alexametrics
27.5 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Saat Sungai Banjir, Badan Bisa Hanyut Terseret Arus

Perjuangan Mat Sulaiman dan Heri benar-benar tak bisa disepelekan. Keduanya tetap bertahan menjadi pencari pasir di sungai dengan menggunakan alat seadanya. Meski hasil yang didapat tidak seberapa, namun mereka enggan berpangku tangan. Yang penting bisa membawa uang walau hanya untuk membeli sejumlah beras.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak pagi hujan mulai mengguyur wilayah Kecamatan Ambulu. Namun, kondisi ini tak dihiraukan oleh Mat Sulaiman, 51, dan Heri, 50, dua pencari pasir. Dengan cekatan mereka turun ke Sungai Kalimayang di Dusun Krajan, Desa Amdongsari, Kecamatan Ambulu.

Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Apalagi di musim hujan, debit air Sungai Kalimayang bertambah. Arus pun semakin deras. Hal tersebut membuat risiko berkali-kali lebih besar.

Keduanya membawa alat sederhana berupa sungkro atau serok yang terbuat dari pelat, yang digunakan untuk mencari pasir secara manual. Serok yang digunakan untuk mengambil pasir dari dasar sungai itu berukuran 35 x 50 sentimeter dengan dua pegangan. Nah, untuk bisa mendapatkan pasir di dasar sungai, mereka harus menyelam selama 30 detik. Namun, belum tentu pasir yang diambil di dasar sungai itu langsung didapat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Apalagi, saat arus bawah sungai itu deras, risikonya mereka bisa hanyut sampai sekitar 10 meter dari awal menyelam. Pasir yang diambil dari dasar juga belum pasti. Terkadang saat diangkat, pasir hilang terbawa arus air sungai. Berat pasir yang di dalam sungkro itu bisa mencapai 40 hingga 50 kilogram. “Kalau masih di sungai beratnya tidak seberapa. Tapi, kalau sudah diangkat yang lumayan,” tutur Sulaiman kala beristirahat di pinggir sungai.

Dari dasar sungai, Sulaiman harus naik ke atas dengan jarak 20 meter dan kondisi jalan yang licin. “Kalau hanyut saat menyelam itu sudah biasa, karena arus bawah itu cukup deras apalagi pas sungai banjir,” katanya. Sering juga saat menyelam ke dasar sungai, pasir yang diambil malah tidak ada.

Kedalaman sungai yang diambil pasirnya itu pun mencapai leher orang dewasa. Saat menyelam, keduanya menahan napas selama 30 detik.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak pagi hujan mulai mengguyur wilayah Kecamatan Ambulu. Namun, kondisi ini tak dihiraukan oleh Mat Sulaiman, 51, dan Heri, 50, dua pencari pasir. Dengan cekatan mereka turun ke Sungai Kalimayang di Dusun Krajan, Desa Amdongsari, Kecamatan Ambulu.

Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Apalagi di musim hujan, debit air Sungai Kalimayang bertambah. Arus pun semakin deras. Hal tersebut membuat risiko berkali-kali lebih besar.

Keduanya membawa alat sederhana berupa sungkro atau serok yang terbuat dari pelat, yang digunakan untuk mencari pasir secara manual. Serok yang digunakan untuk mengambil pasir dari dasar sungai itu berukuran 35 x 50 sentimeter dengan dua pegangan. Nah, untuk bisa mendapatkan pasir di dasar sungai, mereka harus menyelam selama 30 detik. Namun, belum tentu pasir yang diambil di dasar sungai itu langsung didapat.

Apalagi, saat arus bawah sungai itu deras, risikonya mereka bisa hanyut sampai sekitar 10 meter dari awal menyelam. Pasir yang diambil dari dasar juga belum pasti. Terkadang saat diangkat, pasir hilang terbawa arus air sungai. Berat pasir yang di dalam sungkro itu bisa mencapai 40 hingga 50 kilogram. “Kalau masih di sungai beratnya tidak seberapa. Tapi, kalau sudah diangkat yang lumayan,” tutur Sulaiman kala beristirahat di pinggir sungai.

Dari dasar sungai, Sulaiman harus naik ke atas dengan jarak 20 meter dan kondisi jalan yang licin. “Kalau hanyut saat menyelam itu sudah biasa, karena arus bawah itu cukup deras apalagi pas sungai banjir,” katanya. Sering juga saat menyelam ke dasar sungai, pasir yang diambil malah tidak ada.

Kedalaman sungai yang diambil pasirnya itu pun mencapai leher orang dewasa. Saat menyelam, keduanya menahan napas selama 30 detik.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak pagi hujan mulai mengguyur wilayah Kecamatan Ambulu. Namun, kondisi ini tak dihiraukan oleh Mat Sulaiman, 51, dan Heri, 50, dua pencari pasir. Dengan cekatan mereka turun ke Sungai Kalimayang di Dusun Krajan, Desa Amdongsari, Kecamatan Ambulu.

Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Apalagi di musim hujan, debit air Sungai Kalimayang bertambah. Arus pun semakin deras. Hal tersebut membuat risiko berkali-kali lebih besar.

Keduanya membawa alat sederhana berupa sungkro atau serok yang terbuat dari pelat, yang digunakan untuk mencari pasir secara manual. Serok yang digunakan untuk mengambil pasir dari dasar sungai itu berukuran 35 x 50 sentimeter dengan dua pegangan. Nah, untuk bisa mendapatkan pasir di dasar sungai, mereka harus menyelam selama 30 detik. Namun, belum tentu pasir yang diambil di dasar sungai itu langsung didapat.

Apalagi, saat arus bawah sungai itu deras, risikonya mereka bisa hanyut sampai sekitar 10 meter dari awal menyelam. Pasir yang diambil dari dasar juga belum pasti. Terkadang saat diangkat, pasir hilang terbawa arus air sungai. Berat pasir yang di dalam sungkro itu bisa mencapai 40 hingga 50 kilogram. “Kalau masih di sungai beratnya tidak seberapa. Tapi, kalau sudah diangkat yang lumayan,” tutur Sulaiman kala beristirahat di pinggir sungai.

Dari dasar sungai, Sulaiman harus naik ke atas dengan jarak 20 meter dan kondisi jalan yang licin. “Kalau hanyut saat menyelam itu sudah biasa, karena arus bawah itu cukup deras apalagi pas sungai banjir,” katanya. Sering juga saat menyelam ke dasar sungai, pasir yang diambil malah tidak ada.

Kedalaman sungai yang diambil pasirnya itu pun mencapai leher orang dewasa. Saat menyelam, keduanya menahan napas selama 30 detik.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/