alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Tolak Tambang Tanpa Syarat

Warga Paseban Bereaksi, Melawan Eksploitasi Pasir Besi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Warga Desa Paseban, Kecamatan Kencong, kembali bergejolak. Ini menyusul isu penambangan pasir besi di Pantai Paseban yang akan dilakukan PT Agtika Dwisejahtera. Isu itu semakin santer setelah berdirinya bangunan semi permanen di bibir pantai, serta beredarnya surat pemberitahuan tentang rencana penambangan tersebut. Warga pun bereaksi. Mereka kompak melakukan perlawanan.

Aksi perlawanan itu ramai diperbincangkan sejak Kamis (17/12) malam. Warga melakukan konsolidasi secara langsung, hingga menggalang dukungan melalui aplikasi percakapan WhatsApp. Puncaknya, warga berbondong-bondong mendatangi bangunan semi permanen di bibir pantai Dusun Bulurejo, kemarin (18/12). Bangunan berbentuk kotak itu digotong ramai-ramai dan diamankan ke balai desa setempat.

Irham, salah seorang warga Paseban yang turut menolak tambang besi, bersama-sama warga lainnya menggotong bangunan semi permanen menuju balai desa. Pemuda 23 tahun ini mengaku, ia datang ke lokasi karena menolak apa pun bentuk tambang di Pantai Paseban. Tanpa syarat. “Tujuan ke sini akan menjaga dan memindahkan bersama-sama ke kantor desa,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sekretaris Desa Paseban Zakaria mengatakan, warganya menjadi resah pascakemunculan bangunan asing yang didirikan oleh orang tak dikenal di bibir pantai itu. Guna membuat situasi kembali kondusif, bangunan semi permanen tersebut selanjutnya diangkat bersama-sama untuk dibawa ke balai desa. “Bangunan terbuat dari galvalum itu diduga milik PT Agtika Dwisejahtera,” katanya.

Sementara itu, Plt Camat Kencong Bambang Erwin Setiono mengatakan, sejak beberapa hari terakhir, Muspika Kencong memang disibukkan dengan gejolak warga di Paseban. Pihaknya berkonsentrasi agar situasi tetap kondusif, sehingga peristiwa memanas yang terjadi beberapa tahun lalu akibat rencana penambangan tidak terulang kembali di Paseban. Dia pun meminta, sebelum investor melakukan eksploitasi tambang, harus ada izin yang lengkap, serta berkoordinasi dengan muspika dan pemerintah desa.

Sebelumnya, beredar surat yang berkop PT Agtika Dwisejahtera yang ditujukan ke Camat Kencong. Warkat bertanggal 15 Desember itu berisi tentang pemberitahuan rencana penambangan pasir besi di kawasan pantai Desa Paseban. Jawa Pos Radar Jember berusaha mengonfirmasi ke PT Agtika Dwisejahtera melalui nomor ponsel yang tercantum dalam surat. Namun, nomor tersebut tak bisa dihubungi.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Warga Desa Paseban, Kecamatan Kencong, kembali bergejolak. Ini menyusul isu penambangan pasir besi di Pantai Paseban yang akan dilakukan PT Agtika Dwisejahtera. Isu itu semakin santer setelah berdirinya bangunan semi permanen di bibir pantai, serta beredarnya surat pemberitahuan tentang rencana penambangan tersebut. Warga pun bereaksi. Mereka kompak melakukan perlawanan.

Aksi perlawanan itu ramai diperbincangkan sejak Kamis (17/12) malam. Warga melakukan konsolidasi secara langsung, hingga menggalang dukungan melalui aplikasi percakapan WhatsApp. Puncaknya, warga berbondong-bondong mendatangi bangunan semi permanen di bibir pantai Dusun Bulurejo, kemarin (18/12). Bangunan berbentuk kotak itu digotong ramai-ramai dan diamankan ke balai desa setempat.

Irham, salah seorang warga Paseban yang turut menolak tambang besi, bersama-sama warga lainnya menggotong bangunan semi permanen menuju balai desa. Pemuda 23 tahun ini mengaku, ia datang ke lokasi karena menolak apa pun bentuk tambang di Pantai Paseban. Tanpa syarat. “Tujuan ke sini akan menjaga dan memindahkan bersama-sama ke kantor desa,” ucapnya.

