alexametrics
24 C
Jember
Monday, 8 August 2022

Tiap Tahun, Ribuan Hektare ‘Ditumbuhi’ Rumah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – ALIH fungsi atau konversi lahan selama lima tahun terakhir cukup marak terjadi di Jember. Di berbagai tempat, khususnya perkotaan, alih fungsi lahan produktif terkesan tak terkendali. Hampir setiap hari, pembangunan gedung-gedung dan rumah-rumah nyaris tak pernah sepi. Peningkatan alih fungsi lahan ini secara otomatis akan menurunkan produktivitas lahan, utamanya lahan produktif untuk pertanian.

Catatan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember menunjukkan, selama lima tahun terakhir, penyusutan lahan produktif pertanian di Jember mencapai 3.000 hektare lebih. Jika dipersentasekan tiap tahunnya, berkisar antara 5-10 persen.

Sekretaris HKTI Jember Heru Purnomo Setio Budi menyebut, maraknya konversi lahan karena bisnis properti menjadi permasalahan utamanya. Selain itu, jomplangnya antara harga operasional dan hasil produksi pertanian juga membuat orang malas bertani. “Dua faktor ini sama-sama berpengaruh. Namun, yang dominan itu karena alih fungsi lahan,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Penyusutan tanah produktif sebenarnya secara langsung berdampak pada penurunan tingkat produktivitas hasil pertanian. Efek jangka panjang, membuat harga-harga komoditas pertanian kian mahal.

Pengajar Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah (UM) Jember Syamsul Hadi Kusuma menilai, fenomena alih fungsi lahan memang menjadi permasalahan klasik. Hampir terjadi di berbagai daerah dan wilayah. Pun di Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – ALIH fungsi atau konversi lahan selama lima tahun terakhir cukup marak terjadi di Jember. Di berbagai tempat, khususnya perkotaan, alih fungsi lahan produktif terkesan tak terkendali. Hampir setiap hari, pembangunan gedung-gedung dan rumah-rumah nyaris tak pernah sepi. Peningkatan alih fungsi lahan ini secara otomatis akan menurunkan produktivitas lahan, utamanya lahan produktif untuk pertanian.

Catatan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember menunjukkan, selama lima tahun terakhir, penyusutan lahan produktif pertanian di Jember mencapai 3.000 hektare lebih. Jika dipersentasekan tiap tahunnya, berkisar antara 5-10 persen.

Sekretaris HKTI Jember Heru Purnomo Setio Budi menyebut, maraknya konversi lahan karena bisnis properti menjadi permasalahan utamanya. Selain itu, jomplangnya antara harga operasional dan hasil produksi pertanian juga membuat orang malas bertani. “Dua faktor ini sama-sama berpengaruh. Namun, yang dominan itu karena alih fungsi lahan,” jelasnya.

Penyusutan tanah produktif sebenarnya secara langsung berdampak pada penurunan tingkat produktivitas hasil pertanian. Efek jangka panjang, membuat harga-harga komoditas pertanian kian mahal.

Pengajar Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah (UM) Jember Syamsul Hadi Kusuma menilai, fenomena alih fungsi lahan memang menjadi permasalahan klasik. Hampir terjadi di berbagai daerah dan wilayah. Pun di Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – ALIH fungsi atau konversi lahan selama lima tahun terakhir cukup marak terjadi di Jember. Di berbagai tempat, khususnya perkotaan, alih fungsi lahan produktif terkesan tak terkendali. Hampir setiap hari, pembangunan gedung-gedung dan rumah-rumah nyaris tak pernah sepi. Peningkatan alih fungsi lahan ini secara otomatis akan menurunkan produktivitas lahan, utamanya lahan produktif untuk pertanian.

Catatan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember menunjukkan, selama lima tahun terakhir, penyusutan lahan produktif pertanian di Jember mencapai 3.000 hektare lebih. Jika dipersentasekan tiap tahunnya, berkisar antara 5-10 persen.

Sekretaris HKTI Jember Heru Purnomo Setio Budi menyebut, maraknya konversi lahan karena bisnis properti menjadi permasalahan utamanya. Selain itu, jomplangnya antara harga operasional dan hasil produksi pertanian juga membuat orang malas bertani. “Dua faktor ini sama-sama berpengaruh. Namun, yang dominan itu karena alih fungsi lahan,” jelasnya.

Penyusutan tanah produktif sebenarnya secara langsung berdampak pada penurunan tingkat produktivitas hasil pertanian. Efek jangka panjang, membuat harga-harga komoditas pertanian kian mahal.

Pengajar Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah (UM) Jember Syamsul Hadi Kusuma menilai, fenomena alih fungsi lahan memang menjadi permasalahan klasik. Hampir terjadi di berbagai daerah dan wilayah. Pun di Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/