alexametrics
23.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Pendaftaran SMP Libatkan Operator SD

Panitia PPDB Berlakukan Protokol Kesehatan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hari kedua pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP lebih ramai dari sebelumnya. Para orang tua berbondong-bondong mendatangi sekolah untuk mendaftarkan anak mereka. Untuk mengurangi terjadinya penumpukan, panitia memberlakukan nomor antrean. Bahkan, secara ketat panitia menerapkan physical distanding, mengingat saat ini masih berada di masa pandemi.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di SMPN 1 Ajung, panitia memberlakukan protokol kesehatan. Setiap calon siswa yang datang harus melalui pintu khusus dan dicek suhu tubuhnya. Sedangkan para tua yang mengantar putra putrinya, tidak bisa masuk ke halaman sekolah. Mereka diminta menunggu dari luar. Sementara, panitia menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa masker dan pakaian berbahan plastik.

Tak hanya saat proses pendaftaran, setelah selesai mendaftar, mereka juga tidak bisa pulang melewati pintu depan. Namun, calon siswa harus melewati pintu belakang, sehingga tak sampai berpapasan atau terjadi penumpukan di pintu masuk. Bahkan, tempat duduk yang disiapkan berjarak lebih dari satu meter. Setiap siswa yang mendaftar langsung dipandu oleh guru pendamping.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pola ini rupanya cukup efektif. Tak hanya mencegah potensi penularan wabah, tapi juga proses pendaftaran. Sebab, pengaturan yang demikian membuat jumlah pendaftar yang memasuki ruang kelas terbatas. Karenanya, pelaksanaan pengisian formulir yang dilakukan secara daring bisa berjalan lebih lancar. “Karena setiap calon siswa yang mendaftar sudah memegang nomor antrean,” ujar Sigit Suyitno, Kepala SMPN 1 Ajung.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hari kedua pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP lebih ramai dari sebelumnya. Para orang tua berbondong-bondong mendatangi sekolah untuk mendaftarkan anak mereka. Untuk mengurangi terjadinya penumpukan, panitia memberlakukan nomor antrean. Bahkan, secara ketat panitia menerapkan physical distanding, mengingat saat ini masih berada di masa pandemi.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di SMPN 1 Ajung, panitia memberlakukan protokol kesehatan. Setiap calon siswa yang datang harus melalui pintu khusus dan dicek suhu tubuhnya. Sedangkan para tua yang mengantar putra putrinya, tidak bisa masuk ke halaman sekolah. Mereka diminta menunggu dari luar. Sementara, panitia menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa masker dan pakaian berbahan plastik.

Tak hanya saat proses pendaftaran, setelah selesai mendaftar, mereka juga tidak bisa pulang melewati pintu depan. Namun, calon siswa harus melewati pintu belakang, sehingga tak sampai berpapasan atau terjadi penumpukan di pintu masuk. Bahkan, tempat duduk yang disiapkan berjarak lebih dari satu meter. Setiap siswa yang mendaftar langsung dipandu oleh guru pendamping.

Pola ini rupanya cukup efektif. Tak hanya mencegah potensi penularan wabah, tapi juga proses pendaftaran. Sebab, pengaturan yang demikian membuat jumlah pendaftar yang memasuki ruang kelas terbatas. Karenanya, pelaksanaan pengisian formulir yang dilakukan secara daring bisa berjalan lebih lancar. “Karena setiap calon siswa yang mendaftar sudah memegang nomor antrean,” ujar Sigit Suyitno, Kepala SMPN 1 Ajung.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hari kedua pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP lebih ramai dari sebelumnya. Para orang tua berbondong-bondong mendatangi sekolah untuk mendaftarkan anak mereka. Untuk mengurangi terjadinya penumpukan, panitia memberlakukan nomor antrean. Bahkan, secara ketat panitia menerapkan physical distanding, mengingat saat ini masih berada di masa pandemi.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di SMPN 1 Ajung, panitia memberlakukan protokol kesehatan. Setiap calon siswa yang datang harus melalui pintu khusus dan dicek suhu tubuhnya. Sedangkan para tua yang mengantar putra putrinya, tidak bisa masuk ke halaman sekolah. Mereka diminta menunggu dari luar. Sementara, panitia menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa masker dan pakaian berbahan plastik.

Tak hanya saat proses pendaftaran, setelah selesai mendaftar, mereka juga tidak bisa pulang melewati pintu depan. Namun, calon siswa harus melewati pintu belakang, sehingga tak sampai berpapasan atau terjadi penumpukan di pintu masuk. Bahkan, tempat duduk yang disiapkan berjarak lebih dari satu meter. Setiap siswa yang mendaftar langsung dipandu oleh guru pendamping.

Pola ini rupanya cukup efektif. Tak hanya mencegah potensi penularan wabah, tapi juga proses pendaftaran. Sebab, pengaturan yang demikian membuat jumlah pendaftar yang memasuki ruang kelas terbatas. Karenanya, pelaksanaan pengisian formulir yang dilakukan secara daring bisa berjalan lebih lancar. “Karena setiap calon siswa yang mendaftar sudah memegang nomor antrean,” ujar Sigit Suyitno, Kepala SMPN 1 Ajung.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/