alexametrics
22.8 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Abad 19 Sudah Ada Kampung Kuno, bahkan Jadi Jujukan Londo

Demi hasrat ekonomi, kawasan Jembatan Jompo beralih fungsi. Padahal sebenarnya, area Jembatan Jompo berpotensi sebagai destinasi wisata. Sebab, ada kampung-kampung kuno yang sudah ada sejak dua abad silam.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siti Lailati menerawang ketika bertemu Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini. Warga yang tinggal di Lingkungan Kulon Pasar Tanjung, Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates, ini berusaha merangkai serpihan ingatannya tentang kapan kali pertama pertokoan Jompo itu dibangun. Menurutnya, ruko itu mulai ada sekitar tahun 1974 atau 1975 lalu.

“Tapi kalau jembatannya sudah ada sejak zaman Londo (Belanda, Red),” tuturnya. Nenek 71 tahun itu memiliki daya ingat kuat. Dirinya mengaku sudah ada dan lahir di sekitar Sungai Jompo itu pada 1949 silam. Kata dia, dulunya Sungai Jompo memang tak seramai sekarang. Tapi kini, kondisinya jauh berbeda. Sudah banyak yang berubah, termasuk pertokoan yang berderet di sepanjang Jalan Sultan Agung dan Samanhudi.

Kendati telah banyak perubahan, namun tetap ada satu dua bangunan yang berdiri di sekitar sungai. Namun, dia tak menyebutkan bangunan mana saja yang tergolong kuno tersebut. “Mulai dibangun itu, saya sudah tidak tahu pasti untuk apa dan bagaimana,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebenarnya, keberadaan Sungai Jompo yang dihiasi bangunan di atasnya itu sudah disayangkan sejak awal. Terlebih, di sekitar Jompo merupakan tempat bersejarah bagi Jember. Y Setiyo Hadi, pegiat sejarah dari Museum Boemi Poeger Persada Jember, menilai, pemanfaatan lahan, terutama yang berada di kawasan sempadan sungai dari hulu ke hilir, seharusnya dipelajari dan dilihat secara bijak.

“Terjadinya peristiwa itu bukanlah bencana alam. Tapi tidak elok juga kalau kita saling menyalah satu sama lainnya. Ambrolnya pertokoan Jompo itu karena pemanfaatan manusia yang berupaya merekayasa kondisi alam untuk kepentingan ekonomi,” jelasnya.

Menurut pria yang akrab disapa Yopi ini, Jompo di masa silam merupakan sentral perputaran ekonomi. Menjadi pusat hunian penduduk, perkantoran, dan perdagangan. Ramainya kawasan Jompo, kata dia, bermula dari kawasan yang disebut Kampung Ledok dan Kebon, yang pernah disinggahi oleh Thomas Horsfield, 1806 silam. Saat itu, sebelum Jompo berkembang, Thomas Horsfield menyebut Jember sebagai village atau dorp, alias daerah yang penduduknya mengalami busung lapar.

Kemudian, seiring berkembangnya zaman, kawasan Jember yang awalnya dikenal daerah miskin terus mengalami kemajuan. Ini ditandai dengan berdirinya Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD), sebuah perusahaan Belanda yang bergerak di sektor perkebunan, pada 21 Oktober 1859. “Di era-era ini, mendorong pengembangan penduduk di wilayah desa menjadi Kota Jember, sekaligus tempat permukiman dan perkantoran perkebunan,” bebernya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siti Lailati menerawang ketika bertemu Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini. Warga yang tinggal di Lingkungan Kulon Pasar Tanjung, Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates, ini berusaha merangkai serpihan ingatannya tentang kapan kali pertama pertokoan Jompo itu dibangun. Menurutnya, ruko itu mulai ada sekitar tahun 1974 atau 1975 lalu.

“Tapi kalau jembatannya sudah ada sejak zaman Londo (Belanda, Red),” tuturnya. Nenek 71 tahun itu memiliki daya ingat kuat. Dirinya mengaku sudah ada dan lahir di sekitar Sungai Jompo itu pada 1949 silam. Kata dia, dulunya Sungai Jompo memang tak seramai sekarang. Tapi kini, kondisinya jauh berbeda. Sudah banyak yang berubah, termasuk pertokoan yang berderet di sepanjang Jalan Sultan Agung dan Samanhudi.

Kendati telah banyak perubahan, namun tetap ada satu dua bangunan yang berdiri di sekitar sungai. Namun, dia tak menyebutkan bangunan mana saja yang tergolong kuno tersebut. “Mulai dibangun itu, saya sudah tidak tahu pasti untuk apa dan bagaimana,” ucapnya.

Sebenarnya, keberadaan Sungai Jompo yang dihiasi bangunan di atasnya itu sudah disayangkan sejak awal. Terlebih, di sekitar Jompo merupakan tempat bersejarah bagi Jember. Y Setiyo Hadi, pegiat sejarah dari Museum Boemi Poeger Persada Jember, menilai, pemanfaatan lahan, terutama yang berada di kawasan sempadan sungai dari hulu ke hilir, seharusnya dipelajari dan dilihat secara bijak.

“Terjadinya peristiwa itu bukanlah bencana alam. Tapi tidak elok juga kalau kita saling menyalah satu sama lainnya. Ambrolnya pertokoan Jompo itu karena pemanfaatan manusia yang berupaya merekayasa kondisi alam untuk kepentingan ekonomi,” jelasnya.

Menurut pria yang akrab disapa Yopi ini, Jompo di masa silam merupakan sentral perputaran ekonomi. Menjadi pusat hunian penduduk, perkantoran, dan perdagangan. Ramainya kawasan Jompo, kata dia, bermula dari kawasan yang disebut Kampung Ledok dan Kebon, yang pernah disinggahi oleh Thomas Horsfield, 1806 silam. Saat itu, sebelum Jompo berkembang, Thomas Horsfield menyebut Jember sebagai village atau dorp, alias daerah yang penduduknya mengalami busung lapar.

Kemudian, seiring berkembangnya zaman, kawasan Jember yang awalnya dikenal daerah miskin terus mengalami kemajuan. Ini ditandai dengan berdirinya Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD), sebuah perusahaan Belanda yang bergerak di sektor perkebunan, pada 21 Oktober 1859. “Di era-era ini, mendorong pengembangan penduduk di wilayah desa menjadi Kota Jember, sekaligus tempat permukiman dan perkantoran perkebunan,” bebernya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siti Lailati menerawang ketika bertemu Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini. Warga yang tinggal di Lingkungan Kulon Pasar Tanjung, Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates, ini berusaha merangkai serpihan ingatannya tentang kapan kali pertama pertokoan Jompo itu dibangun. Menurutnya, ruko itu mulai ada sekitar tahun 1974 atau 1975 lalu.

“Tapi kalau jembatannya sudah ada sejak zaman Londo (Belanda, Red),” tuturnya. Nenek 71 tahun itu memiliki daya ingat kuat. Dirinya mengaku sudah ada dan lahir di sekitar Sungai Jompo itu pada 1949 silam. Kata dia, dulunya Sungai Jompo memang tak seramai sekarang. Tapi kini, kondisinya jauh berbeda. Sudah banyak yang berubah, termasuk pertokoan yang berderet di sepanjang Jalan Sultan Agung dan Samanhudi.

Kendati telah banyak perubahan, namun tetap ada satu dua bangunan yang berdiri di sekitar sungai. Namun, dia tak menyebutkan bangunan mana saja yang tergolong kuno tersebut. “Mulai dibangun itu, saya sudah tidak tahu pasti untuk apa dan bagaimana,” ucapnya.

Sebenarnya, keberadaan Sungai Jompo yang dihiasi bangunan di atasnya itu sudah disayangkan sejak awal. Terlebih, di sekitar Jompo merupakan tempat bersejarah bagi Jember. Y Setiyo Hadi, pegiat sejarah dari Museum Boemi Poeger Persada Jember, menilai, pemanfaatan lahan, terutama yang berada di kawasan sempadan sungai dari hulu ke hilir, seharusnya dipelajari dan dilihat secara bijak.

“Terjadinya peristiwa itu bukanlah bencana alam. Tapi tidak elok juga kalau kita saling menyalah satu sama lainnya. Ambrolnya pertokoan Jompo itu karena pemanfaatan manusia yang berupaya merekayasa kondisi alam untuk kepentingan ekonomi,” jelasnya.

Menurut pria yang akrab disapa Yopi ini, Jompo di masa silam merupakan sentral perputaran ekonomi. Menjadi pusat hunian penduduk, perkantoran, dan perdagangan. Ramainya kawasan Jompo, kata dia, bermula dari kawasan yang disebut Kampung Ledok dan Kebon, yang pernah disinggahi oleh Thomas Horsfield, 1806 silam. Saat itu, sebelum Jompo berkembang, Thomas Horsfield menyebut Jember sebagai village atau dorp, alias daerah yang penduduknya mengalami busung lapar.

Kemudian, seiring berkembangnya zaman, kawasan Jember yang awalnya dikenal daerah miskin terus mengalami kemajuan. Ini ditandai dengan berdirinya Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD), sebuah perusahaan Belanda yang bergerak di sektor perkebunan, pada 21 Oktober 1859. “Di era-era ini, mendorong pengembangan penduduk di wilayah desa menjadi Kota Jember, sekaligus tempat permukiman dan perkantoran perkebunan,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/