alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Manfaatkan Cabai Sortiran untuk Diolah

Harga Cabai Merah Jember Terendah Se-Jatim

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tumpukan cabai merah besar memenuhi pelataran rumah Miskun, 65, kemarin (19/10) siang. Bersama istri dan anaknya, warga Dusun Krajan Barat, Desa/Kecamatan Ambulu, tersebut tampak sibuk memilah cabai yang masih bisa diolah menjadi bahan untuk memasak.

Dirinya mendapatkan hibah cabai dari salah seorang petani yang merugi karena pandemi. Karena tak ada pergerakan ekspor cabai ke luar negeri, harga cabai anjlok. “Karena itu, cabai yang sekiranya cacat tidak laku di pasaran diberikan kepada orang-orang,” lanjutnya.

Beruntung, Miskun menerangkan bahwa cabai ini masih bisa diawetkan. Jadi, masih bisa digunakan lain waktu. Pasalnya, harganya bisa naik kapan pun. “Apalagi pada bulan-bulan orang ramai mengadakan pernikahan,” imbuhnya. Sebelum hal tersebut terjadi, Miskun berupaya untuk merebus cabai itu, melumurinya dengan minyak, dan menjemurnya supaya bisa dimanfaatkan lain waktu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Terpisah, salah seorang petani cabai bernama Basid, 35, mengungkapkan bahwa pihaknya hanya menjual cabai yang benar-benar bagus. Hal itu terpaksa dilakukan karena cabai yang rusak sedikit saja memang tak laku di pasaran. “Karena itu, terpaksa saya bagikan kepada orang-orang,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tumpukan cabai merah besar memenuhi pelataran rumah Miskun, 65, kemarin (19/10) siang. Bersama istri dan anaknya, warga Dusun Krajan Barat, Desa/Kecamatan Ambulu, tersebut tampak sibuk memilah cabai yang masih bisa diolah menjadi bahan untuk memasak.

Dirinya mendapatkan hibah cabai dari salah seorang petani yang merugi karena pandemi. Karena tak ada pergerakan ekspor cabai ke luar negeri, harga cabai anjlok. “Karena itu, cabai yang sekiranya cacat tidak laku di pasaran diberikan kepada orang-orang,” lanjutnya.

Beruntung, Miskun menerangkan bahwa cabai ini masih bisa diawetkan. Jadi, masih bisa digunakan lain waktu. Pasalnya, harganya bisa naik kapan pun. “Apalagi pada bulan-bulan orang ramai mengadakan pernikahan,” imbuhnya. Sebelum hal tersebut terjadi, Miskun berupaya untuk merebus cabai itu, melumurinya dengan minyak, dan menjemurnya supaya bisa dimanfaatkan lain waktu.

Terpisah, salah seorang petani cabai bernama Basid, 35, mengungkapkan bahwa pihaknya hanya menjual cabai yang benar-benar bagus. Hal itu terpaksa dilakukan karena cabai yang rusak sedikit saja memang tak laku di pasaran. “Karena itu, terpaksa saya bagikan kepada orang-orang,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tumpukan cabai merah besar memenuhi pelataran rumah Miskun, 65, kemarin (19/10) siang. Bersama istri dan anaknya, warga Dusun Krajan Barat, Desa/Kecamatan Ambulu, tersebut tampak sibuk memilah cabai yang masih bisa diolah menjadi bahan untuk memasak.

Dirinya mendapatkan hibah cabai dari salah seorang petani yang merugi karena pandemi. Karena tak ada pergerakan ekspor cabai ke luar negeri, harga cabai anjlok. “Karena itu, cabai yang sekiranya cacat tidak laku di pasaran diberikan kepada orang-orang,” lanjutnya.

Beruntung, Miskun menerangkan bahwa cabai ini masih bisa diawetkan. Jadi, masih bisa digunakan lain waktu. Pasalnya, harganya bisa naik kapan pun. “Apalagi pada bulan-bulan orang ramai mengadakan pernikahan,” imbuhnya. Sebelum hal tersebut terjadi, Miskun berupaya untuk merebus cabai itu, melumurinya dengan minyak, dan menjemurnya supaya bisa dimanfaatkan lain waktu.

Terpisah, salah seorang petani cabai bernama Basid, 35, mengungkapkan bahwa pihaknya hanya menjual cabai yang benar-benar bagus. Hal itu terpaksa dilakukan karena cabai yang rusak sedikit saja memang tak laku di pasaran. “Karena itu, terpaksa saya bagikan kepada orang-orang,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/