alexametrics
22 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Sendang Tirto Gumitir, Warisan Kerajaan Majapahit

KKN Desa Penari di Desa Sidomulyo Part 4

Mobile_AP_Rectangle 1
Sumber mata air ini banyak dimanfaatkan warga. Sumber ini dipercaya sebagai tempat pembuangan Damarwulan oleh anak asuh Majapahit. Sampai sekarang, sendang itu menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Sidomulyo.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kisah KKN Desa Penari di wilayah Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, semakin menguatkan seperti diakui salah satu mahasiswa yang menjalani KKN. Disebutnya, di tempat itu terdapat sumber mata air yang menjadi program dari KKN mahasiswa itu. Mempunyai julukan sendang, tempat mandinya para putri kerajaan pada masanya.

BACA JUGA : Film Satria Dewa Gatotkaca Gunakan Efek Tiga Dimensi

Mobile_AP_Rectangle 2

Jawa Pos Radar Jember pun sampai di sumber mata air tersebut. Airnya jernih, tawar, dan kami pun sempat membasuh muka di sana. Tak lama, kami ikut mencicipi segarnya air, karena warga setempat memanfaatkan itu untuk minum dan mandi.

Sendang di Desa Sidomulyo itu diyakini sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Sumber mata air itu menjadi saksi pertemuan Layang Seto dengan Layang Gumitir untuk membunuh Damarwulan. Dalam kisah yang diyakini warga setempat, Damarwulan menumbangkan Minak Jinggo dari Kerajaan Blambangan yang membuat iri hati kedua anak asuh Kerajaan Majapahit. Pertempuran pun terjadi di sendang itu. Pada akhir ceritanya, Damarwulan dibuang ke sumber tersebut. Masyarakat setempat menyebut sumber mata air itu Sendang Tirto Gumitir.

“Di sendang itu, warga meyakini adalah pertemuan Layang Seto dengan Layang Gumitir untuk mencegat kepulangan Damarwulan setelah berhasil menumbangkan Kerajaan Blambangan,” kata Kepala Desa Sidomulyo Kamiludin. Dia menjelaskan, sumber mata air itu dipercayai keberadaannya sejak zaman Kerajaan Majapahit. Serta digunakan sebagai sumber kehidupan dari kerajaan dan rakyatnya dahulu.

- Advertisement -
Sumber mata air ini banyak dimanfaatkan warga. Sumber ini dipercaya sebagai tempat pembuangan Damarwulan oleh anak asuh Majapahit. Sampai sekarang, sendang itu menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Sidomulyo.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kisah KKN Desa Penari di wilayah Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, semakin menguatkan seperti diakui salah satu mahasiswa yang menjalani KKN. Disebutnya, di tempat itu terdapat sumber mata air yang menjadi program dari KKN mahasiswa itu. Mempunyai julukan sendang, tempat mandinya para putri kerajaan pada masanya.

BACA JUGA : Film Satria Dewa Gatotkaca Gunakan Efek Tiga Dimensi

Jawa Pos Radar Jember pun sampai di sumber mata air tersebut. Airnya jernih, tawar, dan kami pun sempat membasuh muka di sana. Tak lama, kami ikut mencicipi segarnya air, karena warga setempat memanfaatkan itu untuk minum dan mandi.

Sendang di Desa Sidomulyo itu diyakini sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Sumber mata air itu menjadi saksi pertemuan Layang Seto dengan Layang Gumitir untuk membunuh Damarwulan. Dalam kisah yang diyakini warga setempat, Damarwulan menumbangkan Minak Jinggo dari Kerajaan Blambangan yang membuat iri hati kedua anak asuh Kerajaan Majapahit. Pertempuran pun terjadi di sendang itu. Pada akhir ceritanya, Damarwulan dibuang ke sumber tersebut. Masyarakat setempat menyebut sumber mata air itu Sendang Tirto Gumitir.

“Di sendang itu, warga meyakini adalah pertemuan Layang Seto dengan Layang Gumitir untuk mencegat kepulangan Damarwulan setelah berhasil menumbangkan Kerajaan Blambangan,” kata Kepala Desa Sidomulyo Kamiludin. Dia menjelaskan, sumber mata air itu dipercayai keberadaannya sejak zaman Kerajaan Majapahit. Serta digunakan sebagai sumber kehidupan dari kerajaan dan rakyatnya dahulu.

Sumber mata air ini banyak dimanfaatkan warga. Sumber ini dipercaya sebagai tempat pembuangan Damarwulan oleh anak asuh Majapahit. Sampai sekarang, sendang itu menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Sidomulyo.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kisah KKN Desa Penari di wilayah Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, semakin menguatkan seperti diakui salah satu mahasiswa yang menjalani KKN. Disebutnya, di tempat itu terdapat sumber mata air yang menjadi program dari KKN mahasiswa itu. Mempunyai julukan sendang, tempat mandinya para putri kerajaan pada masanya.

BACA JUGA : Film Satria Dewa Gatotkaca Gunakan Efek Tiga Dimensi

Jawa Pos Radar Jember pun sampai di sumber mata air tersebut. Airnya jernih, tawar, dan kami pun sempat membasuh muka di sana. Tak lama, kami ikut mencicipi segarnya air, karena warga setempat memanfaatkan itu untuk minum dan mandi.

Sendang di Desa Sidomulyo itu diyakini sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Sumber mata air itu menjadi saksi pertemuan Layang Seto dengan Layang Gumitir untuk membunuh Damarwulan. Dalam kisah yang diyakini warga setempat, Damarwulan menumbangkan Minak Jinggo dari Kerajaan Blambangan yang membuat iri hati kedua anak asuh Kerajaan Majapahit. Pertempuran pun terjadi di sendang itu. Pada akhir ceritanya, Damarwulan dibuang ke sumber tersebut. Masyarakat setempat menyebut sumber mata air itu Sendang Tirto Gumitir.

“Di sendang itu, warga meyakini adalah pertemuan Layang Seto dengan Layang Gumitir untuk mencegat kepulangan Damarwulan setelah berhasil menumbangkan Kerajaan Blambangan,” kata Kepala Desa Sidomulyo Kamiludin. Dia menjelaskan, sumber mata air itu dipercayai keberadaannya sejak zaman Kerajaan Majapahit. Serta digunakan sebagai sumber kehidupan dari kerajaan dan rakyatnya dahulu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/