alexametrics
27.8 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Batu Napak Tilas di Atas Gunung Gumitir

KKN Desa Penari di Desa Sidomulyo Part 5

Mobile_AP_Rectangle 1
Suara gamelan di puncak Alas Gumitir diyakini berasal dari atas Batu Napak Tilas yang ada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo. Di tempat itu dipercaya ada seperangkat alat musik gamelan tak kasat mata seperti kisah KKN Desa Penari.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Batu Napak Tilas dalam cerita KKN Desa Penari memang menyimpan hal-hal yang tidak bisa dikejar akal sehat. Kisahnya, batu kuno tersebut menjadi singgasana sang penguasa desa atau ratu penari. Sementara, dalam film nama penari disebut Badarawuhi.

BACA JUGA : Menonton Berkali-kali Jadi Fenomena Baru di Film Film KKN di Desa Penari

Mobile_AP_Rectangle 2

Sang ratu penari gaib yang sempat dilihat peserta KKN sangat senang mendengar alunan gamelan di malam hari. Bahkan dulunya masyarakat turut meramaikan alunan gamelan yang disertai tarian tersebut.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember di Desa Sidomulyo menemukan Bentuk Napak Tilas yang sangat mirip kisah KKN Desa Penari. Batu besar yang berada di puncak Gumitir tersebut diyakini warga setempat sebagai singgasana bidadari pada zaman dulu. Konon, bidadari tersebut adalah putri dari kerajaan yang menguasai Desa Sidomulyo.

Dalam kisah KKN Desa Penari, hanya orang tertentu yang dapat memasuki area tersebut. Warga sekitar juga tidak bisa sembarangan menerobos masuk. Namun, sejumlah peserta KKN yang menetap di Desa Penari itu tidak mengindahkan aturan tersebut. Dua orang dalam kisahnya naik ke atas tanpa didampingi juru kunci. Hal ini yang menjadi awal mula sejumlah mahasiswa semakin masuk pada kisah-kisah horor.

Dulunya, di kehidupan Desa Sidomulyo, Batu Napak Tilas tersebut diyakini bisa memberikan ilmu kanuragan setelah bersemedi di atasnya. Masyarakat secara berkelompok kerap melaksanakan ritual hingga berhari-hari di puncak alas tersebut. Di tempat itu, mereka bertemu dengan sang bidadari penari yang akan memenuhi segala keinginan mereka.

“Saya dulu bersama sekawanan saya pernah bertirakat di Batu Napak Tilas itu. Setelah beberapa waktu di sana, kami bertemu dengan sesosok perempuan yang menyuruh kami untuk mengambil seperangkat alat musik gamelan,” kata Sutikno, seorang tokoh Desa Sidomulyo. Dia menceritakan, pengalaman itu juga dialami para petuah desa sebelumnya.

- Advertisement -
Suara gamelan di puncak Alas Gumitir diyakini berasal dari atas Batu Napak Tilas yang ada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo. Di tempat itu dipercaya ada seperangkat alat musik gamelan tak kasat mata seperti kisah KKN Desa Penari.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Batu Napak Tilas dalam cerita KKN Desa Penari memang menyimpan hal-hal yang tidak bisa dikejar akal sehat. Kisahnya, batu kuno tersebut menjadi singgasana sang penguasa desa atau ratu penari. Sementara, dalam film nama penari disebut Badarawuhi.

BACA JUGA : Menonton Berkali-kali Jadi Fenomena Baru di Film Film KKN di Desa Penari

Sang ratu penari gaib yang sempat dilihat peserta KKN sangat senang mendengar alunan gamelan di malam hari. Bahkan dulunya masyarakat turut meramaikan alunan gamelan yang disertai tarian tersebut.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember di Desa Sidomulyo menemukan Bentuk Napak Tilas yang sangat mirip kisah KKN Desa Penari. Batu besar yang berada di puncak Gumitir tersebut diyakini warga setempat sebagai singgasana bidadari pada zaman dulu. Konon, bidadari tersebut adalah putri dari kerajaan yang menguasai Desa Sidomulyo.