Sekretaris Desa Paseban Zakaria mengatakan, warganya menjadi resah pascakemunculan bangunan asing yang didirikan oleh orang tak dikenal di bibir pantai itu. Guna membuat situasi kembali kondusif, bangunan semi permanen tersebut selanjutnya diangkat bersama-sama untuk dibawa ke balai desa. “Bangunan terbuat dari galvalum itu diduga milik PT Agtika Dwisejahtera,” katanya.

Sementara itu, Plt Camat Kencong Bambang Erwin Setiono mengatakan, sejak beberapa hari terakhir, Muspika Kencong memang disibukkan dengan gejolak warga di Paseban. Pihaknya berkonsentrasi agar situasi tetap kondusif, sehingga peristiwa memanas yang terjadi beberapa tahun lalu akibat rencana penambangan tidak terulang kembali di Paseban. Dia pun meminta, sebelum investor melakukan eksploitasi tambang, harus ada izin yang lengkap, serta berkoordinasi dengan muspika dan pemerintah desa.

Sebelumnya, beredar surat yang berkop PT Agtika Dwisejahtera yang ditujukan ke Camat Kencong. Warkat bertanggal 15 Desember itu berisi tentang pemberitahuan rencana penambangan pasir besi di kawasan pantai Desa Paseban. Jawa Pos Radar Jember berusaha mengonfirmasi ke PT Agtika Dwisejahtera melalui nomor ponsel yang tercantum dalam surat. Namun, nomor tersebut tak bisa dihubungi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Warga Desa Paseban, Kecamatan Kencong, kembali bergejolak. Ini menyusul isu penambangan pasir besi di Pantai Paseban yang akan dilakukan PT Agtika Dwisejahtera. Isu itu semakin santer setelah berdirinya bangunan semi permanen di bibir pantai, serta beredarnya surat pemberitahuan tentang rencana penambangan tersebut. Warga pun bereaksi. Mereka kompak melakukan perlawanan.

Aksi perlawanan itu ramai diperbincangkan sejak Kamis (17/12) malam. Warga melakukan konsolidasi secara langsung, hingga menggalang dukungan melalui aplikasi percakapan WhatsApp. Puncaknya, warga berbondong-bondong mendatangi bangunan semi permanen di bibir pantai Dusun Bulurejo, kemarin (18/12). Bangunan berbentuk kotak itu digotong ramai-ramai dan diamankan ke balai desa setempat.

Irham, salah seorang warga Paseban yang turut menolak tambang besi, bersama-sama warga lainnya menggotong bangunan semi permanen menuju balai desa. Pemuda 23 tahun ini mengaku, ia datang ke lokasi karena menolak apa pun bentuk tambang di Pantai Paseban. Tanpa syarat. “Tujuan ke sini akan menjaga dan memindahkan bersama-sama ke kantor desa,” ucapnya.

Sekretaris Desa Paseban Zakaria mengatakan, warganya menjadi resah pascakemunculan bangunan asing yang didirikan oleh orang tak dikenal di bibir pantai itu. Guna membuat situasi kembali kondusif, bangunan semi permanen tersebut selanjutnya diangkat bersama-sama untuk dibawa ke balai desa. “Bangunan terbuat dari galvalum itu diduga milik PT Agtika Dwisejahtera,” katanya.

Sementara itu, Plt Camat Kencong Bambang Erwin Setiono mengatakan, sejak beberapa hari terakhir, Muspika Kencong memang disibukkan dengan gejolak warga di Paseban. Pihaknya berkonsentrasi agar situasi tetap kondusif, sehingga peristiwa memanas yang terjadi beberapa tahun lalu akibat rencana penambangan tidak terulang kembali di Paseban. Dia pun meminta, sebelum investor melakukan eksploitasi tambang, harus ada izin yang lengkap, serta berkoordinasi dengan muspika dan pemerintah desa.

Sebelumnya, beredar surat yang berkop PT Agtika Dwisejahtera yang ditujukan ke Camat Kencong. Warkat bertanggal 15 Desember itu berisi tentang pemberitahuan rencana penambangan pasir besi di kawasan pantai Desa Paseban. Jawa Pos Radar Jember berusaha mengonfirmasi ke PT Agtika Dwisejahtera melalui nomor ponsel yang tercantum dalam surat. Namun, nomor tersebut tak bisa dihubungi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/