alexametrics
24 C
Jember
Monday, 8 August 2022

Ada Majelis Rutin Setiap Minggu hingga Santunan

Tak hanya menjadi tempat mencari nafkah, di lingkungan lokalisasi juga terdapat berbagai sisi kehidupan yang jarang diketahui orang. Salah satunya seperti keberadaan masjid. Tak hanya untuk tempat ibadah, tapi untuk banyak hal. Meskipun dilakukan dengan cara yang berbeda.

Mobile_AP_Rectangle 1

Rupanya, para kupu-kupu malam tidak lupa untuk membagi hasil keringatnya kepada anak-anak yang membutuhkan. Padahal, mereka yang biasa mangkal di lokalisasi itu juga dikenakan uang kontrakan.

Dengan segala pandangan miring yang kerap dilontarkan masyarakat, warga Besini masih memiliki kebudayaan yang tak jauh berbeda dengan masyarakat kebanyakan. “Ramadan mereka juga berpuasa, Lebaran mereka juga mudik,” imbuh pria berusia 74 tahun itu.

Johan membenarkan jika selama ini lokalisasi Besini kerap dicap sebagai tempat kemaksiatan. Padahal, tak sedikit warga sana yang memiliki anak-anak dan mereka disekolahkan. Tentu sebagai orang tua, mereka menginginkan pendidikan yang layak dan memadai untuk anak-anaknya. Minimal mereka bisa memiliki kehidupan yang lebih baik daripada orang tuanya. “Di sebelah timur Besini ini, ada lembaga TPQ, tempat anak-anak di sini belajar ngaji,” tambahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hal lain yang tak kalah mencengangkan adalah anak-anak di sana juga memanfaatkan tempat lokalisasi itu sebagai salah satu tempat bermainnnya. Saat Jawa Pos Radar Jember menemui beberapa dari mereka, tampak beberapa anak juga keluar masuk rumahnya. Padahal, di rumahnya itu pula, saat itu tengah ada yang menerima pelanggan.

Lain halnya seperti yang diceritakan oleh Ali, salah seorang tukang ojek yang sudah puluhan tahun mangkal di lokalisasi itu. Dia menceritakan, saat warga Besini hendak ke luar kota atau pulang ke kampung halaman, Ali selalu tampil sebagai jasa kuli antar dengan becak motornya. “Karena warga sini banyak yang pendatang, meskipun sudah berdomisili sini,” katanya.

Berbicara lokalisasi dan PSK di Jember, nama Besini masih cukup kuat dan menjadi bagian yang tidak bisa lepas dari bahan perbincangan para pencinta kenikmatan wanita. Johan dan Ali pun meyakini, lokalisasi Besini sudah kerap beberapa kali disorot oleh berbagai media, membuat para pekerja risi dan mereka mulai tersebar di berbagai tempat. Padahal, jauh dari lubuk terdalam, jika para pedila (perempuan dilacurkan) masih punya pilihan hidup, mereka tidak akan berada di tempat tersebut.

- Advertisement -

Rupanya, para kupu-kupu malam tidak lupa untuk membagi hasil keringatnya kepada anak-anak yang membutuhkan. Padahal, mereka yang biasa mangkal di lokalisasi itu juga dikenakan uang kontrakan.

Dengan segala pandangan miring yang kerap dilontarkan masyarakat, warga Besini masih memiliki kebudayaan yang tak jauh berbeda dengan masyarakat kebanyakan. “Ramadan mereka juga berpuasa, Lebaran mereka juga mudik,” imbuh pria berusia 74 tahun itu.

Johan membenarkan jika selama ini lokalisasi Besini kerap dicap sebagai tempat kemaksiatan. Padahal, tak sedikit warga sana yang memiliki anak-anak dan mereka disekolahkan. Tentu sebagai orang tua, mereka menginginkan pendidikan yang layak dan memadai untuk anak-anaknya. Minimal mereka bisa memiliki kehidupan yang lebih baik daripada orang tuanya. “Di sebelah timur Besini ini, ada lembaga TPQ, tempat anak-anak di sini belajar ngaji,” tambahnya.

