alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

64 Persen Persalinan Caesar di Jember, ini sebabnya

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Dinas Kesehatan Kabupaten Jember mengungkap data bahwa banyak rumah sakit menjalankan tindakan persalinan dengan operasi Caesar selama pandemi ini. Ini disebabkan kondisi ibu hamil yang rentan dan memiliki komorbid, sehingga perlu perhatian khusus dari tenaga kesehatan.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember Lilik Lailiyah menjelaskan, hal ini merupakan hasil laporan 11 rumah sakit dari 13 rumah sakit yang melayani persalinan. “Evaluasi data dari seluruh rumah sakit, 64 persen rumah sakit melayani SC (sectio caesaria, Red). 71 persen karena Covid-19 yang memiliki penyakit bawaan. SOP-nya yang Covid di-SC. Tapi banyak juga yang tidak Covid-19 namun tetap di-SC,” kata Lilik, Senin (18/10), seusai memberikan pemaparan penanganan AKI/AKB di Aula Dinas Pendidikan.

Secara terperinci, pihaknya tidak bisa melihat rumah sakit mana saja yang melayani SC. Umumnya, ibu hamil dengan penanganan khusus telah memiliki gejala sebelumnya. “Biasanya puskesmas melayani ibu hamil dengan Covid-19. Apakah ini ada gejala atau tidak,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Padahal, menurut dia, persalinan dengan cara SC dapat diminimalisasi manakala sudah mengenal lebih dini risiko yang ada pada ibu hamil. Sebagai evaluasi, seharusnya mengenal lebih dini risiko yang ada pada ibu hamil, sehingga perkembangannya bisa terpantau.

“Sebenarnya kalau kita mengenal risiko tinggi pada ibu hamil, mungkin bisa tanpa harus Caesar. Evaluasi kita kalau dari ibu-ibu PKK atau mengenal lebih dini risiko yang ada pada ibu hamil, bisa di pantau. Sehingga meminimalisasi adanya SC,” jelasnya.

Selain karena Covid-19, tingginya SC juga disebabkan rendahnya antisipasi dini ibu hamil. Dengan vakumnya rumah tunggu di beberapa kecamatan yang sudah ada, juga menjadi penyebab cabang tingginya ibu hamil yang tak tertolong saat bersalin. Sebab, tidak ada langkah preventif melalui pantauan sejak dini.

- Advertisement -

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Dinas Kesehatan Kabupaten Jember mengungkap data bahwa banyak rumah sakit menjalankan tindakan persalinan dengan operasi Caesar selama pandemi ini. Ini disebabkan kondisi ibu hamil yang rentan dan memiliki komorbid, sehingga perlu perhatian khusus dari tenaga kesehatan.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember Lilik Lailiyah menjelaskan, hal ini merupakan hasil laporan 11 rumah sakit dari 13 rumah sakit yang melayani persalinan. “Evaluasi data dari seluruh rumah sakit, 64 persen rumah sakit melayani SC (sectio caesaria, Red). 71 persen karena Covid-19 yang memiliki penyakit bawaan. SOP-nya yang Covid di-SC. Tapi banyak juga yang tidak Covid-19 namun tetap di-SC,” kata Lilik, Senin (18/10), seusai memberikan pemaparan penanganan AKI/AKB di Aula Dinas Pendidikan.

Secara terperinci, pihaknya tidak bisa melihat rumah sakit mana saja yang melayani SC. Umumnya, ibu hamil dengan penanganan khusus telah memiliki gejala sebelumnya. “Biasanya puskesmas melayani ibu hamil dengan Covid-19. Apakah ini ada gejala atau tidak,” ungkapnya.

Padahal, menurut dia, persalinan dengan cara SC dapat diminimalisasi manakala sudah mengenal lebih dini risiko yang ada pada ibu hamil. Sebagai evaluasi, seharusnya mengenal lebih dini risiko yang ada pada ibu hamil, sehingga perkembangannya bisa terpantau.

“Sebenarnya kalau kita mengenal risiko tinggi pada ibu hamil, mungkin bisa tanpa harus Caesar. Evaluasi kita kalau dari ibu-ibu PKK atau mengenal lebih dini risiko yang ada pada ibu hamil, bisa di pantau. Sehingga meminimalisasi adanya SC,” jelasnya.

Selain karena Covid-19, tingginya SC juga disebabkan rendahnya antisipasi dini ibu hamil. Dengan vakumnya rumah tunggu di beberapa kecamatan yang sudah ada, juga menjadi penyebab cabang tingginya ibu hamil yang tak tertolong saat bersalin. Sebab, tidak ada langkah preventif melalui pantauan sejak dini.

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Dinas Kesehatan Kabupaten Jember mengungkap data bahwa banyak rumah sakit menjalankan tindakan persalinan dengan operasi Caesar selama pandemi ini. Ini disebabkan kondisi ibu hamil yang rentan dan memiliki komorbid, sehingga perlu perhatian khusus dari tenaga kesehatan.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember Lilik Lailiyah menjelaskan, hal ini merupakan hasil laporan 11 rumah sakit dari 13 rumah sakit yang melayani persalinan. “Evaluasi data dari seluruh rumah sakit, 64 persen rumah sakit melayani SC (sectio caesaria, Red). 71 persen karena Covid-19 yang memiliki penyakit bawaan. SOP-nya yang Covid di-SC. Tapi banyak juga yang tidak Covid-19 namun tetap di-SC,” kata Lilik, Senin (18/10), seusai memberikan pemaparan penanganan AKI/AKB di Aula Dinas Pendidikan.

Secara terperinci, pihaknya tidak bisa melihat rumah sakit mana saja yang melayani SC. Umumnya, ibu hamil dengan penanganan khusus telah memiliki gejala sebelumnya. “Biasanya puskesmas melayani ibu hamil dengan Covid-19. Apakah ini ada gejala atau tidak,” ungkapnya.

Padahal, menurut dia, persalinan dengan cara SC dapat diminimalisasi manakala sudah mengenal lebih dini risiko yang ada pada ibu hamil. Sebagai evaluasi, seharusnya mengenal lebih dini risiko yang ada pada ibu hamil, sehingga perkembangannya bisa terpantau.

“Sebenarnya kalau kita mengenal risiko tinggi pada ibu hamil, mungkin bisa tanpa harus Caesar. Evaluasi kita kalau dari ibu-ibu PKK atau mengenal lebih dini risiko yang ada pada ibu hamil, bisa di pantau. Sehingga meminimalisasi adanya SC,” jelasnya.

Selain karena Covid-19, tingginya SC juga disebabkan rendahnya antisipasi dini ibu hamil. Dengan vakumnya rumah tunggu di beberapa kecamatan yang sudah ada, juga menjadi penyebab cabang tingginya ibu hamil yang tak tertolong saat bersalin. Sebab, tidak ada langkah preventif melalui pantauan sejak dini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/