alexametrics
22.3 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Harga Jatuh Jelang Subuh

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MALAM itu sebenarnya tak dingin. Tak perlu jaket atau alat penghangat lain. Tetapi, perempuan mengenakan rok mini yang duduk di samping lelaki beranjak mendatangi nyala api yang mulai meredup. Dia menambahkan robekan kardus dan beberapa barang lain agar semakin terang.

Hanya hitungan detik, lokasi rel kereta api di sekitar Jalan Darmawangsa, Desa Rambigundam, Rambipuji, menjadi cukup terang. Namun sayang, nyala api tersebut tak sampai menembus wajah perempuan yang kembali lagi duduk di samping seorang lelaki. Mereka duduk berdampingan di besi rel.

Samar-samar, wajahnya terlihat tersenyum. Tetapi senyumnya lekas hilang karena tak lagi terpancar oleh nyala api. Saat itu, si Marni (nama samaran, Red) mulai aktif bertanya. Apakah lelaki itu datang sendiri, asal dari mana, dan berbincang banyak hal lainnya. Hingga mereka berbincang-bincang seputar tempat prostitusi sawahan tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Marni kemudian menyebut, untuk bisa mengajaknya atau perempuan lain di sekitar rel berkencan, dibutuhkan uang Rp 50 ribu saja. “Mainnya ya di sana, di sawah-sawah itu. Bisa di sana, di sana, atau yang sana. Tempat di atas irigasi ada bambu-bambunya,” jelasnya, sembari menunjuk lokasi yang dimaksud.

Menjalani hidup malam seperti itu dia lakukan sudah beberapa tahun terakhir. Meski Marni tak setiap malam mangkal di lokasi itu, namun dia kerap menunggu pria hidung belang hingga larut malam, bahkan subuh.

Setiap kali ada orang lewat, Marni atau perempuan lain yang ada di lokasi ini biasanya langsung bergerak menyalakan api yang redup. Bukan karena mereka dingin. Tetapi, kobaran api itulah yang menjadi salah satu isyarat bahwa di lokasi sekitar ada pekerja seks komersial yang menunggu.

Setiap kali mangkal, bukan berarti langsung banyak yang datang. Ada malam-malam tertentu, tetapi jamnya tak bisa ditentukan. “Pokoknya di atas pukul 22.00 sudah ada,” ucapnya.

Marni sedang duduk di rel terlihat mengambil ponselnya. Saat dibuka, wajahnya kembali terlihat samar-samar. “Kalau tidak mau di sawahan, bisa di ajak ke luar,” jelasnya lagi.

Sapaan dan tawaran seperti itu juga dilakukan sejumlah perempuan lain yang usianya rata-rata sudah di atas 35 tahun. Namun, itu hanya dilakukan pada seorang lelaki yang sedang melintas atau duduk di sampingnya. Termasuk lelaki itu yang ditawari agar membawa perempuan masuk ke areal sawahan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MALAM itu sebenarnya tak dingin. Tak perlu jaket atau alat penghangat lain. Tetapi, perempuan mengenakan rok mini yang duduk di samping lelaki beranjak mendatangi nyala api yang mulai meredup. Dia menambahkan robekan kardus dan beberapa barang lain agar semakin terang.

Hanya hitungan detik, lokasi rel kereta api di sekitar Jalan Darmawangsa, Desa Rambigundam, Rambipuji, menjadi cukup terang. Namun sayang, nyala api tersebut tak sampai menembus wajah perempuan yang kembali lagi duduk di samping seorang lelaki. Mereka duduk berdampingan di besi rel.

Samar-samar, wajahnya terlihat tersenyum. Tetapi senyumnya lekas hilang karena tak lagi terpancar oleh nyala api. Saat itu, si Marni (nama samaran, Red) mulai aktif bertanya. Apakah lelaki itu datang sendiri, asal dari mana, dan berbincang banyak hal lainnya. Hingga mereka berbincang-bincang seputar tempat prostitusi sawahan tersebut.

Marni kemudian menyebut, untuk bisa mengajaknya atau perempuan lain di sekitar rel berkencan, dibutuhkan uang Rp 50 ribu saja. “Mainnya ya di sana, di sawah-sawah itu. Bisa di sana, di sana, atau yang sana. Tempat di atas irigasi ada bambu-bambunya,” jelasnya, sembari menunjuk lokasi yang dimaksud.