Dalam kisah KKN Desa Penari, hanya orang tertentu yang dapat memasuki area tersebut. Warga sekitar juga tidak bisa sembarangan menerobos masuk. Namun, sejumlah peserta KKN yang menetap di Desa Penari itu tidak mengindahkan aturan tersebut. Dua orang dalam kisahnya naik ke atas tanpa didampingi juru kunci. Hal ini yang menjadi awal mula sejumlah mahasiswa semakin masuk pada kisah-kisah horor.

Dulunya, di kehidupan Desa Sidomulyo, Batu Napak Tilas tersebut diyakini bisa memberikan ilmu kanuragan setelah bersemedi di atasnya. Masyarakat secara berkelompok kerap melaksanakan ritual hingga berhari-hari di puncak alas tersebut. Di tempat itu, mereka bertemu dengan sang bidadari penari yang akan memenuhi segala keinginan mereka.

“Saya dulu bersama sekawanan saya pernah bertirakat di Batu Napak Tilas itu. Setelah beberapa waktu di sana, kami bertemu dengan sesosok perempuan yang menyuruh kami untuk mengambil seperangkat alat musik gamelan,” kata Sutikno, seorang tokoh Desa Sidomulyo. Dia menceritakan, pengalaman itu juga dialami para petuah desa sebelumnya.

Suara gamelan di puncak Alas Gumitir diyakini berasal dari atas Batu Napak Tilas yang ada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo. Di tempat itu dipercaya ada seperangkat alat musik gamelan tak kasat mata seperti kisah KKN Desa Penari.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Batu Napak Tilas dalam cerita KKN Desa Penari memang menyimpan hal-hal yang tidak bisa dikejar akal sehat. Kisahnya, batu kuno tersebut menjadi singgasana sang penguasa desa atau ratu penari. Sementara, dalam film nama penari disebut Badarawuhi.

BACA JUGA : Menonton Berkali-kali Jadi Fenomena Baru di Film Film KKN di Desa Penari

Sang ratu penari gaib yang sempat dilihat peserta KKN sangat senang mendengar alunan gamelan di malam hari. Bahkan dulunya masyarakat turut meramaikan alunan gamelan yang disertai tarian tersebut.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember di Desa Sidomulyo menemukan Bentuk Napak Tilas yang sangat mirip kisah KKN Desa Penari. Batu besar yang berada di puncak Gumitir tersebut diyakini warga setempat sebagai singgasana bidadari pada zaman dulu. Konon, bidadari tersebut adalah putri dari kerajaan yang menguasai Desa Sidomulyo.

Dalam kisah KKN Desa Penari, hanya orang tertentu yang dapat memasuki area tersebut. Warga sekitar juga tidak bisa sembarangan menerobos masuk. Namun, sejumlah peserta KKN yang menetap di Desa Penari itu tidak mengindahkan aturan tersebut. Dua orang dalam kisahnya naik ke atas tanpa didampingi juru kunci. Hal ini yang menjadi awal mula sejumlah mahasiswa semakin masuk pada kisah-kisah horor.

Dulunya, di kehidupan Desa Sidomulyo, Batu Napak Tilas tersebut diyakini bisa memberikan ilmu kanuragan setelah bersemedi di atasnya. Masyarakat secara berkelompok kerap melaksanakan ritual hingga berhari-hari di puncak alas tersebut. Di tempat itu, mereka bertemu dengan sang bidadari penari yang akan memenuhi segala keinginan mereka.

“Saya dulu bersama sekawanan saya pernah bertirakat di Batu Napak Tilas itu. Setelah beberapa waktu di sana, kami bertemu dengan sesosok perempuan yang menyuruh kami untuk mengambil seperangkat alat musik gamelan,” kata Sutikno, seorang tokoh Desa Sidomulyo. Dia menceritakan, pengalaman itu juga dialami para petuah desa sebelumnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/