23.1 C
Jember
Tuesday, 21 March 2023

Siapkan Motif Watukebo di Ajang Lomba Batik Khas Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

ANDONGSARI, RADARJEMBER.ID – Menggeluti usaha seni tentu membutuhkan niat dan latihan yang tak tanggung-tanggung. Di bidang seni membatik salah satunya. Kerajinan yang digarap secara manual ini tak bisa sembarangan dilakukan. Tak heran jika hampir setiap pembatik sampai rela mendaftar dan mengikuti pelatihan hingga ke daerah-daerah luar.

Namun, berbeda dengan yang dilakukan Khusnul Muarifah. Pemilik usaha KH Batik Andongsari ini terjun di dunia batik karena ketidaksengajaan yang terjadi pada 2017 silam. Dirinya iseng mengikuti latihan seni membatik di balai desa, hanya karena ingin memenuhi kuota yang tersisa. Pasalnya, pelatihan batik itu hanya diperuntukkan bagi anak sekolah saja. “Pelatihannya khusus untuk anak sekolah, karena kuotanya kurang, akhirnya nyari ibu-ibu, siapa pun yang mau. Saya iseng saja, ya, saya coba ikut,” katanya.

Pelatihan tersebut akhirnya berjalan selama 30 hari. Selama mengikuti proses pelatihan, dirinya tak pernah diberi tahu seperti apa hasil karyanya nanti. “Mulai dari menggambar, saya tekuni terus. Dan waktu itu belum tahu bakalan seperti apa hasil batiknya. Saya terus saja menggambar, mencanting, sampai finishing. Kemudian, di hari terakhir pelatihan, saya baru ngerti ternyata seperti ini karya saya,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ia pun meyakini, batik bukan hanya bisa dibuat karena bakat, namun juga karena ketekunan dan keterampilan. Berkat ketekunan tersebut, dia akhirnya mencoba membuat lagi karya batik secara mandiri. Beberapa hasil karyanya ia perkenalkan melalui pameran, tetangga-tetangga, dan teman-temannya. Sedikit demi sedikit, batik buatan Khusnul pun mulai diminati dan dibeli masyarakat.

“Jadi, dulu bikin dua batik, setelah itu ada pameran akhirnya disertakan ikut. Akhirnya laku, dan tambah semangat lagi. Yang bikin semangat itu hasil awal bisa laku terjual. Akhirnya saya terus produksi lebih banyak lagi,” terangnya.

Tak puas dengan mengikuti pameran dan belajar secara mandiri, Khusnul pun aktif berlaga di kompetisi. Salah satu lomba yang dia ikuti saat ini adalah lomba motif batik yang digelar oleh Pemkab Jember melalui Dinas Koperasi dan UMKM bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Jember. “Atas keinginan sendiri, saya mencoba ikut lomba desain ini. Karena sebelumnya memang belum pernah mengikuti lomba,” tuturnya.

Dalam mengikuti lomba itu, dia menyiapkan motif istimewa yang merepresentasikan potensi salah satu daerah di Kabupaten Jember, yaitu Dusun Watukebo, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu. Dusun yang menjadi tempat tinggalnya itu sangat bermakna baginya.

Dia menciptakan motif batik Selomaeso. Yakni menceritakan Dusun Watukebo yang juga merupakan salah satu cerita rakyat, bahwa dulunya ada sebuah kerbau yang keras seperti batu. “Dominan motif saya yang saya ambil itu, dari tanduk kerbau. Jadi, tanduknya bermakna untuk melambangkan kekuatan hati,” pungkasnya.

Reporter : Delfi Nihayah

Fotografer : Khusnul Muarifah for Radar Jember

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti

- Advertisement -

ANDONGSARI, RADARJEMBER.ID – Menggeluti usaha seni tentu membutuhkan niat dan latihan yang tak tanggung-tanggung. Di bidang seni membatik salah satunya. Kerajinan yang digarap secara manual ini tak bisa sembarangan dilakukan. Tak heran jika hampir setiap pembatik sampai rela mendaftar dan mengikuti pelatihan hingga ke daerah-daerah luar.

Namun, berbeda dengan yang dilakukan Khusnul Muarifah. Pemilik usaha KH Batik Andongsari ini terjun di dunia batik karena ketidaksengajaan yang terjadi pada 2017 silam. Dirinya iseng mengikuti latihan seni membatik di balai desa, hanya karena ingin memenuhi kuota yang tersisa. Pasalnya, pelatihan batik itu hanya diperuntukkan bagi anak sekolah saja. “Pelatihannya khusus untuk anak sekolah, karena kuotanya kurang, akhirnya nyari ibu-ibu, siapa pun yang mau. Saya iseng saja, ya, saya coba ikut,” katanya.

Pelatihan tersebut akhirnya berjalan selama 30 hari. Selama mengikuti proses pelatihan, dirinya tak pernah diberi tahu seperti apa hasil karyanya nanti. “Mulai dari menggambar, saya tekuni terus. Dan waktu itu belum tahu bakalan seperti apa hasil batiknya. Saya terus saja menggambar, mencanting, sampai finishing. Kemudian, di hari terakhir pelatihan, saya baru ngerti ternyata seperti ini karya saya,” ungkapnya.

