alexametrics
29.6 C
Jember
Saturday, 20 August 2022

 Sodorkan Konsep Eco Green

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perencanaan dan penataan yang matang menjadi syarat mutlak bagi pembangunan eks pertokoan Jompo yang ambruk beberapa bulan lalu. Berbagai konsep dan aspek menjadi salah satu acuan dan dasar guna membenahi Jompo. Sebab, Jompo merupakan salah satu kawasan vital di pusat Kota Jember. Sudah sepatutnya menjadi perhatian bagi pemerintah.

Kepala Program Studi (Kaprodi) Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Jember Dewi Junita Koesoemawati menjelaskan, menyodorkan konsep eco green dan eco living untuk penataan ruang dan pembangunan kawasan Sungai Jompo di Jalan Sultan Agung.

Menurutnya, dua konsep itu merupakan syarat mutlak bagi pembangunan kota yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Salah satu implementasinya dengan menerapkan konsep river front. Mengingat, Kota Jember dilewati dua sungai, yaitu Sungai Bedadung dan Jompo.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dewi memaparkan, konsep water front atau river front di perkotaan merupakan solusi mengelola bantaran atau sempadan sungai. Keberadaan sempadan sungai di perkotaan sebagai ruang terbuka hijau (RTH) dapat berfungsi banyak. Di antaranya fungsi hidrologi, ekologi, kesehatan, estetika, dan rekreasi.

Fungsi hidrologi, kata Dewi, adalah seperti taman publik yang merupakan area terbuka hijau. Keberadaannya disebutnya dapat membantu penyerapan air. “Air hasil penyerapan tersebut berfungsi sebagai asupan air tanah untuk wilayah kota, sehingga dapat mencegah kekeringan,” ucapnya.

Sementara, fungsi kesehatan juga cukup penting bagi masyarakat. Selain sebagai ekosistem buatan, vegetasi yang ada pada taman publik dapat berfungsi sebagai produsen oksigen bagi kota dan sebagai penyaring udara dari polusi udara wilayah perkotaan. Selain itu, area taman dapat digunakan sebagai tempat untuk melakukan kegiatan olahraga, misalnya lari pagi atau bersepeda.

Di sisi lain, aspek apa saja yang harus diperhatikan dalam membangun sebuah kawasan? Dewi menuturkan, ada tiga aspek yang cukup penting. Pertama adalah kelengkapan infrastruktur perkotaan. Kedua, menguatkan image kota antara lain landmark. “Sehingga kawasan perkotaan mempunyai identitas,” lanjut Dewi.

Ketiga, menguatkan elemen perkotaan. Antara lain penataan sirkulasi dan parkir, jalur pedestrian atau trotoar dikembalikan fungsinya sebagai jalur pejalan kaki. Penataan ruang terbuka, pengaturan lokasi signage atau penanda seperti marka dan rambu jalan atau reklame.

Melihat kondisi Jompo yang menjadi lintas kewenangan antara kementerian dan provinsi, apakah berdampak terhadap laju perencanaan pembangunan dan tata kota? Dewi menjelaskan, dalam penataan ruang, ada kebijakan berupa dokumen perencanaan yang meliputi tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten.

“Perencanaan detail diatur melalui dokumen RDTR (rencana detail tata ruang) pada kawasan strategis dan prioritas. Sedangkan perencanaan koridor seperti Jalan Sultan Agung sebagai koridor utama perkotaan, direncanakan melalui RTBL (rencana tata bangunan dan lingkungan) koridor Jalan Sultan Agung,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perencanaan dan penataan yang matang menjadi syarat mutlak bagi pembangunan eks pertokoan Jompo yang ambruk beberapa bulan lalu. Berbagai konsep dan aspek menjadi salah satu acuan dan dasar guna membenahi Jompo. Sebab, Jompo merupakan salah satu kawasan vital di pusat Kota Jember. Sudah sepatutnya menjadi perhatian bagi pemerintah.

Kepala Program Studi (Kaprodi) Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Jember Dewi Junita Koesoemawati menjelaskan, menyodorkan konsep eco green dan eco living untuk penataan ruang dan pembangunan kawasan Sungai Jompo di Jalan Sultan Agung.

Menurutnya, dua konsep itu merupakan syarat mutlak bagi pembangunan kota yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Salah satu implementasinya dengan menerapkan konsep river front. Mengingat, Kota Jember dilewati dua sungai, yaitu Sungai Bedadung dan Jompo.

Dewi memaparkan, konsep water front atau river front di perkotaan merupakan solusi mengelola bantaran atau sempadan sungai. Keberadaan sempadan sungai di perkotaan sebagai ruang terbuka hijau (RTH) dapat berfungsi banyak. Di antaranya fungsi hidrologi, ekologi, kesehatan, estetika, dan rekreasi.

Fungsi hidrologi, kata Dewi, adalah seperti taman publik yang merupakan area terbuka hijau. Keberadaannya disebutnya dapat membantu penyerapan air. “Air hasil penyerapan tersebut berfungsi sebagai asupan air tanah untuk wilayah kota, sehingga dapat mencegah kekeringan,” ucapnya.

