alexametrics
26 C
Jember
Wednesday, 26 January 2022

Evaluasi Pertokoan dan Pusat Perbelanjaan

Keberadaan pertokoan dan pusat perbelanjaan di kanan kiri jalan protokol kerap menyumbang kemacetan. Apalagi, saat Ramadan dan menjelang Lebaran. Kerap dijumpai, antrean kendaraan mengular di sejumlah ruas jalan. Mulai dari kawasan perkotaan Jalan Trunojoyo, hingga pinggiran di Kecamatan Rambipuji. Kenapa pemerintah diam-diam bae?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam catatan, kemacetan disumbang berbagai faktor. Dari peningkatan jumlah pengguna jalan, baik mobil maupun motor, tiap tahun, alih fungsi bahu jalan menjadi lokasi parkir, arus keluar/masuk mobil di pusat perbelanjaan, hingga tidak adanya jalur alternatif ketika jalur utama padat kendaraan. Beragam persoalan inilah yang seharusnya dituntaskan oleh pemerintah agar masalah serupa tak terulang setiap tahunnya.

Di sejumlah titik di Jember, kemacetan juga dipicu oleh banyaknya aktivitas di sekitar pinggir jalan. Contoh sederhananya di sekitar Jalan Rambipuji, arah lampu merah Rambipuji ke barat sampai Kaliputih atau pertigaan jatian.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, jalur sepanjang sekitar 2 kilometer itu cukup padat aktivitas masyarakat di kanan kiri jalan. Berbagai aktivitas tumpah ruah di situ. Ada pasar, lalu lalang kendaraan pedagang dan pembeli di pertokoan. Lalu, Ruang Terbuka Hijau (RTH) Rambipuji yang setiap waktu selalu dikunjungi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ada pula aktivitas para pemilik toko atau ruko di sekitar Jalan Rambipuji. Rata-rata, para pemilik toko serampangan melakukan bongkar muat barang, dan armada pengangkut berhenti di pinggir jalan. Belum lagi, beberapa lapak ada yang sampai menerabas trotoar.

Kondisi ini jelas mengganggu pengguna jalan yang datang dari dua arah berlawanan. Apalagi, jalan itu menjadi jalur nasional yang merupakan akses kendaraan besar, baik yang masuk maupun yang keluar Jember kota. Misalnya bus dan armada ekspedisi. Pada jam-jam sibuk, kemacetan pun sulit dihindarkan. “Sudah biasa macet di sini. Paling parah biasanya pada jam berangkat dan pulang kerja,” kata Saiful, juru parkir (jukir) di sekitar Rambipuji.

Jalan Rambipuji memang cukup padat dan sulit diurai akar permasalahannya. Sekalipun ada pelebaran jalan, hal itu juga dinilai sulit. Sebab, hampir semua bangunan di sekitar jalan itu berdiri tepat berhadapan langsung dengan jalan raya. Hanya dipisahkan trotoar. “Kalau mau dibenahi, ya harus serius. Harus pemerintah yang melakukannya,” ucap Hidayatullah, warga setempat, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, pekan kemarin.

Kemacetan di Jalan Rambipuji bisa jadi contoh kecil. Jika bergeser ke arah Jember kota, kemacetan serupa juga sering terjadi, serta sulit dihindarkan. Seperti di sejumlah ruas jalan yang terdapat toko dan pusat perbelanjaan. Banyaknya aktivitas keluar/masuk barang, kendaraan konsumen, hingga bongkar muat barang dan minimnya lahan parkir yang memadai, disebut-sebut jadi biang macet.

Di sekitar Jalan Hayam Wuruk, Jalan Gajah Mada, hingga Sultan Agung, cukup banyak pusat perbelanjaan yang bertengger di sekitar jalan. Meski beberapa di antaranya telah menyediakan lahan parkir yang cukup layak. Sebab, akses kendaraan keluar/masuk ke pusat perbelanjaan sekitar jalan tersebut masih leluasa. “Sering terjadi macet, tapi lebih banyak karena aktivitas pengguna jalan yang berhenti di lampu merah,” ujar salah seorang jukir di Jalan Hayam Wuruk.

Pemandangan kemacetan di sekitar jalan tersebut memang jarang terlihat. Banyak yang menilai, hal itu diuntungkan karena keberadaan double way. Di sejumlah titik, justru kepadatan kendaraan kerap ditemui di jalur satu arah. Seperti kepadatan yang biasa terjadi di sekitar Jalan Trunojoyo.

