alexametrics
22.4 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Enam Hari Merinding, “Muncul” Sosok Penari

Jalan Mistis Lain KKN Desa Penari

Mobile_AP_Rectangle 1
Sebagai wartawan muda, saya tak banyak berpikir tentang risiko apa yang akan terjadi dalam melakukan kegiatan jurnalistik. Termasuk dalam penugasan untuk meliput dan menulis cerita KKN Desa Penari, di Desa Sidomulyo. Sejak awal sampai berita ini ditulis, bulu kuduk tak berhenti berdiri, seolah ada sosok yang berdiri di belakang saya.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi buta, ringtone Iphone berdering kencang membangunkan saya yang sedang berbaring. Rupanya, perintah liputan di lokasi KKN Desa Penari yang ramai diperbincangkan dalam dua pekan terakhir. Dengan nada kurang tegas, saya pun mengiyakan tugas itu, meskipun masih mengantuk. Dengan cepat saya melakukan persiapan seadanya. Menyiapkan kamera dan sepeda motor yang baru saya beli sekitar sepekan sebelum cerita film KKN Desa Penari ramai lagi. Saya pun bersemangat untuk berangkat ke Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Jember. Sepengetahuan saya, desa itu ada di Hutan Gumitir.

Dalam perjalanan, petunjuk arah dari Google Maps setia menemani. Walau jarak tempuhnya cukup jauh, penugasan selalu dijalani dengan riang. Apalagi, saya masih tergolong anak yang baru magang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Suasana saat masuk ke desa itu cukup berbeda. Setiap hari, kami bergelut dengan kebisingan kota, dan kini memasuki jalanan dengan pepohonan besar. Angin sepoi-sepoi menambah kesejukan yang mengusir rasa lelah setelah perjalanan sekitar satu setengah jam. Di sana, saya pun mulai masuk area perhutanan Alas Gumitir. Sampai di pertigaan, salah seorang yang duduk di pinggir jalan memberikan petunjuk arah, setelah saya bertanya alamat Kantor Desa Sidomulyo.

Di sana, kami pun bertemu dengan dua rekan dari Jawa Pos Radar Jember. Kami berbincang santai tentang Desa Sidomulyo yang diklaim sebagai lokasi paling relevan dari film KKN Desa Penari. Beberapa orang pun mulai menceritakan keasrian hingga cerita ngeri di desa itu.

Sutikno, salah satu warga, menceritakan pengamalan mistis di desa tersebut. Dari situ, saya mulai merasa telah memasuki tempat yang tidak biasa. Tidak seperti pengalaman liputan sebelumnya yang hanya bertemu dengan pejabat dan para tokoh. Beberapa saat setelahnya, kami diajak melakukan petualangan menuju tempat-tempat keramat.

Awal kunjungan, saya bersama rombongan menembus jalan setapak menuju Dusun Sidodadi. Sebuah permukiman yang berada di tengah Alas Gumitir, termasuk Desa Sidomulyo. Kehidupan di tengah alas itu nyata keberadaannya. Seperti dikisahkan dalam cerita film KKN Desa Penari.

Seperti biasa, saya mewawancarai warga di dusun tersebut. Kaget bercampur penasaran setelah Fadilah, warga setempat, menyebut ada suara gamelan yang kerap terdengar setiap malam Jumat Kliwon. Sumbernya dari puncak Alas Gumitir, yang disebut Batu Napak Tilas dalam alur filmnya.

- Advertisement -
Sebagai wartawan muda, saya tak banyak berpikir tentang risiko apa yang akan terjadi dalam melakukan kegiatan jurnalistik. Termasuk dalam penugasan untuk meliput dan menulis cerita KKN Desa Penari, di Desa Sidomulyo. Sejak awal sampai berita ini ditulis, bulu kuduk tak berhenti berdiri, seolah ada sosok yang berdiri di belakang saya.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi buta, ringtone Iphone berdering kencang membangunkan saya yang sedang berbaring. Rupanya, perintah liputan di lokasi KKN Desa Penari yang ramai diperbincangkan dalam dua pekan terakhir. Dengan nada kurang tegas, saya pun mengiyakan tugas itu, meskipun masih mengantuk. Dengan cepat saya melakukan persiapan seadanya. Menyiapkan kamera dan sepeda motor yang baru saya beli sekitar sepekan sebelum cerita film KKN Desa Penari ramai lagi. Saya pun bersemangat untuk berangkat ke Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Jember. Sepengetahuan saya, desa itu ada di Hutan Gumitir.

Dalam perjalanan, petunjuk arah dari Google Maps setia menemani. Walau jarak tempuhnya cukup jauh, penugasan selalu dijalani dengan riang. Apalagi, saya masih tergolong anak yang baru magang.

