alexametrics
24 C
Jember
Monday, 8 August 2022

Produk Olahan Jamur, Beli Jamur Apkir dengan Harga Tinggi

Mobile_AP_Rectangle 1

RADAR, RADARJEMBER.ID – Desa jamur, begitulah orang mengenal Kelompok Tani Jamur Tiram (KPJT) Manut di Desa/Kecamatan Klakah. Lewat binaan Politeknik Negeri Jember (Polije), petani jamur tak lagi bingung produksi jamurnya jelek, bahkan tak laku di pasaran. Lewat belasan olahan pangan berbahan jamur, mampu menjawab semua keresahan petani jamur selama ini.

DWI SISWANTO, Klakah, Radar Jember

RUMAH sederhana di Dusun Tambak Boyo, Desa/Kecamatan Klakah, Lumajang, itu telah jadi magnet para pelaku usaha berbasis jamur. Terdapat rombong bertuliskan bakso jamur. Di menunya juga ada es krim jamur, lumpia jamur, dimsum jamur, hingga berbagai makanan berbasis jamur. Bagian atas rumah juga terpampang tulisan Politeknik Negeri Jember (Polije) Rumah Inspirasi KPJT Manut, program pengabdian masyarakat desa mitra atau PPDM.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketua KPJT Manut Moh Imam Agus Syaichu manut menunjukan lokasi budi daya jamur yang tak jauh dari rumahnya. Dalam sehari, setidaknya bisa menghasilkan dua kilogram jamur tiram. Namun, bila ditotal, semua anggota KPJT Manut bisa capai 40 kilogram dalam sehari. “Kalau semua anggota kira-kira total produksi per hari 40 kilogram, karena anggota kami yang melakukan budi daya jamur tiram ada 20 anggota,” tuturnya.

Menariknya, petani jamur tiram KPJT Manut dilarang menjual jamur tiram ke pengepul. “Anggota kami larang jual ke pengepul karena harganya Rp 10 ribu per kilogram. Sedangkan yang jamur yang jelek atau apkir kami beli Rp 12 ribu. Lebih mahal mana coba,” tuturnya.

Agus mendorong jamur tiram produksi anggotanya dijual ke pedagang mlijo terlebih dahulu, karena harganya bisa naik hingga Rp 14 ribu per kilogram. Selain itu, bersama-sama membangun perekonomian masyarakat kecil. “Anggota kami tidak boleh dari orang berada. Tapi dari orang biasa agar perekonomiannya meningkat,” jelasnya.

Dia mengaku, banyak anggotanya yang bergerak di bidang budi daya jamur tiram juga merupakan buruh tani, buruh pabrik, dan lainnya. Sehingga, ada potensi perkembangan jamur tiramnya kurang baik untuk dijual di pasaran. Inilah yang dia tampung.

“Kalau ke pengepul jamur kurang bagus itu jadi jamur apkir, dibuang begitu saja,” jelasnya. Bahkan, jamur yang tidak laku bisa diretur kembali dan dibeli oleh KPJT Manut. “Jamur kalau sudah nggak laku hari ini, dijual besok tambah tidak laku lagi. Karena ada jamur yang baru petik, sebab jamur itu produksinya setiap hari,” tuturnya.

Mampu tampung jamur tiram tak laku hingga tampung jamur apkir, tidak lain karena di KPJT Manut terdapat beragam olahan produk pangan dari jamur. “Jamur-jamur yang nggak laku dan apkir bisa dibuat tepung jamur, penyedap jamur, dan lainnya,” jelasnya.

Agus sudah melakukan budi daya jamur tiram sejak 2018 silam. Produk awal pengolahannya adalah botok jamur. Karena produksinya gampang ditiru dan memiliki nilai ekonomis kecil, maka dirinya membuat beragam bentuk olahan makanan berbasis jamur. “Ada es krim jamur, dimsum jamur, kerupuk jamur, jamur crispy, mi jamur, penyedap jamur, tepung jamur, lumpia jamur, dawet jamur, bakso jamur, lemper jamur, hingga roti jamur,” tuturnya.