Hal lain yang tak kalah mencengangkan adalah anak-anak di sana juga memanfaatkan tempat lokalisasi itu sebagai salah satu tempat bermainnnya. Saat Jawa Pos Radar Jember menemui beberapa dari mereka, tampak beberapa anak juga keluar masuk rumahnya. Padahal, di rumahnya itu pula, saat itu tengah ada yang menerima pelanggan.

Lain halnya seperti yang diceritakan oleh Ali, salah seorang tukang ojek yang sudah puluhan tahun mangkal di lokalisasi itu. Dia menceritakan, saat warga Besini hendak ke luar kota atau pulang ke kampung halaman, Ali selalu tampil sebagai jasa kuli antar dengan becak motornya. “Karena warga sini banyak yang pendatang, meskipun sudah berdomisili sini,” katanya.

Berbicara lokalisasi dan PSK di Jember, nama Besini masih cukup kuat dan menjadi bagian yang tidak bisa lepas dari bahan perbincangan para pencinta kenikmatan wanita. Johan dan Ali pun meyakini, lokalisasi Besini sudah kerap beberapa kali disorot oleh berbagai media, membuat para pekerja risi dan mereka mulai tersebar di berbagai tempat. Padahal, jauh dari lubuk terdalam, jika para pedila (perempuan dilacurkan) masih punya pilihan hidup, mereka tidak akan berada di tempat tersebut.

Rupanya, para kupu-kupu malam tidak lupa untuk membagi hasil keringatnya kepada anak-anak yang membutuhkan. Padahal, mereka yang biasa mangkal di lokalisasi itu juga dikenakan uang kontrakan.

Dengan segala pandangan miring yang kerap dilontarkan masyarakat, warga Besini masih memiliki kebudayaan yang tak jauh berbeda dengan masyarakat kebanyakan. “Ramadan mereka juga berpuasa, Lebaran mereka juga mudik,” imbuh pria berusia 74 tahun itu.

Johan membenarkan jika selama ini lokalisasi Besini kerap dicap sebagai tempat kemaksiatan. Padahal, tak sedikit warga sana yang memiliki anak-anak dan mereka disekolahkan. Tentu sebagai orang tua, mereka menginginkan pendidikan yang layak dan memadai untuk anak-anaknya. Minimal mereka bisa memiliki kehidupan yang lebih baik daripada orang tuanya. “Di sebelah timur Besini ini, ada lembaga TPQ, tempat anak-anak di sini belajar ngaji,” tambahnya.

Hal lain yang tak kalah mencengangkan adalah anak-anak di sana juga memanfaatkan tempat lokalisasi itu sebagai salah satu tempat bermainnnya. Saat Jawa Pos Radar Jember menemui beberapa dari mereka, tampak beberapa anak juga keluar masuk rumahnya. Padahal, di rumahnya itu pula, saat itu tengah ada yang menerima pelanggan.

Lain halnya seperti yang diceritakan oleh Ali, salah seorang tukang ojek yang sudah puluhan tahun mangkal di lokalisasi itu. Dia menceritakan, saat warga Besini hendak ke luar kota atau pulang ke kampung halaman, Ali selalu tampil sebagai jasa kuli antar dengan becak motornya. “Karena warga sini banyak yang pendatang, meskipun sudah berdomisili sini,” katanya.

Berbicara lokalisasi dan PSK di Jember, nama Besini masih cukup kuat dan menjadi bagian yang tidak bisa lepas dari bahan perbincangan para pencinta kenikmatan wanita. Johan dan Ali pun meyakini, lokalisasi Besini sudah kerap beberapa kali disorot oleh berbagai media, membuat para pekerja risi dan mereka mulai tersebar di berbagai tempat. Padahal, jauh dari lubuk terdalam, jika para pedila (perempuan dilacurkan) masih punya pilihan hidup, mereka tidak akan berada di tempat tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/