alexametrics
23.2 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Ini Dia, Siswa SMAN 2 Jember yang Lolos Pertukaran Pelajar ke AS

Perjuangan Cindy Aula Sari Sekolah di Negeri Paman Sam

Mobile_AP_Rectangle 1

MAYANG, RADARJEMBER.ID – SEBENARNYA prestasi Cindy tak banyak. Ia juga tak tergolong siswa yang aktif berorganisasi. Selama sekolah, gadis itu hanya mengikuti ekstrakulikuler pasukan pengibar bendera (paskibra). Namun, sejak kecil dia memiliki tekad kuat agar bisa mengenyam pendidikan di luar negeri. Bermodal niat itu, Cindy berhasil lolos mengikuti program pertukaran pelajar KL-YES, perwakilan dari Indonesia di Amerika Serikat (AS).

Mulanya, Cindy mengikuti sebuah webinar tentang pertukaran pelajar di luar negeri dengan biaya gratis. Kebetulan, webinar tersebut diprakarsai oleh seniornya yang juga alumnus SMAN 2 Jember. Tergiur dengan program yang ditawarkan, Cindy akhirnya ingin mengikuti program tersebut. Namun, mamanya sempat meragukan keinginannya itu. Sebab, dia harus cuti sekolah selama setahun. Ini artinya, untuk menamatkan SMA, dia harus rela menempuh selama empat tahun.

Selain itu, Cindy juga sadar dengan kondisi ekonomi keluarganya yang tidak begitu baik. Mamanya adalah seorang single parent. Hidupnya bertumpu pada kakak perempuannya yang saat ini bekerja. Walaupun program pertukaran tersebut gratis, tapi tetap perlu dana yang tidak sedikit untuk melalui segala proses seleksinya. “Biaya untuk mengikuti seleksi, ya, lumayan. Aku sadar, kalau aku minta terus ke kakak juga sungkan,” kata perempuan yang tinggal di Jalan Pahlawan Nomor 39, Mayang, itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Demi mendanai semua kebutuhannya selama proses seleksi, Cindy mencoba membuka jasa pengetikan. Targetnya adalah para siswa dan mahasiswa yang mendapat tugas membuat laporan atau artikel. Dari sinilah, pundi-pundi uang mengalir. Semua kebutuhan dan kelengkapan mengikuti program itu pun mulai terpenuhi. “Karena saya tidak punya laptop, saya setiap hari ke warnet untuk ngerjain ini. Tapi, dari pekerjaan itu, alhamdulillah, saya bisa beli paketan sendiri. Nge-print berkas-berkas dengan uang sendiri. Pokoknya semua kelengkapan yang dibutuhkan bisa terpenuhi,” jelas Cindy.

Selain masalah finansial, Cindy juga sempat minder lantaran modal akademis yang dia miliki tidak seberapa jika dibandingkan dengan peserta yang lain. Apalagi, ribuan pendaftar dari seluruh Indonesia itu berasal dari latar belakang yang berbeda. Mayoritas adalah siswa-siswi berbakat yang sering mengikuti olimpiade tingkat internasional. “Tertekannya lebih ke mental. Minder. Karena saya cuma siswa yang ikut paskibra. Olimpiade juga tidak pernah ikut,” tambahnya.

- Advertisement -

MAYANG, RADARJEMBER.ID – SEBENARNYA prestasi Cindy tak banyak. Ia juga tak tergolong siswa yang aktif berorganisasi. Selama sekolah, gadis itu hanya mengikuti ekstrakulikuler pasukan pengibar bendera (paskibra). Namun, sejak kecil dia memiliki tekad kuat agar bisa mengenyam pendidikan di luar negeri. Bermodal niat itu, Cindy berhasil lolos mengikuti program pertukaran pelajar KL-YES, perwakilan dari Indonesia di Amerika Serikat (AS).

Mulanya, Cindy mengikuti sebuah webinar tentang pertukaran pelajar di luar negeri dengan biaya gratis. Kebetulan, webinar tersebut diprakarsai oleh seniornya yang juga alumnus SMAN 2 Jember. Tergiur dengan program yang ditawarkan, Cindy akhirnya ingin mengikuti program tersebut. Namun, mamanya sempat meragukan keinginannya itu. Sebab, dia harus cuti sekolah selama setahun. Ini artinya, untuk menamatkan SMA, dia harus rela menempuh selama empat tahun.

Selain itu, Cindy juga sadar dengan kondisi ekonomi keluarganya yang tidak begitu baik. Mamanya adalah seorang single parent. Hidupnya bertumpu pada kakak perempuannya yang saat ini bekerja. Walaupun program pertukaran tersebut gratis, tapi tetap perlu dana yang tidak sedikit untuk melalui segala proses seleksinya. “Biaya untuk mengikuti seleksi, ya, lumayan. Aku sadar, kalau aku minta terus ke kakak juga sungkan,” kata perempuan yang tinggal di Jalan Pahlawan Nomor 39, Mayang, itu.

Demi mendanai semua kebutuhannya selama proses seleksi, Cindy mencoba membuka jasa pengetikan. Targetnya adalah para siswa dan mahasiswa yang mendapat tugas membuat laporan atau artikel. Dari sinilah, pundi-pundi uang mengalir. Semua kebutuhan dan kelengkapan mengikuti program itu pun mulai terpenuhi. “Karena saya tidak punya laptop, saya setiap hari ke warnet untuk ngerjain ini. Tapi, dari pekerjaan itu, alhamdulillah, saya bisa beli paketan sendiri. Nge-print berkas-berkas dengan uang sendiri. Pokoknya semua kelengkapan yang dibutuhkan bisa terpenuhi,” jelas Cindy.

Selain masalah finansial, Cindy juga sempat minder lantaran modal akademis yang dia miliki tidak seberapa jika dibandingkan dengan peserta yang lain. Apalagi, ribuan pendaftar dari seluruh Indonesia itu berasal dari latar belakang yang berbeda. Mayoritas adalah siswa-siswi berbakat yang sering mengikuti olimpiade tingkat internasional. “Tertekannya lebih ke mental. Minder. Karena saya cuma siswa yang ikut paskibra. Olimpiade juga tidak pernah ikut,” tambahnya.

MAYANG, RADARJEMBER.ID – SEBENARNYA prestasi Cindy tak banyak. Ia juga tak tergolong siswa yang aktif berorganisasi. Selama sekolah, gadis itu hanya mengikuti ekstrakulikuler pasukan pengibar bendera (paskibra). Namun, sejak kecil dia memiliki tekad kuat agar bisa mengenyam pendidikan di luar negeri. Bermodal niat itu, Cindy berhasil lolos mengikuti program pertukaran pelajar KL-YES, perwakilan dari Indonesia di Amerika Serikat (AS).

Mulanya, Cindy mengikuti sebuah webinar tentang pertukaran pelajar di luar negeri dengan biaya gratis. Kebetulan, webinar tersebut diprakarsai oleh seniornya yang juga alumnus SMAN 2 Jember. Tergiur dengan program yang ditawarkan, Cindy akhirnya ingin mengikuti program tersebut. Namun, mamanya sempat meragukan keinginannya itu. Sebab, dia harus cuti sekolah selama setahun. Ini artinya, untuk menamatkan SMA, dia harus rela menempuh selama empat tahun.

Selain itu, Cindy juga sadar dengan kondisi ekonomi keluarganya yang tidak begitu baik. Mamanya adalah seorang single parent. Hidupnya bertumpu pada kakak perempuannya yang saat ini bekerja. Walaupun program pertukaran tersebut gratis, tapi tetap perlu dana yang tidak sedikit untuk melalui segala proses seleksinya. “Biaya untuk mengikuti seleksi, ya, lumayan. Aku sadar, kalau aku minta terus ke kakak juga sungkan,” kata perempuan yang tinggal di Jalan Pahlawan Nomor 39, Mayang, itu.

Demi mendanai semua kebutuhannya selama proses seleksi, Cindy mencoba membuka jasa pengetikan. Targetnya adalah para siswa dan mahasiswa yang mendapat tugas membuat laporan atau artikel. Dari sinilah, pundi-pundi uang mengalir. Semua kebutuhan dan kelengkapan mengikuti program itu pun mulai terpenuhi. “Karena saya tidak punya laptop, saya setiap hari ke warnet untuk ngerjain ini. Tapi, dari pekerjaan itu, alhamdulillah, saya bisa beli paketan sendiri. Nge-print berkas-berkas dengan uang sendiri. Pokoknya semua kelengkapan yang dibutuhkan bisa terpenuhi,” jelas Cindy.

Selain masalah finansial, Cindy juga sempat minder lantaran modal akademis yang dia miliki tidak seberapa jika dibandingkan dengan peserta yang lain. Apalagi, ribuan pendaftar dari seluruh Indonesia itu berasal dari latar belakang yang berbeda. Mayoritas adalah siswa-siswi berbakat yang sering mengikuti olimpiade tingkat internasional. “Tertekannya lebih ke mental. Minder. Karena saya cuma siswa yang ikut paskibra. Olimpiade juga tidak pernah ikut,” tambahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/