Jalan Trunojoyo dan kemacetan seperti sudah satu paket. Bagaimana tidak, hampir setiap toko dan pusat perbelanjaan di sekitar jalan tersebut nyaris tidak ada batas. Hanya dipisahkan trotoar. Belum lagi, sebuah pusat perbelanjaan di jalan ini juga disebut-sebut penyumbang utama terjadinya kemacetan. Yakni Golden Market atau GM.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam catatan, kemacetan disumbang berbagai faktor. Dari peningkatan jumlah pengguna jalan, baik mobil maupun motor, tiap tahun, alih fungsi bahu jalan menjadi lokasi parkir, arus keluar/masuk mobil di pusat perbelanjaan, hingga tidak adanya jalur alternatif ketika jalur utama padat kendaraan. Beragam persoalan inilah yang seharusnya dituntaskan oleh pemerintah agar masalah serupa tak terulang setiap tahunnya.

Di sejumlah titik di Jember, kemacetan juga dipicu oleh banyaknya aktivitas di sekitar pinggir jalan. Contoh sederhananya di sekitar Jalan Rambipuji, arah lampu merah Rambipuji ke barat sampai Kaliputih atau pertigaan jatian.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, jalur sepanjang sekitar 2 kilometer itu cukup padat aktivitas masyarakat di kanan kiri jalan. Berbagai aktivitas tumpah ruah di situ. Ada pasar, lalu lalang kendaraan pedagang dan pembeli di pertokoan. Lalu, Ruang Terbuka Hijau (RTH) Rambipuji yang setiap waktu selalu dikunjungi.

Ada pula aktivitas para pemilik toko atau ruko di sekitar Jalan Rambipuji. Rata-rata, para pemilik toko serampangan melakukan bongkar muat barang, dan armada pengangkut berhenti di pinggir jalan. Belum lagi, beberapa lapak ada yang sampai menerabas trotoar.

Kondisi ini jelas mengganggu pengguna jalan yang datang dari dua arah berlawanan. Apalagi, jalan itu menjadi jalur nasional yang merupakan akses kendaraan besar, baik yang masuk maupun yang keluar Jember kota. Misalnya bus dan armada ekspedisi. Pada jam-jam sibuk, kemacetan pun sulit dihindarkan. “Sudah biasa macet di sini. Paling parah biasanya pada jam berangkat dan pulang kerja,” kata Saiful, juru parkir (jukir) di sekitar Rambipuji.

Jalan Rambipuji memang cukup padat dan sulit diurai akar permasalahannya. Sekalipun ada pelebaran jalan, hal itu juga dinilai sulit. Sebab, hampir semua bangunan di sekitar jalan itu berdiri tepat berhadapan langsung dengan jalan raya. Hanya dipisahkan trotoar. “Kalau mau dibenahi, ya harus serius. Harus pemerintah yang melakukannya,” ucap Hidayatullah, warga setempat, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, pekan kemarin.

Kemacetan di Jalan Rambipuji bisa jadi contoh kecil. Jika bergeser ke arah Jember kota, kemacetan serupa juga sering terjadi, serta sulit dihindarkan. Seperti di sejumlah ruas jalan yang terdapat toko dan pusat perbelanjaan. Banyaknya aktivitas keluar/masuk barang, kendaraan konsumen, hingga bongkar muat barang dan minimnya lahan parkir yang memadai, disebut-sebut jadi biang macet.

Di sekitar Jalan Hayam Wuruk, Jalan Gajah Mada, hingga Sultan Agung, cukup banyak pusat perbelanjaan yang bertengger di sekitar jalan. Meski beberapa di antaranya telah menyediakan lahan parkir yang cukup layak. Sebab, akses kendaraan keluar/masuk ke pusat perbelanjaan sekitar jalan tersebut masih leluasa. “Sering terjadi macet, tapi lebih banyak karena aktivitas pengguna jalan yang berhenti di lampu merah,” ujar salah seorang jukir di Jalan Hayam Wuruk.

Pemandangan kemacetan di sekitar jalan tersebut memang jarang terlihat. Banyak yang menilai, hal itu diuntungkan karena keberadaan double way. Di sejumlah titik, justru kepadatan kendaraan kerap ditemui di jalur satu arah. Seperti kepadatan yang biasa terjadi di sekitar Jalan Trunojoyo.

