alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Turunkan Konsentrasi hingga Kecanduan

Efek Negatif Gawai pada Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara tangis anak berusia sekitar 10 tahun memenuhi salah satu rumah di Jalan A. Yani, Kelurahan Kepatihan, Kaliwates. Bagus namanya. Kala itu, dia merengek karena tak diberikan HP oleh ibunya, Sofiyah. Bahkan, Bagus menunjukkan karakter yang tak wajar dengan berteriak sambil menarik baju ibunya.

“Bagus memang kerap seperti ini. Marah-marah kalau tak dipinjami HP,” ungkap Sofiyah. Padahal dia mengaku bahwa sering memarahi anaknya jika rewel seperti itu. Tak jarang sampai melayangkan cubitan kecil agar Bagus jera. Sayangnya, Sofiyah kerap kewalahan dengan tingkah laku anaknya yang susah diatur karena kecanduan gawai.

Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh Sofiyah juga berpotensi dilakukan oleh orang tua lainnya. Sebab, ketika penggunaan gawai itu sudah berdampak ke anak, misalnya kecanduan, maka orang tua akan mulai panik. Biasanya, mereka akan cenderung menyalahkan si anak. Padahal, penggunaan gawai seperti bumerang bagi orang tua. “Nah, gadget itu suatu barang yang lumrah digunakan. Padahal, kalau di luar negeri, mereka cenderung memberikan batasan terhadap penggunaan HP. Mulai dari siapa yang menggunakan hingga berapa lama,” terang Marisa Selvy Helphiana, seorang psikolog.

Mobile_AP_Rectangle 2

Warga Jalan MH Thamrin, Kecamatan Kaliwates, tersebut menjelaskan, sejatinya ada batasan penggunaan HP pada usia tertentu. Contohnya pada usia 0-2 tahun, mereka sama sekali tidak diperbolehkan menggunakan gawai. Pada usia 3-5 tahun, paling lama satu jam per hari. Sedangkan pada anak umur 6-18 tahun hanya boleh menggunakan dua jam per hari. “Faktanya, empat kali lipat dari porsi yang seharusnya,” ungkapnya.

Biasanya, ada banyak alasan kenapa orang tua memberikan gawai kepada anak. Pertama, supaya tidak rewel atau tidak mengganggu aktivitas orang tua. Kedua, sebagai media penghibur karena si anak tak memiliki teman. “Ketiga, akibat tidak adanya kehangatan di rumah. Orang tua sama-sama sibuk dan hanya bersama baby sitter,” terang perempuan yang akrab disapa Icha tersebut.

Bahkan, karena tak adanya pengakuan alias dikucilkan, si anak mengurung diri dan menghabiskan waktu dengan HP. Alasan lain, biasanya si anak merupakan korban perundungan dan membuat gawai sebagai hiburan. Hanya saja, penggunaan yang terlalu berlebihan tersebut justru berdampak terhadap penggunanya. Terutama kepada anak-anak. “Di antaranya, munculnya hambatan perilaku seperti penurunan konsentrasi dan defisit perhatian,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara tangis anak berusia sekitar 10 tahun memenuhi salah satu rumah di Jalan A. Yani, Kelurahan Kepatihan, Kaliwates. Bagus namanya. Kala itu, dia merengek karena tak diberikan HP oleh ibunya, Sofiyah. Bahkan, Bagus menunjukkan karakter yang tak wajar dengan berteriak sambil menarik baju ibunya.

“Bagus memang kerap seperti ini. Marah-marah kalau tak dipinjami HP,” ungkap Sofiyah. Padahal dia mengaku bahwa sering memarahi anaknya jika rewel seperti itu. Tak jarang sampai melayangkan cubitan kecil agar Bagus jera. Sayangnya, Sofiyah kerap kewalahan dengan tingkah laku anaknya yang susah diatur karena kecanduan gawai.

Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh Sofiyah juga berpotensi dilakukan oleh orang tua lainnya. Sebab, ketika penggunaan gawai itu sudah berdampak ke anak, misalnya kecanduan, maka orang tua akan mulai panik. Biasanya, mereka akan cenderung menyalahkan si anak. Padahal, penggunaan gawai seperti bumerang bagi orang tua. “Nah, gadget itu suatu barang yang lumrah digunakan. Padahal, kalau di luar negeri, mereka cenderung memberikan batasan terhadap penggunaan HP. Mulai dari siapa yang menggunakan hingga berapa lama,” terang Marisa Selvy Helphiana, seorang psikolog.

Warga Jalan MH Thamrin, Kecamatan Kaliwates, tersebut menjelaskan, sejatinya ada batasan penggunaan HP pada usia tertentu. Contohnya pada usia 0-2 tahun, mereka sama sekali tidak diperbolehkan menggunakan gawai. Pada usia 3-5 tahun, paling lama satu jam per hari. Sedangkan pada anak umur 6-18 tahun hanya boleh menggunakan dua jam per hari. “Faktanya, empat kali lipat dari porsi yang seharusnya,” ungkapnya.

Biasanya, ada banyak alasan kenapa orang tua memberikan gawai kepada anak. Pertama, supaya tidak rewel atau tidak mengganggu aktivitas orang tua. Kedua, sebagai media penghibur karena si anak tak memiliki teman. “Ketiga, akibat tidak adanya kehangatan di rumah. Orang tua sama-sama sibuk dan hanya bersama baby sitter,” terang perempuan yang akrab disapa Icha tersebut.

Bahkan, karena tak adanya pengakuan alias dikucilkan, si anak mengurung diri dan menghabiskan waktu dengan HP. Alasan lain, biasanya si anak merupakan korban perundungan dan membuat gawai sebagai hiburan. Hanya saja, penggunaan yang terlalu berlebihan tersebut justru berdampak terhadap penggunanya. Terutama kepada anak-anak. “Di antaranya, munculnya hambatan perilaku seperti penurunan konsentrasi dan defisit perhatian,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara tangis anak berusia sekitar 10 tahun memenuhi salah satu rumah di Jalan A. Yani, Kelurahan Kepatihan, Kaliwates. Bagus namanya. Kala itu, dia merengek karena tak diberikan HP oleh ibunya, Sofiyah. Bahkan, Bagus menunjukkan karakter yang tak wajar dengan berteriak sambil menarik baju ibunya.

“Bagus memang kerap seperti ini. Marah-marah kalau tak dipinjami HP,” ungkap Sofiyah. Padahal dia mengaku bahwa sering memarahi anaknya jika rewel seperti itu. Tak jarang sampai melayangkan cubitan kecil agar Bagus jera. Sayangnya, Sofiyah kerap kewalahan dengan tingkah laku anaknya yang susah diatur karena kecanduan gawai.

Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh Sofiyah juga berpotensi dilakukan oleh orang tua lainnya. Sebab, ketika penggunaan gawai itu sudah berdampak ke anak, misalnya kecanduan, maka orang tua akan mulai panik. Biasanya, mereka akan cenderung menyalahkan si anak. Padahal, penggunaan gawai seperti bumerang bagi orang tua. “Nah, gadget itu suatu barang yang lumrah digunakan. Padahal, kalau di luar negeri, mereka cenderung memberikan batasan terhadap penggunaan HP. Mulai dari siapa yang menggunakan hingga berapa lama,” terang Marisa Selvy Helphiana, seorang psikolog.

Warga Jalan MH Thamrin, Kecamatan Kaliwates, tersebut menjelaskan, sejatinya ada batasan penggunaan HP pada usia tertentu. Contohnya pada usia 0-2 tahun, mereka sama sekali tidak diperbolehkan menggunakan gawai. Pada usia 3-5 tahun, paling lama satu jam per hari. Sedangkan pada anak umur 6-18 tahun hanya boleh menggunakan dua jam per hari. “Faktanya, empat kali lipat dari porsi yang seharusnya,” ungkapnya.

Biasanya, ada banyak alasan kenapa orang tua memberikan gawai kepada anak. Pertama, supaya tidak rewel atau tidak mengganggu aktivitas orang tua. Kedua, sebagai media penghibur karena si anak tak memiliki teman. “Ketiga, akibat tidak adanya kehangatan di rumah. Orang tua sama-sama sibuk dan hanya bersama baby sitter,” terang perempuan yang akrab disapa Icha tersebut.

Bahkan, karena tak adanya pengakuan alias dikucilkan, si anak mengurung diri dan menghabiskan waktu dengan HP. Alasan lain, biasanya si anak merupakan korban perundungan dan membuat gawai sebagai hiburan. Hanya saja, penggunaan yang terlalu berlebihan tersebut justru berdampak terhadap penggunanya. Terutama kepada anak-anak. “Di antaranya, munculnya hambatan perilaku seperti penurunan konsentrasi dan defisit perhatian,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/