Sementara, fungsi kesehatan juga cukup penting bagi masyarakat. Selain sebagai ekosistem buatan, vegetasi yang ada pada taman publik dapat berfungsi sebagai produsen oksigen bagi kota dan sebagai penyaring udara dari polusi udara wilayah perkotaan. Selain itu, area taman dapat digunakan sebagai tempat untuk melakukan kegiatan olahraga, misalnya lari pagi atau bersepeda.

Di sisi lain, aspek apa saja yang harus diperhatikan dalam membangun sebuah kawasan? Dewi menuturkan, ada tiga aspek yang cukup penting. Pertama adalah kelengkapan infrastruktur perkotaan. Kedua, menguatkan image kota antara lain landmark. “Sehingga kawasan perkotaan mempunyai identitas,” lanjut Dewi.

Ketiga, menguatkan elemen perkotaan. Antara lain penataan sirkulasi dan parkir, jalur pedestrian atau trotoar dikembalikan fungsinya sebagai jalur pejalan kaki. Penataan ruang terbuka, pengaturan lokasi signage atau penanda seperti marka dan rambu jalan atau reklame.

Melihat kondisi Jompo yang menjadi lintas kewenangan antara kementerian dan provinsi, apakah berdampak terhadap laju perencanaan pembangunan dan tata kota? Dewi menjelaskan, dalam penataan ruang, ada kebijakan berupa dokumen perencanaan yang meliputi tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten.

“Perencanaan detail diatur melalui dokumen RDTR (rencana detail tata ruang) pada kawasan strategis dan prioritas. Sedangkan perencanaan koridor seperti Jalan Sultan Agung sebagai koridor utama perkotaan, direncanakan melalui RTBL (rencana tata bangunan dan lingkungan) koridor Jalan Sultan Agung,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perencanaan dan penataan yang matang menjadi syarat mutlak bagi pembangunan eks pertokoan Jompo yang ambruk beberapa bulan lalu. Berbagai konsep dan aspek menjadi salah satu acuan dan dasar guna membenahi Jompo. Sebab, Jompo merupakan salah satu kawasan vital di pusat Kota Jember. Sudah sepatutnya menjadi perhatian bagi pemerintah.

Kepala Program Studi (Kaprodi) Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Jember Dewi Junita Koesoemawati menjelaskan, menyodorkan konsep eco green dan eco living untuk penataan ruang dan pembangunan kawasan Sungai Jompo di Jalan Sultan Agung.

Menurutnya, dua konsep itu merupakan syarat mutlak bagi pembangunan kota yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Salah satu implementasinya dengan menerapkan konsep river front. Mengingat, Kota Jember dilewati dua sungai, yaitu Sungai Bedadung dan Jompo.

Dewi memaparkan, konsep water front atau river front di perkotaan merupakan solusi mengelola bantaran atau sempadan sungai. Keberadaan sempadan sungai di perkotaan sebagai ruang terbuka hijau (RTH) dapat berfungsi banyak. Di antaranya fungsi hidrologi, ekologi, kesehatan, estetika, dan rekreasi.

Fungsi hidrologi, kata Dewi, adalah seperti taman publik yang merupakan area terbuka hijau. Keberadaannya disebutnya dapat membantu penyerapan air. “Air hasil penyerapan tersebut berfungsi sebagai asupan air tanah untuk wilayah kota, sehingga dapat mencegah kekeringan,” ucapnya.

Sementara, fungsi kesehatan juga cukup penting bagi masyarakat. Selain sebagai ekosistem buatan, vegetasi yang ada pada taman publik dapat berfungsi sebagai produsen oksigen bagi kota dan sebagai penyaring udara dari polusi udara wilayah perkotaan. Selain itu, area taman dapat digunakan sebagai tempat untuk melakukan kegiatan olahraga, misalnya lari pagi atau bersepeda.

Di sisi lain, aspek apa saja yang harus diperhatikan dalam membangun sebuah kawasan? Dewi menuturkan, ada tiga aspek yang cukup penting. Pertama adalah kelengkapan infrastruktur perkotaan. Kedua, menguatkan image kota antara lain landmark. “Sehingga kawasan perkotaan mempunyai identitas,” lanjut Dewi.

Ketiga, menguatkan elemen perkotaan. Antara lain penataan sirkulasi dan parkir, jalur pedestrian atau trotoar dikembalikan fungsinya sebagai jalur pejalan kaki. Penataan ruang terbuka, pengaturan lokasi signage atau penanda seperti marka dan rambu jalan atau reklame.

Melihat kondisi Jompo yang menjadi lintas kewenangan antara kementerian dan provinsi, apakah berdampak terhadap laju perencanaan pembangunan dan tata kota? Dewi menjelaskan, dalam penataan ruang, ada kebijakan berupa dokumen perencanaan yang meliputi tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten.

“Perencanaan detail diatur melalui dokumen RDTR (rencana detail tata ruang) pada kawasan strategis dan prioritas. Sedangkan perencanaan koridor seperti Jalan Sultan Agung sebagai koridor utama perkotaan, direncanakan melalui RTBL (rencana tata bangunan dan lingkungan) koridor Jalan Sultan Agung,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/