alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Ujung-ujungnya ya Dipotong

Mobile_AP_Rectangle 1

RADAR JEMBER.ID – Memberikan tanda khusus hingga diberi pengaman jaring di koper masih saja ditemukan sebagian besar jamaah haji saat penyerahan koper haji di Kementerian Agama (Kemenang) Jember, kemarin (18/7). Padahal, Kemenag telah menyiapkan tanda pengenal koper jamaah haji. Selain itu, memakai tali pengaman berlebihan juga menyulitkan pihak otoritas penerbangan.

Pantauan Radarjember.id di aula Kemenang Jember, koper jamaah haji kloter 43-44 telah menumpuk. Koper yang berwarna hijau tersebut banyak yang diberikan pengaman tambahan. Jaring hingga strap bag pun diikat kuat-kuat di koper jamaah haji. Tak itu saja, beberapa koper diberi tanda khusus, mulai dari tali berwarna-warni, hingga piringan CD bekas.

Salah satu jamaah haji yang memakai tambahan pengaman adalah Fajar Wijaya. Warga Patrang yang datang bersama istrinya tersebut membawa dua koper. Satu koper diberi tambahan pengaman berupa strap bag, satu koper dibungkus jaring. “Jaring seperti ini untuk pengamanan dan antisipasi kopernya rusak seperti rusak ritsletingnya,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Memakai pengaman tambahan seperti itu, kata dia, karena koper-koper itu akan dilempar-lempar dan ditumpuk oleh koper lainnya. Selain itu, tambah dia, juga untuk meminimalisasi kemungkinan oknum membuka koper, karena penasaran dengan isi di dalam koper itu.

Kasi Haji dan Umrah Kemenag Jember Ahmad Tholabi mengatakan, kini pemeriksaan koper bukan wewenang Kemenag, tapi sudah otoritas bandara. Walau sudah jadi kewenangan pihak bandara, Kemenag tetap menyosialisasikan barang-barang yang dilarang. “Barang yang dilarang pada dasarnya sama saat naik pesawat. Seperti benda cair, korek api, dan logam,” imbuhnya.

Sosialisasi juga agar tidak memberikan tanda dan pengamanan berlebihan di koper. “Koper jamaah haji sudah ada nama dan foto. Ini adalah tanda untuk mengenali koper tersebut,” ujarnya. Namun, dalam kenyataannya, banyak koper jamaah haji diberi tanda tambahan dan diikat untuk pengamanan. “Paling banyak itu dikasih tali pengaman tambahan,” ujarnya.

Padahal, kata dia, semakin kuat pengamanan koper, akan membuat petugas bandara kesulitan memeriksa. Jika seperti itu, maka bisa jadi petugas memilih memotong tali pengaman tersebut.

Sementara itu, tambah dia, jika koper nantinya rusak karena proses bongkar muat, pemilik bisa meminta ke petugas haji. “Jika kopernya rusak dan tidak bisa dipakai lagi, Kemenag sudah menyiapkan langkah untuk menyediakan koper. Termasuk saat di Tanah Suci,” tambah Tholabi.

Walau banyak koper diberi tali pengaman berlebihan, tapi masih ada jamaah haji yang tidak memberikan tambahan tali pengaman. Seperti koper haji milik Sofyan Hadi. Dia hanya memberi pengaman tali Pramuka kecil di bagian pertemuan ritsleting. Tidak sampai diberi jaring atau tali full bodi koper. “Sebenarnya ya takut ada orang iseng buka koper dan ambil barang. Tapi imbauannya tidak usah pakai jaring dan lainnya, ya dilakukan saja,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -

RADAR JEMBER.ID – Memberikan tanda khusus hingga diberi pengaman jaring di koper masih saja ditemukan sebagian besar jamaah haji saat penyerahan koper haji di Kementerian Agama (Kemenang) Jember, kemarin (18/7). Padahal, Kemenag telah menyiapkan tanda pengenal koper jamaah haji. Selain itu, memakai tali pengaman berlebihan juga menyulitkan pihak otoritas penerbangan.

Pantauan Radarjember.id di aula Kemenang Jember, koper jamaah haji kloter 43-44 telah menumpuk. Koper yang berwarna hijau tersebut banyak yang diberikan pengaman tambahan. Jaring hingga strap bag pun diikat kuat-kuat di koper jamaah haji. Tak itu saja, beberapa koper diberi tanda khusus, mulai dari tali berwarna-warni, hingga piringan CD bekas.

Salah satu jamaah haji yang memakai tambahan pengaman adalah Fajar Wijaya. Warga Patrang yang datang bersama istrinya tersebut membawa dua koper. Satu koper diberi tambahan pengaman berupa strap bag, satu koper dibungkus jaring. “Jaring seperti ini untuk pengamanan dan antisipasi kopernya rusak seperti rusak ritsletingnya,” ujarnya.

Memakai pengaman tambahan seperti itu, kata dia, karena koper-koper itu akan dilempar-lempar dan ditumpuk oleh koper lainnya. Selain itu, tambah dia, juga untuk meminimalisasi kemungkinan oknum membuka koper, karena penasaran dengan isi di dalam koper itu.