Suasana saat masuk ke desa itu cukup berbeda. Setiap hari, kami bergelut dengan kebisingan kota, dan kini memasuki jalanan dengan pepohonan besar. Angin sepoi-sepoi menambah kesejukan yang mengusir rasa lelah setelah perjalanan sekitar satu setengah jam. Di sana, saya pun mulai masuk area perhutanan Alas Gumitir. Sampai di pertigaan, salah seorang yang duduk di pinggir jalan memberikan petunjuk arah, setelah saya bertanya alamat Kantor Desa Sidomulyo.

Di sana, kami pun bertemu dengan dua rekan dari Jawa Pos Radar Jember. Kami berbincang santai tentang Desa Sidomulyo yang diklaim sebagai lokasi paling relevan dari film KKN Desa Penari. Beberapa orang pun mulai menceritakan keasrian hingga cerita ngeri di desa itu.

Sutikno, salah satu warga, menceritakan pengamalan mistis di desa tersebut. Dari situ, saya mulai merasa telah memasuki tempat yang tidak biasa. Tidak seperti pengalaman liputan sebelumnya yang hanya bertemu dengan pejabat dan para tokoh. Beberapa saat setelahnya, kami diajak melakukan petualangan menuju tempat-tempat keramat.

Awal kunjungan, saya bersama rombongan menembus jalan setapak menuju Dusun Sidodadi. Sebuah permukiman yang berada di tengah Alas Gumitir, termasuk Desa Sidomulyo. Kehidupan di tengah alas itu nyata keberadaannya. Seperti dikisahkan dalam cerita film KKN Desa Penari.

Seperti biasa, saya mewawancarai warga di dusun tersebut. Kaget bercampur penasaran setelah Fadilah, warga setempat, menyebut ada suara gamelan yang kerap terdengar setiap malam Jumat Kliwon. Sumbernya dari puncak Alas Gumitir, yang disebut Batu Napak Tilas dalam alur filmnya.

Sebagai wartawan muda, saya tak banyak berpikir tentang risiko apa yang akan terjadi dalam melakukan kegiatan jurnalistik. Termasuk dalam penugasan untuk meliput dan menulis cerita KKN Desa Penari, di Desa Sidomulyo. Sejak awal sampai berita ini ditulis, bulu kuduk tak berhenti berdiri, seolah ada sosok yang berdiri di belakang saya.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi buta, ringtone Iphone berdering kencang membangunkan saya yang sedang berbaring. Rupanya, perintah liputan di lokasi KKN Desa Penari yang ramai diperbincangkan dalam dua pekan terakhir. Dengan nada kurang tegas, saya pun mengiyakan tugas itu, meskipun masih mengantuk. Dengan cepat saya melakukan persiapan seadanya. Menyiapkan kamera dan sepeda motor yang baru saya beli sekitar sepekan sebelum cerita film KKN Desa Penari ramai lagi. Saya pun bersemangat untuk berangkat ke Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Jember. Sepengetahuan saya, desa itu ada di Hutan Gumitir.

Dalam perjalanan, petunjuk arah dari Google Maps setia menemani. Walau jarak tempuhnya cukup jauh, penugasan selalu dijalani dengan riang. Apalagi, saya masih tergolong anak yang baru magang.

Suasana saat masuk ke desa itu cukup berbeda. Setiap hari, kami bergelut dengan kebisingan kota, dan kini memasuki jalanan dengan pepohonan besar. Angin sepoi-sepoi menambah kesejukan yang mengusir rasa lelah setelah perjalanan sekitar satu setengah jam. Di sana, saya pun mulai masuk area perhutanan Alas Gumitir. Sampai di pertigaan, salah seorang yang duduk di pinggir jalan memberikan petunjuk arah, setelah saya bertanya alamat Kantor Desa Sidomulyo.

Di sana, kami pun bertemu dengan dua rekan dari Jawa Pos Radar Jember. Kami berbincang santai tentang Desa Sidomulyo yang diklaim sebagai lokasi paling relevan dari film KKN Desa Penari. Beberapa orang pun mulai menceritakan keasrian hingga cerita ngeri di desa itu.

Sutikno, salah satu warga, menceritakan pengamalan mistis di desa tersebut. Dari situ, saya mulai merasa telah memasuki tempat yang tidak biasa. Tidak seperti pengalaman liputan sebelumnya yang hanya bertemu dengan pejabat dan para tokoh. Beberapa saat setelahnya, kami diajak melakukan petualangan menuju tempat-tempat keramat.

Awal kunjungan, saya bersama rombongan menembus jalan setapak menuju Dusun Sidodadi. Sebuah permukiman yang berada di tengah Alas Gumitir, termasuk Desa Sidomulyo. Kehidupan di tengah alas itu nyata keberadaannya. Seperti dikisahkan dalam cerita film KKN Desa Penari.

Seperti biasa, saya mewawancarai warga di dusun tersebut. Kaget bercampur penasaran setelah Fadilah, warga setempat, menyebut ada suara gamelan yang kerap terdengar setiap malam Jumat Kliwon. Sumbernya dari puncak Alas Gumitir, yang disebut Batu Napak Tilas dalam alur filmnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/