar sudah ditutup dan pelakunya sudah ditangkap.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Warga di Desa Bedadung, Kecamatan Pakusari Jember, tak begitu mengenal sosok Hafid Prsetyo Hadi, tersangka pembunuhan sekaligus pencurian dengan kekerasan di Jalan Wijaya Kusuma dekat stasiun Jember, Lingkungan Kampung Osing, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang. Itu karena pria 31 tahun yang tinggal di Dusun Krajan Lama, Desa Bedadung, itu bukan orang asli setempat. Dia baru pindah bersama keluarganya di kampung tersebut.

Warga hanya mengenal Hafid sebagai tukang servis TV dan pasang parabola. Selain itu, warga juga mengetahui jika Hafid bekerja di salah satu toko elektronik di Jember. Di toko ini, pria dua anak itu bekerja sebagai teknisi. “Dia sering dipanggil orang untuk memperbaiki televisi dan memasang anten parabola,” kata Yuli, warga Dusun Krajan Baru, Desa Bedadung, kemarin (19/1).

Menurut warga, Hafid yang merupakan pelaku pembunuhan, pencurian dan kekerasan peristiwa berdarah jalan wijaya kusuma sekitar stasiun Jember itu berasal dari Banyuwangi. Dia kemudian menikah dengan perempuan asal Kecamatan Mayang Jember. Di tempat tinggalnya sekarang, Hafid diketahui tidak pernah berbuat macam-macam. Dia juga cukup ringan tangan ketika ada tetangga yang meminta bantuannya memperbaiki televisi yang rusak. “Orangnya baik kok, dan sering dipanggil untuk masang anten parabola. Kalau kesehariannya bekerja di toko elektronik,” pungkas Yuli.

Jawa Pos Radar Jember berusaha mencari keterangan tambahan dari warga yang lain. Tetapi, kebanyakan mereka menolak berkomentar. Namun, rata-rata warga menyatakan bahwa Hafid yang kini menjadi pelaku pembunuhan, pencurian dan kekerasan peristiwa berdarah jalan wijaya kusuma sekitar stasiun Jember itu merupakan warga baru dan belum lama tinggal di Desa Bedadung. Sebelumnya, warga menyebut, dia tinggal bersama istrinya di Kecamatan Mayang Jember.

Sehari setelah terjadinya pembunuhan di sekitar stasiun Jember yang menggegerkan pusat kota Jember itu, warga di sekitar lokasi kejadian masih banyak yang membicarakan peristiwa berdarah tersebut. Warga tidak menyangka kejahatan itu terjadi siang bolong dan di dekat pusat keramaian.

Hamid, 45, warga Jalan Kaliurang, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, yang setiap hari bekerja di sekitar stasiun ini, mengatakan, sebelum pelaku dibekuk oleh warga, terdengar ibu korban yang berteriak rampok. Saat itu, banyak orang yang datang. Namun, pintu pagar sudah ditutup dan pelakunya sudah ditangkap.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/