Kasi Haji dan Umrah Kemenag Jember Ahmad Tholabi mengatakan, kini pemeriksaan koper bukan wewenang Kemenag, tapi sudah otoritas bandara. Walau sudah jadi kewenangan pihak bandara, Kemenag tetap menyosialisasikan barang-barang yang dilarang. “Barang yang dilarang pada dasarnya sama saat naik pesawat. Seperti benda cair, korek api, dan logam,” imbuhnya.

Sosialisasi juga agar tidak memberikan tanda dan pengamanan berlebihan di koper. “Koper jamaah haji sudah ada nama dan foto. Ini adalah tanda untuk mengenali koper tersebut,” ujarnya. Namun, dalam kenyataannya, banyak koper jamaah haji diberi tanda tambahan dan diikat untuk pengamanan. “Paling banyak itu dikasih tali pengaman tambahan,” ujarnya.

Padahal, kata dia, semakin kuat pengamanan koper, akan membuat petugas bandara kesulitan memeriksa. Jika seperti itu, maka bisa jadi petugas memilih memotong tali pengaman tersebut.

Sementara itu, tambah dia, jika koper nantinya rusak karena proses bongkar muat, pemilik bisa meminta ke petugas haji. “Jika kopernya rusak dan tidak bisa dipakai lagi, Kemenag sudah menyiapkan langkah untuk menyediakan koper. Termasuk saat di Tanah Suci,” tambah Tholabi.

Walau banyak koper diberi tali pengaman berlebihan, tapi masih ada jamaah haji yang tidak memberikan tambahan tali pengaman. Seperti koper haji milik Sofyan Hadi. Dia hanya memberi pengaman tali Pramuka kecil di bagian pertemuan ritsleting. Tidak sampai diberi jaring atau tali full bodi koper. “Sebenarnya ya takut ada orang iseng buka koper dan ambil barang. Tapi imbauannya tidak usah pakai jaring dan lainnya, ya dilakukan saja,” pungkasnya. (*)

RADAR JEMBER.ID – Memberikan tanda khusus hingga diberi pengaman jaring di koper masih saja ditemukan sebagian besar jamaah haji saat penyerahan koper haji di Kementerian Agama (Kemenang) Jember, kemarin (18/7). Padahal, Kemenag telah menyiapkan tanda pengenal koper jamaah haji. Selain itu, memakai tali pengaman berlebihan juga menyulitkan pihak otoritas penerbangan.

Pantauan Radarjember.id di aula Kemenang Jember, koper jamaah haji kloter 43-44 telah menumpuk. Koper yang berwarna hijau tersebut banyak yang diberikan pengaman tambahan. Jaring hingga strap bag pun diikat kuat-kuat di koper jamaah haji. Tak itu saja, beberapa koper diberi tanda khusus, mulai dari tali berwarna-warni, hingga piringan CD bekas.

Salah satu jamaah haji yang memakai tambahan pengaman adalah Fajar Wijaya. Warga Patrang yang datang bersama istrinya tersebut membawa dua koper. Satu koper diberi tambahan pengaman berupa strap bag, satu koper dibungkus jaring. “Jaring seperti ini untuk pengamanan dan antisipasi kopernya rusak seperti rusak ritsletingnya,” ujarnya.

Memakai pengaman tambahan seperti itu, kata dia, karena koper-koper itu akan dilempar-lempar dan ditumpuk oleh koper lainnya. Selain itu, tambah dia, juga untuk meminimalisasi kemungkinan oknum membuka koper, karena penasaran dengan isi di dalam koper itu.

Kasi Haji dan Umrah Kemenag Jember Ahmad Tholabi mengatakan, kini pemeriksaan koper bukan wewenang Kemenag, tapi sudah otoritas bandara. Walau sudah jadi kewenangan pihak bandara, Kemenag tetap menyosialisasikan barang-barang yang dilarang. “Barang yang dilarang pada dasarnya sama saat naik pesawat. Seperti benda cair, korek api, dan logam,” imbuhnya.

Sosialisasi juga agar tidak memberikan tanda dan pengamanan berlebihan di koper. “Koper jamaah haji sudah ada nama dan foto. Ini adalah tanda untuk mengenali koper tersebut,” ujarnya. Namun, dalam kenyataannya, banyak koper jamaah haji diberi tanda tambahan dan diikat untuk pengamanan. “Paling banyak itu dikasih tali pengaman tambahan,” ujarnya.

Padahal, kata dia, semakin kuat pengamanan koper, akan membuat petugas bandara kesulitan memeriksa. Jika seperti itu, maka bisa jadi petugas memilih memotong tali pengaman tersebut.

Sementara itu, tambah dia, jika koper nantinya rusak karena proses bongkar muat, pemilik bisa meminta ke petugas haji. “Jika kopernya rusak dan tidak bisa dipakai lagi, Kemenag sudah menyiapkan langkah untuk menyediakan koper. Termasuk saat di Tanah Suci,” tambah Tholabi.

Walau banyak koper diberi tali pengaman berlebihan, tapi masih ada jamaah haji yang tidak memberikan tambahan tali pengaman. Seperti koper haji milik Sofyan Hadi. Dia hanya memberi pengaman tali Pramuka kecil di bagian pertemuan ritsleting. Tidak sampai diberi jaring atau tali full bodi koper. “Sebenarnya ya takut ada orang iseng buka koper dan ambil barang. Tapi imbauannya tidak usah pakai jaring dan lainnya, ya dilakukan saja,” pungkasnya. (*)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/