Jalan Trunojoyo dan kemacetan seperti sudah satu paket. Bagaimana tidak, hampir setiap toko dan pusat perbelanjaan di sekitar jalan tersebut nyaris tidak ada batas. Hanya dipisahkan trotoar. Belum lagi, sebuah pusat perbelanjaan di jalan ini juga disebut-sebut penyumbang utama terjadinya kemacetan. Yakni Golden Market atau GM.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam catatan, kemacetan disumbang berbagai faktor. Dari peningkatan jumlah pengguna jalan, baik mobil maupun motor, tiap tahun, alih fungsi bahu jalan menjadi lokasi parkir, arus keluar/masuk mobil di pusat perbelanjaan, hingga tidak adanya jalur alternatif ketika jalur utama padat kendaraan. Beragam persoalan inilah yang seharusnya dituntaskan oleh pemerintah agar masalah serupa tak terulang setiap tahunnya.

Di sejumlah titik di Jember, kemacetan juga dipicu oleh banyaknya aktivitas di sekitar pinggir jalan. Contoh sederhananya di sekitar Jalan Rambipuji, arah lampu merah Rambipuji ke barat sampai Kaliputih atau pertigaan jatian.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, jalur sepanjang sekitar 2 kilometer itu cukup padat aktivitas masyarakat di kanan kiri jalan. Berbagai aktivitas tumpah ruah di situ. Ada pasar, lalu lalang kendaraan pedagang dan pembeli di pertokoan. Lalu, Ruang Terbuka Hijau (RTH) Rambipuji yang setiap waktu selalu dikunjungi.

Ada pula aktivitas para pemilik toko atau ruko di sekitar Jalan Rambipuji. Rata-rata, para pemilik toko serampangan melakukan bongkar muat barang, dan armada pengangkut berhenti di pinggir jalan. Belum lagi, beberapa lapak ada yang sampai menerabas trotoar.

Kondisi ini jelas mengganggu pengguna jalan yang datang dari dua arah berlawanan. Apalagi, jalan itu menjadi jalur nasional yang merupakan akses kendaraan besar, baik yang masuk maupun yang keluar Jember kota. Misalnya bus dan armada ekspedisi. Pada jam-jam sibuk, kemacetan pun sulit dihindarkan. “Sudah biasa macet di sini. Paling parah biasanya pada jam berangkat dan pulang kerja,” kata Saiful, juru parkir (jukir) di sekitar Rambipuji.

Jalan Rambipuji memang cukup padat dan sulit diurai akar permasalahannya. Sekalipun ada pelebaran jalan, hal itu juga dinilai sulit. Sebab, hampir semua bangunan di sekitar jalan itu berdiri tepat berhadapan langsung dengan jalan raya. Hanya dipisahkan trotoar. “Kalau mau dibenahi, ya harus serius. Harus pemerintah yang melakukannya,” ucap Hidayatullah, warga setempat, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, pekan kemarin.

Kemacetan di Jalan Rambipuji bisa jadi contoh kecil. Jika bergeser ke arah Jember kota, kemacetan serupa juga sering terjadi, serta sulit dihindarkan. Seperti di sejumlah ruas jalan yang terdapat toko dan pusat perbelanjaan. Banyaknya aktivitas keluar/masuk barang, kendaraan konsumen, hingga bongkar muat barang dan minimnya lahan parkir yang memadai, disebut-sebut jadi biang macet.

Di sekitar Jalan Hayam Wuruk, Jalan Gajah Mada, hingga Sultan Agung, cukup banyak pusat perbelanjaan yang bertengger di sekitar jalan. Meski beberapa di antaranya telah menyediakan lahan parkir yang cukup layak. Sebab, akses kendaraan keluar/masuk ke pusat perbelanjaan sekitar jalan tersebut masih leluasa. “Sering terjadi macet, tapi lebih banyak karena aktivitas pengguna jalan yang berhenti di lampu merah,” ujar salah seorang jukir di Jalan Hayam Wuruk.

Pemandangan kemacetan di sekitar jalan tersebut memang jarang terlihat. Banyak yang menilai, hal itu diuntungkan karena keberadaan double way. Di sejumlah titik, justru kepadatan kendaraan kerap ditemui di jalur satu arah. Seperti kepadatan yang biasa terjadi di sekitar Jalan Trunojoyo.

Jalan Trunojoyo dan kemacetan seperti sudah satu paket. Bagaimana tidak, hampir setiap toko dan pusat perbelanjaan di sekitar jalan tersebut nyaris tidak ada batas. Hanya dipisahkan trotoar. Belum lagi, sebuah pusat perbelanjaan di jalan ini juga disebut-sebut penyumbang utama terjadinya kemacetan. Yakni Golden Market atau GM.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca