alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Perlu Siapkan Informasi Portabel 

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemacetan tak bisa dihindari. Apalagi di momen-momen Ramadan menjelang Lebaran. Biasanya, kemacetan lumrah terjadi di depan pusat perbelanjaan. Lantas, apakah keberadaan pusat perbelanjaan tersebut sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan sesuai dengan koridor yang diperbolehkan?

Pakar lalu lintas dari Universitas Jember (Unej), Sonya Sulistyo menjelaskan, secara prinsip, jika RTRW mengizinkan, maka suatu kawasan dapat menjadi pusat perbelanjaan atau kegiatan perniagaan. Adapun dalam koridor lalu lintas, jalan nasional masih diperbolehkan untuk dibangun pusat perbelanjaan. “Kalau RTRW oke, tapi belakangan muncul problem, maka bisa dicarikan solusinya bersama,” katanya.

Kemacetan memang menjadi masalah. Menurut Sonya, akar masalahnya adalah adanya penyempitan jalan. Misalnya, pada pembagunan jalan di eks pertokoan Jompo. Sedangkan kemacetan yang terjadi di depan Lippo Plaza, lebih disebabkan oleh gangguan aktivitas keluar/masuk orang atau pengunjung. Begitu juga dengan di depan Golden Market. “Jika kepadatan muncul, yang terjadi apa? Nah, dalam manajemen rekayasa lalu lintas, harus ada prioritas apa yang perlu diselesaikan,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selanjutnya, Sonya mengungkapkan, pada tahun-tahun sebelumnya, kepadatan yang sering terjadi adalah di Jalan Ahmad Yani. Sebab, mayoritas pengendara mengarah ke Jalan Trunojoyo, sehingga terjadi penumpukan kendaraan sebelum simpang tiga Tugu Koperasi. “Kalau tidak salah, dua tahun sebelum Covid-19 ada rencana rekayasa lalu lintas. Awalnya di jalan depan rumah makan Jawa Timur (Jalan Gatot Soebroto, Red). Mengarahnya ke polres,” terangnya.

Namun, pada saat seperti ini, dia menyarankan, sebaiknya rencana kontra flow itu diterapkan. Arus lalu lintas di Jalan Gatot Soebroto dibalik. Sehingga kendaraan dari Jalan Ahmad Yani bisa by pass ke Trunojoyo lewat Gatot Soebroto – RA Kartini atau depan Polres Jember. Skenario ini disebutnya bisa membagi kepadatan lalu lintas yang tertuju pada pusat kota.

Sonya menyatakan, rencana itu perlu dipertimbangkan untuk diberlakukan. Sebab, ketika menjelang Lebaran atau ketika jalur padat, di kawasan sebelum Golden Market tidak mampu menampung arus kendaraan. Bahkan, biasanya sampai mengular hingga simpang tiga Tugu Koperasi. “Problemnya dari arah Gladak Kembar ke Trunojoyo juga terjadi penumpukan,” jelasnya.

Sementara, solusi lain yang dapat dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) Jember yakni dengan memberikan informasi adanya kemacetan mulai di beberapa titik menuju kota. Dengan demikian, para pengendara yang akan masuk kawasan kota dapat mengganti rute alternatif, dan terhindar dari kemacetan. “Jadi, bisa langsung dialihkan jika ada informasi portabel yang disediakan oleh Dishub,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemacetan tak bisa dihindari. Apalagi di momen-momen Ramadan menjelang Lebaran. Biasanya, kemacetan lumrah terjadi di depan pusat perbelanjaan. Lantas, apakah keberadaan pusat perbelanjaan tersebut sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan sesuai dengan koridor yang diperbolehkan?

Pakar lalu lintas dari Universitas Jember (Unej), Sonya Sulistyo menjelaskan, secara prinsip, jika RTRW mengizinkan, maka suatu kawasan dapat menjadi pusat perbelanjaan atau kegiatan perniagaan. Adapun dalam koridor lalu lintas, jalan nasional masih diperbolehkan untuk dibangun pusat perbelanjaan. “Kalau RTRW oke, tapi belakangan muncul problem, maka bisa dicarikan solusinya bersama,” katanya.

Kemacetan memang menjadi masalah. Menurut Sonya, akar masalahnya adalah adanya penyempitan jalan. Misalnya, pada pembagunan jalan di eks pertokoan Jompo. Sedangkan kemacetan yang terjadi di depan Lippo Plaza, lebih disebabkan oleh gangguan aktivitas keluar/masuk orang atau pengunjung. Begitu juga dengan di depan Golden Market. “Jika kepadatan muncul, yang terjadi apa? Nah, dalam manajemen rekayasa lalu lintas, harus ada prioritas apa yang perlu diselesaikan,” paparnya.

Selanjutnya, Sonya mengungkapkan, pada tahun-tahun sebelumnya, kepadatan yang sering terjadi adalah di Jalan Ahmad Yani. Sebab, mayoritas pengendara mengarah ke Jalan Trunojoyo, sehingga terjadi penumpukan kendaraan sebelum simpang tiga Tugu Koperasi. “Kalau tidak salah, dua tahun sebelum Covid-19 ada rencana rekayasa lalu lintas. Awalnya di jalan depan rumah makan Jawa Timur (Jalan Gatot Soebroto, Red). Mengarahnya ke polres,” terangnya.

Namun, pada saat seperti ini, dia menyarankan, sebaiknya rencana kontra flow itu diterapkan. Arus lalu lintas di Jalan Gatot Soebroto dibalik. Sehingga kendaraan dari Jalan Ahmad Yani bisa by pass ke Trunojoyo lewat Gatot Soebroto – RA Kartini atau depan Polres Jember. Skenario ini disebutnya bisa membagi kepadatan lalu lintas yang tertuju pada pusat kota.

Sonya menyatakan, rencana itu perlu dipertimbangkan untuk diberlakukan. Sebab, ketika menjelang Lebaran atau ketika jalur padat, di kawasan sebelum Golden Market tidak mampu menampung arus kendaraan. Bahkan, biasanya sampai mengular hingga simpang tiga Tugu Koperasi. “Problemnya dari arah Gladak Kembar ke Trunojoyo juga terjadi penumpukan,” jelasnya.

Sementara, solusi lain yang dapat dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) Jember yakni dengan memberikan informasi adanya kemacetan mulai di beberapa titik menuju kota. Dengan demikian, para pengendara yang akan masuk kawasan kota dapat mengganti rute alternatif, dan terhindar dari kemacetan. “Jadi, bisa langsung dialihkan jika ada informasi portabel yang disediakan oleh Dishub,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemacetan tak bisa dihindari. Apalagi di momen-momen Ramadan menjelang Lebaran. Biasanya, kemacetan lumrah terjadi di depan pusat perbelanjaan. Lantas, apakah keberadaan pusat perbelanjaan tersebut sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan sesuai dengan koridor yang diperbolehkan?

Pakar lalu lintas dari Universitas Jember (Unej), Sonya Sulistyo menjelaskan, secara prinsip, jika RTRW mengizinkan, maka suatu kawasan dapat menjadi pusat perbelanjaan atau kegiatan perniagaan. Adapun dalam koridor lalu lintas, jalan nasional masih diperbolehkan untuk dibangun pusat perbelanjaan. “Kalau RTRW oke, tapi belakangan muncul problem, maka bisa dicarikan solusinya bersama,” katanya.

Kemacetan memang menjadi masalah. Menurut Sonya, akar masalahnya adalah adanya penyempitan jalan. Misalnya, pada pembagunan jalan di eks pertokoan Jompo. Sedangkan kemacetan yang terjadi di depan Lippo Plaza, lebih disebabkan oleh gangguan aktivitas keluar/masuk orang atau pengunjung. Begitu juga dengan di depan Golden Market. “Jika kepadatan muncul, yang terjadi apa? Nah, dalam manajemen rekayasa lalu lintas, harus ada prioritas apa yang perlu diselesaikan,” paparnya.

Selanjutnya, Sonya mengungkapkan, pada tahun-tahun sebelumnya, kepadatan yang sering terjadi adalah di Jalan Ahmad Yani. Sebab, mayoritas pengendara mengarah ke Jalan Trunojoyo, sehingga terjadi penumpukan kendaraan sebelum simpang tiga Tugu Koperasi. “Kalau tidak salah, dua tahun sebelum Covid-19 ada rencana rekayasa lalu lintas. Awalnya di jalan depan rumah makan Jawa Timur (Jalan Gatot Soebroto, Red). Mengarahnya ke polres,” terangnya.

Namun, pada saat seperti ini, dia menyarankan, sebaiknya rencana kontra flow itu diterapkan. Arus lalu lintas di Jalan Gatot Soebroto dibalik. Sehingga kendaraan dari Jalan Ahmad Yani bisa by pass ke Trunojoyo lewat Gatot Soebroto – RA Kartini atau depan Polres Jember. Skenario ini disebutnya bisa membagi kepadatan lalu lintas yang tertuju pada pusat kota.

Sonya menyatakan, rencana itu perlu dipertimbangkan untuk diberlakukan. Sebab, ketika menjelang Lebaran atau ketika jalur padat, di kawasan sebelum Golden Market tidak mampu menampung arus kendaraan. Bahkan, biasanya sampai mengular hingga simpang tiga Tugu Koperasi. “Problemnya dari arah Gladak Kembar ke Trunojoyo juga terjadi penumpukan,” jelasnya.

Sementara, solusi lain yang dapat dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) Jember yakni dengan memberikan informasi adanya kemacetan mulai di beberapa titik menuju kota. Dengan demikian, para pengendara yang akan masuk kawasan kota dapat mengganti rute alternatif, dan terhindar dari kemacetan. “Jadi, bisa langsung dialihkan jika ada informasi portabel yang disediakan oleh Dishub,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/