Menjalani hidup malam seperti itu dia lakukan sudah beberapa tahun terakhir. Meski Marni tak setiap malam mangkal di lokasi itu, namun dia kerap menunggu pria hidung belang hingga larut malam, bahkan subuh.

Setiap kali ada orang lewat, Marni atau perempuan lain yang ada di lokasi ini biasanya langsung bergerak menyalakan api yang redup. Bukan karena mereka dingin. Tetapi, kobaran api itulah yang menjadi salah satu isyarat bahwa di lokasi sekitar ada pekerja seks komersial yang menunggu.

Setiap kali mangkal, bukan berarti langsung banyak yang datang. Ada malam-malam tertentu, tetapi jamnya tak bisa ditentukan. “Pokoknya di atas pukul 22.00 sudah ada,” ucapnya.

Marni sedang duduk di rel terlihat mengambil ponselnya. Saat dibuka, wajahnya kembali terlihat samar-samar. “Kalau tidak mau di sawahan, bisa di ajak ke luar,” jelasnya lagi.

Sapaan dan tawaran seperti itu juga dilakukan sejumlah perempuan lain yang usianya rata-rata sudah di atas 35 tahun. Namun, itu hanya dilakukan pada seorang lelaki yang sedang melintas atau duduk di sampingnya. Termasuk lelaki itu yang ditawari agar membawa perempuan masuk ke areal sawahan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MALAM itu sebenarnya tak dingin. Tak perlu jaket atau alat penghangat lain. Tetapi, perempuan mengenakan rok mini yang duduk di samping lelaki beranjak mendatangi nyala api yang mulai meredup. Dia menambahkan robekan kardus dan beberapa barang lain agar semakin terang.

Hanya hitungan detik, lokasi rel kereta api di sekitar Jalan Darmawangsa, Desa Rambigundam, Rambipuji, menjadi cukup terang. Namun sayang, nyala api tersebut tak sampai menembus wajah perempuan yang kembali lagi duduk di samping seorang lelaki. Mereka duduk berdampingan di besi rel.

Samar-samar, wajahnya terlihat tersenyum. Tetapi senyumnya lekas hilang karena tak lagi terpancar oleh nyala api. Saat itu, si Marni (nama samaran, Red) mulai aktif bertanya. Apakah lelaki itu datang sendiri, asal dari mana, dan berbincang banyak hal lainnya. Hingga mereka berbincang-bincang seputar tempat prostitusi sawahan tersebut.

Marni kemudian menyebut, untuk bisa mengajaknya atau perempuan lain di sekitar rel berkencan, dibutuhkan uang Rp 50 ribu saja. “Mainnya ya di sana, di sawah-sawah itu. Bisa di sana, di sana, atau yang sana. Tempat di atas irigasi ada bambu-bambunya,” jelasnya, sembari menunjuk lokasi yang dimaksud.

Menjalani hidup malam seperti itu dia lakukan sudah beberapa tahun terakhir. Meski Marni tak setiap malam mangkal di lokasi itu, namun dia kerap menunggu pria hidung belang hingga larut malam, bahkan subuh.

Setiap kali ada orang lewat, Marni atau perempuan lain yang ada di lokasi ini biasanya langsung bergerak menyalakan api yang redup. Bukan karena mereka dingin. Tetapi, kobaran api itulah yang menjadi salah satu isyarat bahwa di lokasi sekitar ada pekerja seks komersial yang menunggu.

Setiap kali mangkal, bukan berarti langsung banyak yang datang. Ada malam-malam tertentu, tetapi jamnya tak bisa ditentukan. “Pokoknya di atas pukul 22.00 sudah ada,” ucapnya.

Marni sedang duduk di rel terlihat mengambil ponselnya. Saat dibuka, wajahnya kembali terlihat samar-samar. “Kalau tidak mau di sawahan, bisa di ajak ke luar,” jelasnya lagi.

Sapaan dan tawaran seperti itu juga dilakukan sejumlah perempuan lain yang usianya rata-rata sudah di atas 35 tahun. Namun, itu hanya dilakukan pada seorang lelaki yang sedang melintas atau duduk di sampingnya. Termasuk lelaki itu yang ditawari agar membawa perempuan masuk ke areal sawahan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/