Belasan produk olahan makanan dari jamur juga tidak lepas dari binaan Politeknik Negeri Jember (Polije). Tiga tahun membina dan memberikan beragam pelatihan, membuat KPJT Manut menjadi desa binaan jamur.

- Advertisement -

RADAR, RADARJEMBER.ID – Desa jamur, begitulah orang mengenal Kelompok Tani Jamur Tiram (KPJT) Manut di Desa/Kecamatan Klakah. Lewat binaan Politeknik Negeri Jember (Polije), petani jamur tak lagi bingung produksi jamurnya jelek, bahkan tak laku di pasaran. Lewat belasan olahan pangan berbahan jamur, mampu menjawab semua keresahan petani jamur selama ini.

DWI SISWANTO, Klakah, Radar Jember

RUMAH sederhana di Dusun Tambak Boyo, Desa/Kecamatan Klakah, Lumajang, itu telah jadi magnet para pelaku usaha berbasis jamur. Terdapat rombong bertuliskan bakso jamur. Di menunya juga ada es krim jamur, lumpia jamur, dimsum jamur, hingga berbagai makanan berbasis jamur. Bagian atas rumah juga terpampang tulisan Politeknik Negeri Jember (Polije) Rumah Inspirasi KPJT Manut, program pengabdian masyarakat desa mitra atau PPDM.

Ketua KPJT Manut Moh Imam Agus Syaichu manut menunjukan lokasi budi daya jamur yang tak jauh dari rumahnya. Dalam sehari, setidaknya bisa menghasilkan dua kilogram jamur tiram. Namun, bila ditotal, semua anggota KPJT Manut bisa capai 40 kilogram dalam sehari. “Kalau semua anggota kira-kira total produksi per hari 40 kilogram, karena anggota kami yang melakukan budi daya jamur tiram ada 20 anggota,” tuturnya.

Menariknya, petani jamur tiram KPJT Manut dilarang menjual jamur tiram ke pengepul. “Anggota kami larang jual ke pengepul karena harganya Rp 10 ribu per kilogram. Sedangkan yang jamur yang jelek atau apkir kami beli Rp 12 ribu. Lebih mahal mana coba,” tuturnya.

Agus mendorong jamur tiram produksi anggotanya dijual ke pedagang mlijo terlebih dahulu, karena harganya bisa naik hingga Rp 14 ribu per kilogram. Selain itu, bersama-sama membangun perekonomian masyarakat kecil. “Anggota kami tidak boleh dari orang berada. Tapi dari orang biasa agar perekonomiannya meningkat,” jelasnya.

Dia mengaku, banyak anggotanya yang bergerak di bidang budi daya jamur tiram juga merupakan buruh tani, buruh pabrik, dan lainnya. Sehingga, ada potensi perkembangan jamur tiramnya kurang baik untuk dijual di pasaran. Inilah yang dia tampung.

“Kalau ke pengepul jamur kurang bagus itu jadi jamur apkir, dibuang begitu saja,” jelasnya. Bahkan, jamur yang tidak laku bisa diretur kembali dan dibeli oleh KPJT Manut. “Jamur kalau sudah nggak laku hari ini, dijual besok tambah tidak laku lagi. Karena ada jamur yang baru petik, sebab jamur itu produksinya setiap hari,” tuturnya.

Mampu tampung jamur tiram tak laku hingga tampung jamur apkir, tidak lain karena di KPJT Manut terdapat beragam olahan produk pangan dari jamur. “Jamur-jamur yang nggak laku dan apkir bisa dibuat tepung jamur, penyedap jamur, dan lainnya,” jelasnya.

Agus sudah melakukan budi daya jamur tiram sejak 2018 silam. Produk awal pengolahannya adalah botok jamur. Karena produksinya gampang ditiru dan memiliki nilai ekonomis kecil, maka dirinya membuat beragam bentuk olahan makanan berbasis jamur. “Ada es krim jamur, dimsum jamur, kerupuk jamur, jamur crispy, mi jamur, penyedap jamur, tepung jamur, lumpia jamur, dawet jamur, bakso jamur, lemper jamur, hingga roti jamur,” tuturnya.

Belasan produk olahan makanan dari jamur juga tidak lepas dari binaan Politeknik Negeri Jember (Polije). Tiga tahun membina dan memberikan beragam pelatihan, membuat KPJT Manut menjadi desa binaan jamur.

RADAR, RADARJEMBER.ID – Desa jamur, begitulah orang mengenal Kelompok Tani Jamur Tiram (KPJT) Manut di Desa/Kecamatan Klakah. Lewat binaan Politeknik Negeri Jember (Polije), petani jamur tak lagi bingung produksi jamurnya jelek, bahkan tak laku di pasaran. Lewat belasan olahan pangan berbahan jamur, mampu menjawab semua keresahan petani jamur selama ini.

DWI SISWANTO, Klakah, Radar Jember

RUMAH sederhana di Dusun Tambak Boyo, Desa/Kecamatan Klakah, Lumajang, itu telah jadi magnet para pelaku usaha berbasis jamur. Terdapat rombong bertuliskan bakso jamur. Di menunya juga ada es krim jamur, lumpia jamur, dimsum jamur, hingga berbagai makanan berbasis jamur. Bagian atas rumah juga terpampang tulisan Politeknik Negeri Jember (Polije) Rumah Inspirasi KPJT Manut, program pengabdian masyarakat desa mitra atau PPDM.

Ketua KPJT Manut Moh Imam Agus Syaichu manut menunjukan lokasi budi daya jamur yang tak jauh dari rumahnya. Dalam sehari, setidaknya bisa menghasilkan dua kilogram jamur tiram. Namun, bila ditotal, semua anggota KPJT Manut bisa capai 40 kilogram dalam sehari. “Kalau semua anggota kira-kira total produksi per hari 40 kilogram, karena anggota kami yang melakukan budi daya jamur tiram ada 20 anggota,” tuturnya.

Menariknya, petani jamur tiram KPJT Manut dilarang menjual jamur tiram ke pengepul. “Anggota kami larang jual ke pengepul karena harganya Rp 10 ribu per kilogram. Sedangkan yang jamur yang jelek atau apkir kami beli Rp 12 ribu. Lebih mahal mana coba,” tuturnya.

Agus mendorong jamur tiram produksi anggotanya dijual ke pedagang mlijo terlebih dahulu, karena harganya bisa naik hingga Rp 14 ribu per kilogram. Selain itu, bersama-sama membangun perekonomian masyarakat kecil. “Anggota kami tidak boleh dari orang berada. Tapi dari orang biasa agar perekonomiannya meningkat,” jelasnya.

Dia mengaku, banyak anggotanya yang bergerak di bidang budi daya jamur tiram juga merupakan buruh tani, buruh pabrik, dan lainnya. Sehingga, ada potensi perkembangan jamur tiramnya kurang baik untuk dijual di pasaran. Inilah yang dia tampung.

“Kalau ke pengepul jamur kurang bagus itu jadi jamur apkir, dibuang begitu saja,” jelasnya. Bahkan, jamur yang tidak laku bisa diretur kembali dan dibeli oleh KPJT Manut. “Jamur kalau sudah nggak laku hari ini, dijual besok tambah tidak laku lagi. Karena ada jamur yang baru petik, sebab jamur itu produksinya setiap hari,” tuturnya.

Mampu tampung jamur tiram tak laku hingga tampung jamur apkir, tidak lain karena di KPJT Manut terdapat beragam olahan produk pangan dari jamur. “Jamur-jamur yang nggak laku dan apkir bisa dibuat tepung jamur, penyedap jamur, dan lainnya,” jelasnya.

Agus sudah melakukan budi daya jamur tiram sejak 2018 silam. Produk awal pengolahannya adalah botok jamur. Karena produksinya gampang ditiru dan memiliki nilai ekonomis kecil, maka dirinya membuat beragam bentuk olahan makanan berbasis jamur. “Ada es krim jamur, dimsum jamur, kerupuk jamur, jamur crispy, mi jamur, penyedap jamur, tepung jamur, lumpia jamur, dawet jamur, bakso jamur, lemper jamur, hingga roti jamur,” tuturnya.

Belasan produk olahan makanan dari jamur juga tidak lepas dari binaan Politeknik Negeri Jember (Polije). Tiga tahun membina dan memberikan beragam pelatihan, membuat KPJT Manut menjadi desa binaan jamur.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/