Ia pun meyakini, batik bukan hanya bisa dibuat karena bakat, namun juga karena ketekunan dan keterampilan. Berkat ketekunan tersebut, dia akhirnya mencoba membuat lagi karya batik secara mandiri. Beberapa hasil karyanya ia perkenalkan melalui pameran, tetangga-tetangga, dan teman-temannya. Sedikit demi sedikit, batik buatan Khusnul pun mulai diminati dan dibeli masyarakat.

“Jadi, dulu bikin dua batik, setelah itu ada pameran akhirnya disertakan ikut. Akhirnya laku, dan tambah semangat lagi. Yang bikin semangat itu hasil awal bisa laku terjual. Akhirnya saya terus produksi lebih banyak lagi,” terangnya.

Tak puas dengan mengikuti pameran dan belajar secara mandiri, Khusnul pun aktif berlaga di kompetisi. Salah satu lomba yang dia ikuti saat ini adalah lomba motif batik yang digelar oleh Pemkab Jember melalui Dinas Koperasi dan UMKM bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Jember. “Atas keinginan sendiri, saya mencoba ikut lomba desain ini. Karena sebelumnya memang belum pernah mengikuti lomba,” tuturnya.

Dalam mengikuti lomba itu, dia menyiapkan motif istimewa yang merepresentasikan potensi salah satu daerah di Kabupaten Jember, yaitu Dusun Watukebo, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu. Dusun yang menjadi tempat tinggalnya itu sangat bermakna baginya.

Dia menciptakan motif batik Selomaeso. Yakni menceritakan Dusun Watukebo yang juga merupakan salah satu cerita rakyat, bahwa dulunya ada sebuah kerbau yang keras seperti batu. “Dominan motif saya yang saya ambil itu, dari tanduk kerbau. Jadi, tanduknya bermakna untuk melambangkan kekuatan hati,” pungkasnya.

Reporter : Delfi Nihayah

Fotografer : Khusnul Muarifah for Radar Jember

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti

ANDONGSARI, RADARJEMBER.ID – Menggeluti usaha seni tentu membutuhkan niat dan latihan yang tak tanggung-tanggung. Di bidang seni membatik salah satunya. Kerajinan yang digarap secara manual ini tak bisa sembarangan dilakukan. Tak heran jika hampir setiap pembatik sampai rela mendaftar dan mengikuti pelatihan hingga ke daerah-daerah luar.

Namun, berbeda dengan yang dilakukan Khusnul Muarifah. Pemilik usaha KH Batik Andongsari ini terjun di dunia batik karena ketidaksengajaan yang terjadi pada 2017 silam. Dirinya iseng mengikuti latihan seni membatik di balai desa, hanya karena ingin memenuhi kuota yang tersisa. Pasalnya, pelatihan batik itu hanya diperuntukkan bagi anak sekolah saja. “Pelatihannya khusus untuk anak sekolah, karena kuotanya kurang, akhirnya nyari ibu-ibu, siapa pun yang mau. Saya iseng saja, ya, saya coba ikut,” katanya.

Pelatihan tersebut akhirnya berjalan selama 30 hari. Selama mengikuti proses pelatihan, dirinya tak pernah diberi tahu seperti apa hasil karyanya nanti. “Mulai dari menggambar, saya tekuni terus. Dan waktu itu belum tahu bakalan seperti apa hasil batiknya. Saya terus saja menggambar, mencanting, sampai finishing. Kemudian, di hari terakhir pelatihan, saya baru ngerti ternyata seperti ini karya saya,” ungkapnya.

Ia pun meyakini, batik bukan hanya bisa dibuat karena bakat, namun juga karena ketekunan dan keterampilan. Berkat ketekunan tersebut, dia akhirnya mencoba membuat lagi karya batik secara mandiri. Beberapa hasil karyanya ia perkenalkan melalui pameran, tetangga-tetangga, dan teman-temannya. Sedikit demi sedikit, batik buatan Khusnul pun mulai diminati dan dibeli masyarakat.

“Jadi, dulu bikin dua batik, setelah itu ada pameran akhirnya disertakan ikut. Akhirnya laku, dan tambah semangat lagi. Yang bikin semangat itu hasil awal bisa laku terjual. Akhirnya saya terus produksi lebih banyak lagi,” terangnya.

Tak puas dengan mengikuti pameran dan belajar secara mandiri, Khusnul pun aktif berlaga di kompetisi. Salah satu lomba yang dia ikuti saat ini adalah lomba motif batik yang digelar oleh Pemkab Jember melalui Dinas Koperasi dan UMKM bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Jember. “Atas keinginan sendiri, saya mencoba ikut lomba desain ini. Karena sebelumnya memang belum pernah mengikuti lomba,” tuturnya.

Dalam mengikuti lomba itu, dia menyiapkan motif istimewa yang merepresentasikan potensi salah satu daerah di Kabupaten Jember, yaitu Dusun Watukebo, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu. Dusun yang menjadi tempat tinggalnya itu sangat bermakna baginya.

Dia menciptakan motif batik Selomaeso. Yakni menceritakan Dusun Watukebo yang juga merupakan salah satu cerita rakyat, bahwa dulunya ada sebuah kerbau yang keras seperti batu. “Dominan motif saya yang saya ambil itu, dari tanduk kerbau. Jadi, tanduknya bermakna untuk melambangkan kekuatan hati,” pungkasnya.

Reporter : Delfi Nihayah

Fotografer : Khusnul Muarifah for Radar Jember

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca