alexametrics
23.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Waduh, ‘Recehan’ Juga Dipalsu

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 mengubah semua tatanan kehidupan, tak terkecuali di sektor ekonomi. Meski awalnya lumpuh, kini mulai menunjukkan gairah. Tapi masih ada saja orang yang tak tahu diri di tengah pandemi ini. Yakni, mereka yang membeli barang dan jasa dengan uang palsu.

Seperti di sebuah toko pakan ternak di kawasan Kecamatan Sumbersari. Di salah satu etalasenya, tampak selembar uang ditempelkan dengan keterangan uang palsu. Bukan pecahan besar seperti Rp 100 ribu atau Rp 50 ribu. Tapi justru ‘receh’, yaitu Rp 10 ribu.

Apin, salah seorang pegawai yang menerima uang tersebut, memang sempat curiga saat ada konsumennya yang bertransaksi menggunakan uang palsu tersebut, awal Agustus lalu. Dia mengaku menerima pecahan Rp 10 ribu palsu itu di saat ekonomi mulai membaik di tengah pandemi Covid-19. Dia merasa ada yang tidak beres saat memegang lembaran uang di tangannya. “Kalau dipegang itu terasa aneh. Saat dicek, diterawang, tidak ada gambar pahlawannya yang muncul,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, Robby, pegawai lainnya, juga pernah menerima uang palsu ketika transaksi. “Sebelum korona ya pernah dapat uang palsu. Rata-rata pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu. Jarang ada pecahan kecil seperti Rp 10 ribu,” jelasnya.

Robby mengaku, kejadian mendapatkan uang palsu terjadi saat tokonya ramai pembeli. Sebab, kondisi inilah yang dijadikan celah oleh pelaku, sehingga pegawai tidak sempat mengecek keaslian uang.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 mengubah semua tatanan kehidupan, tak terkecuali di sektor ekonomi. Meski awalnya lumpuh, kini mulai menunjukkan gairah. Tapi masih ada saja orang yang tak tahu diri di tengah pandemi ini. Yakni, mereka yang membeli barang dan jasa dengan uang palsu.

Seperti di sebuah toko pakan ternak di kawasan Kecamatan Sumbersari. Di salah satu etalasenya, tampak selembar uang ditempelkan dengan keterangan uang palsu. Bukan pecahan besar seperti Rp 100 ribu atau Rp 50 ribu. Tapi justru ‘receh’, yaitu Rp 10 ribu.

Apin, salah seorang pegawai yang menerima uang tersebut, memang sempat curiga saat ada konsumennya yang bertransaksi menggunakan uang palsu tersebut, awal Agustus lalu. Dia mengaku menerima pecahan Rp 10 ribu palsu itu di saat ekonomi mulai membaik di tengah pandemi Covid-19. Dia merasa ada yang tidak beres saat memegang lembaran uang di tangannya. “Kalau dipegang itu terasa aneh. Saat dicek, diterawang, tidak ada gambar pahlawannya yang muncul,” jelasnya.

Sementara itu, Robby, pegawai lainnya, juga pernah menerima uang palsu ketika transaksi. “Sebelum korona ya pernah dapat uang palsu. Rata-rata pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu. Jarang ada pecahan kecil seperti Rp 10 ribu,” jelasnya.

Robby mengaku, kejadian mendapatkan uang palsu terjadi saat tokonya ramai pembeli. Sebab, kondisi inilah yang dijadikan celah oleh pelaku, sehingga pegawai tidak sempat mengecek keaslian uang.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 mengubah semua tatanan kehidupan, tak terkecuali di sektor ekonomi. Meski awalnya lumpuh, kini mulai menunjukkan gairah. Tapi masih ada saja orang yang tak tahu diri di tengah pandemi ini. Yakni, mereka yang membeli barang dan jasa dengan uang palsu.

Seperti di sebuah toko pakan ternak di kawasan Kecamatan Sumbersari. Di salah satu etalasenya, tampak selembar uang ditempelkan dengan keterangan uang palsu. Bukan pecahan besar seperti Rp 100 ribu atau Rp 50 ribu. Tapi justru ‘receh’, yaitu Rp 10 ribu.

Apin, salah seorang pegawai yang menerima uang tersebut, memang sempat curiga saat ada konsumennya yang bertransaksi menggunakan uang palsu tersebut, awal Agustus lalu. Dia mengaku menerima pecahan Rp 10 ribu palsu itu di saat ekonomi mulai membaik di tengah pandemi Covid-19. Dia merasa ada yang tidak beres saat memegang lembaran uang di tangannya. “Kalau dipegang itu terasa aneh. Saat dicek, diterawang, tidak ada gambar pahlawannya yang muncul,” jelasnya.

Sementara itu, Robby, pegawai lainnya, juga pernah menerima uang palsu ketika transaksi. “Sebelum korona ya pernah dapat uang palsu. Rata-rata pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu. Jarang ada pecahan kecil seperti Rp 10 ribu,” jelasnya.

Robby mengaku, kejadian mendapatkan uang palsu terjadi saat tokonya ramai pembeli. Sebab, kondisi inilah yang dijadikan celah oleh pelaku, sehingga pegawai tidak sempat mengecek keaslian uang.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/