23.9 C
Jember
Friday, 3 February 2023

Diancam Dicoret dari Data Penerima BLT, Warga Jember Kidul Surati Bupati

Mobile_AP_Rectangle 1

Saat menerima pesan itu, Rohim sempat merespons. Dia membalas, jika duit yang sudah ia terima telah habis digunakan untuk membeli kebutuhan hidup. Meski demikian, dirinya bersedia mengembalikan asal diberikan waktu mengumpulkan uang dengan bekerja lebih dulu. Tidak bisa instan.

“Saat saya menerima bantuan itu pakai undangan, masak mengembalikannya cuma diminta lewat WhatsApp. Saya merasa tidak dihargai. Petugas kelurahan kok kayak preman,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember di rumahnya Jalan HOS Cokroaminoto VI, Jember Kidul, Senin (19/9) sore.

Selain lewat WA, tagihan serupa juga sempat disampaikan oleh tetangga melalui istrinya. “Sebenarnya, kalau diminta mengembalikan akan saya kembalikan. Tapi caranya yang sopan. Masak melalui tetangga lalu bilang ke istri saya. Kenapa tidak pihak kelurahan langsung yang menemui saya,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Walau dia keberatan dengan cara menagih staf kelurahan, namun Rohim tetap mengembalikan duit bantuan tersebut. Uang itu ia serahkan ke Kantor Bupati Jember bersama surat pengaduan, tertanggal 12 September lalu. Hanya saja, surat itu tak sampai diterima bupati. Oleh staf kabupaten, warkat tersebut dikembalikan ke Kelurahan Jember Kidul.

Mengetahui ada warganya yang berkirim surat ke Bupati Jember, Lurah Jember Kidul Dewi Kamtiko mendatangi rumah Abdul Rohim, Senin sore. Dia ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Saat menemui rohim di kediamannya untuk klarifikasi, perempuan itu juga meminta maaf atas kesalahan stafnya.

Sebenarnya, kata dia, masalah ini berawal dari kesalahpahaman pengiriman surat. Seharusnya, surat undangan itu untuk orang lain, namun staf kelurahan mencantumkan nama Abdul Rohim kembali. “Saya minta maaf karena staff kami berbicara yang kurang pantas kepada bapak dan saya pastikan ancaman itu tidak terbukti. Saya menjamin itu,” ucapnya, di depan Abdul Rohim. (*)

Foto  : Hani untuk Radar Jember

Editor: Mahrus Sholih

- Advertisement -

Saat menerima pesan itu, Rohim sempat merespons. Dia membalas, jika duit yang sudah ia terima telah habis digunakan untuk membeli kebutuhan hidup. Meski demikian, dirinya bersedia mengembalikan asal diberikan waktu mengumpulkan uang dengan bekerja lebih dulu. Tidak bisa instan.

“Saat saya menerima bantuan itu pakai undangan, masak mengembalikannya cuma diminta lewat WhatsApp. Saya merasa tidak dihargai. Petugas kelurahan kok kayak preman,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember di rumahnya Jalan HOS Cokroaminoto VI, Jember Kidul, Senin (19/9) sore.

Selain lewat WA, tagihan serupa juga sempat disampaikan oleh tetangga melalui istrinya. “Sebenarnya, kalau diminta mengembalikan akan saya kembalikan. Tapi caranya yang sopan. Masak melalui tetangga lalu bilang ke istri saya. Kenapa tidak pihak kelurahan langsung yang menemui saya,” ujarnya.

Walau dia keberatan dengan cara menagih staf kelurahan, namun Rohim tetap mengembalikan duit bantuan tersebut. Uang itu ia serahkan ke Kantor Bupati Jember bersama surat pengaduan, tertanggal 12 September lalu. Hanya saja, surat itu tak sampai diterima bupati. Oleh staf kabupaten, warkat tersebut dikembalikan ke Kelurahan Jember Kidul.

Mengetahui ada warganya yang berkirim surat ke Bupati Jember, Lurah Jember Kidul Dewi Kamtiko mendatangi rumah Abdul Rohim, Senin sore. Dia ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Saat menemui rohim di kediamannya untuk klarifikasi, perempuan itu juga meminta maaf atas kesalahan stafnya.

Sebenarnya, kata dia, masalah ini berawal dari kesalahpahaman pengiriman surat. Seharusnya, surat undangan itu untuk orang lain, namun staf kelurahan mencantumkan nama Abdul Rohim kembali. “Saya minta maaf karena staff kami berbicara yang kurang pantas kepada bapak dan saya pastikan ancaman itu tidak terbukti. Saya menjamin itu,” ucapnya, di depan Abdul Rohim. (*)

Foto  : Hani untuk Radar Jember

Editor: Mahrus Sholih

Saat menerima pesan itu, Rohim sempat merespons. Dia membalas, jika duit yang sudah ia terima telah habis digunakan untuk membeli kebutuhan hidup. Meski demikian, dirinya bersedia mengembalikan asal diberikan waktu mengumpulkan uang dengan bekerja lebih dulu. Tidak bisa instan.

“Saat saya menerima bantuan itu pakai undangan, masak mengembalikannya cuma diminta lewat WhatsApp. Saya merasa tidak dihargai. Petugas kelurahan kok kayak preman,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember di rumahnya Jalan HOS Cokroaminoto VI, Jember Kidul, Senin (19/9) sore.

Selain lewat WA, tagihan serupa juga sempat disampaikan oleh tetangga melalui istrinya. “Sebenarnya, kalau diminta mengembalikan akan saya kembalikan. Tapi caranya yang sopan. Masak melalui tetangga lalu bilang ke istri saya. Kenapa tidak pihak kelurahan langsung yang menemui saya,” ujarnya.

Walau dia keberatan dengan cara menagih staf kelurahan, namun Rohim tetap mengembalikan duit bantuan tersebut. Uang itu ia serahkan ke Kantor Bupati Jember bersama surat pengaduan, tertanggal 12 September lalu. Hanya saja, surat itu tak sampai diterima bupati. Oleh staf kabupaten, warkat tersebut dikembalikan ke Kelurahan Jember Kidul.

Mengetahui ada warganya yang berkirim surat ke Bupati Jember, Lurah Jember Kidul Dewi Kamtiko mendatangi rumah Abdul Rohim, Senin sore. Dia ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Saat menemui rohim di kediamannya untuk klarifikasi, perempuan itu juga meminta maaf atas kesalahan stafnya.

Sebenarnya, kata dia, masalah ini berawal dari kesalahpahaman pengiriman surat. Seharusnya, surat undangan itu untuk orang lain, namun staf kelurahan mencantumkan nama Abdul Rohim kembali. “Saya minta maaf karena staff kami berbicara yang kurang pantas kepada bapak dan saya pastikan ancaman itu tidak terbukti. Saya menjamin itu,” ucapnya, di depan Abdul Rohim. (*)

Foto  : Hani untuk Radar Jember

Editor: Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca