alexametrics
23.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Pelecehan Seksual Pindah ke Dunia Maya

Dampak Kebijakan Work from Home (WFH)

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam situasi kerja dari rumah akibat pandemi Covid-19, para pekerja ternyata masih rentan terkena pelecehan seksual. Bukan lagi di kantor, para pelaku kini melancarkan aksinya melalui media teknologi komunikasi digital seperti aplikasi pesan, media sosial, dan webinar.

Pelecehan seksual selama WFH itu terjadi di sarana yang berbeda-beda, karena selama WFH para karyawan menggunakan lebih dari satu sarana teknologi komunikasi. Khumairoh, salah satu karyawan ekspedisi yang menangani pendataan barang, mengatakan, selama ini dirinya rentan mendapat perlakuan pelecehan seksual.

Tak hanya Khumairoh, Ayu, seorang guru SD negeri di Jember, juga demikian. Terakhir adalah Maya, fotografer freelance yang banyak menghabiskan waktu bekerja melalui dunia online.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketiganya mengaku sering mendapat pelecehan seksual berupa candaan seksual yang tidak layak untuk disimak. Bahkan, Ayu secara terang-terangan sering mendapat kiriman video dan foto vulgar melalui akun WhatsApp dan Instagram pribadinya. “Misalnya ada yang butuh bercanda bareng teman-teman kantor, candaan seksual yang relatif vulgar. Risi banget,” jelas Ayu, Jumat (17/12).

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember, Erwin Nur Rif’ah, mengatakan bahwa fenomena tersebut mengindikasikan budaya pemakluman atau normalisasi terhadap bentuk pelecehan masih sangat kuat. Terlebih jika dilakukan melalui media online, risiko bahayanya lebih tinggi. Sebab, jejak dunia digital tidak mudah untuk dihapus.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam situasi kerja dari rumah akibat pandemi Covid-19, para pekerja ternyata masih rentan terkena pelecehan seksual. Bukan lagi di kantor, para pelaku kini melancarkan aksinya melalui media teknologi komunikasi digital seperti aplikasi pesan, media sosial, dan webinar.

Pelecehan seksual selama WFH itu terjadi di sarana yang berbeda-beda, karena selama WFH para karyawan menggunakan lebih dari satu sarana teknologi komunikasi. Khumairoh, salah satu karyawan ekspedisi yang menangani pendataan barang, mengatakan, selama ini dirinya rentan mendapat perlakuan pelecehan seksual.

Tak hanya Khumairoh, Ayu, seorang guru SD negeri di Jember, juga demikian. Terakhir adalah Maya, fotografer freelance yang banyak menghabiskan waktu bekerja melalui dunia online.

Ketiganya mengaku sering mendapat pelecehan seksual berupa candaan seksual yang tidak layak untuk disimak. Bahkan, Ayu secara terang-terangan sering mendapat kiriman video dan foto vulgar melalui akun WhatsApp dan Instagram pribadinya. “Misalnya ada yang butuh bercanda bareng teman-teman kantor, candaan seksual yang relatif vulgar. Risi banget,” jelas Ayu, Jumat (17/12).

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember, Erwin Nur Rif’ah, mengatakan bahwa fenomena tersebut mengindikasikan budaya pemakluman atau normalisasi terhadap bentuk pelecehan masih sangat kuat. Terlebih jika dilakukan melalui media online, risiko bahayanya lebih tinggi. Sebab, jejak dunia digital tidak mudah untuk dihapus.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam situasi kerja dari rumah akibat pandemi Covid-19, para pekerja ternyata masih rentan terkena pelecehan seksual. Bukan lagi di kantor, para pelaku kini melancarkan aksinya melalui media teknologi komunikasi digital seperti aplikasi pesan, media sosial, dan webinar.

Pelecehan seksual selama WFH itu terjadi di sarana yang berbeda-beda, karena selama WFH para karyawan menggunakan lebih dari satu sarana teknologi komunikasi. Khumairoh, salah satu karyawan ekspedisi yang menangani pendataan barang, mengatakan, selama ini dirinya rentan mendapat perlakuan pelecehan seksual.

Tak hanya Khumairoh, Ayu, seorang guru SD negeri di Jember, juga demikian. Terakhir adalah Maya, fotografer freelance yang banyak menghabiskan waktu bekerja melalui dunia online.

Ketiganya mengaku sering mendapat pelecehan seksual berupa candaan seksual yang tidak layak untuk disimak. Bahkan, Ayu secara terang-terangan sering mendapat kiriman video dan foto vulgar melalui akun WhatsApp dan Instagram pribadinya. “Misalnya ada yang butuh bercanda bareng teman-teman kantor, candaan seksual yang relatif vulgar. Risi banget,” jelas Ayu, Jumat (17/12).

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember, Erwin Nur Rif’ah, mengatakan bahwa fenomena tersebut mengindikasikan budaya pemakluman atau normalisasi terhadap bentuk pelecehan masih sangat kuat. Terlebih jika dilakukan melalui media online, risiko bahayanya lebih tinggi. Sebab, jejak dunia digital tidak mudah untuk dihapus.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/