alexametrics
23.1 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Tonase Kendaraan Masih Sulit Terkontrol

Jalanan Baru Rentan Berumur Pendek

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Proses pengerjaan perbaikan jalan yang berlangsung massal di Jember perlu sebuah pengawasan dan penertiban. Bukan terkait pekerjaannya, melainkan tentang penggunaan jalannya. Pasalnya, rentan terjadi kendaraan yang melebihi kapasitas melintas.

Baca Juga : Balap Liar di Jember Kambuh Lagi, Nekad Gunakan Jalanan Kota

Sebagaimana diketahui, di Jember ada berbagai jenis atau tipe jalan dengan kapasitas maksimal yang bisa dilewati. “Yang efektif untuk kontrol tonase memang melalui jembatan timbang. Namun, jembatan timbang di Jember sudah diambil alih pusat. Kelemahannya di situ,” ucap Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Jember Agus Wijaya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pemberlakuan over dimension dan overloading atau disebut odol, menurutnya, dinilainya menjadi kebijakan nasional yang dicanangkan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Sebab, kendaraan odol dapat mengancam keselamatan pengemudi, memicu kemacetan, bahkan berimbas pada kerusakan badan jalan. “Kami masih menyosialisasikan tentang odol ini. Targetnya, zero odol per tanggal 1 Januari 2023,” kata Agus.

Selain jalan nasional bebas odol, pihaknya juga tengah memetakan jalan kelas III yang ada di Jember untuk dipasangi papan ketentuan kendaraan yang diperbolehkan melintas. Jalan kelas III merupakan jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan yang dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,1 meter, ukuran panjang tidak melebihi sembilan meter, tinggi maksimum 3,5 meter, dan muatan sumbu terberat delapan ton.

Menurut dia, selama ini fenomena jalan rusak dan kontrol terhadap kendaraan yang melintasinya sering kali dikeluhkan masyarakat. Hal itu berimbas pada kerusakan jalan dan membuat jalan yang baru diperbaiki tidak berumur panjang. Bahkan kendaraan-kendaraan nakal, yaitu over kapasitas itu, lanjut dia, sering kali dilakukan modifikasi agar bisa bermuatan lebih. “Namun, ketika dilakukan pengujian KIR, pemilik kendaraan mendesain ulang kendaraan dalam kondisi standar. Ini sering kali kami dengan mereka kucing-kucingan,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Proses pengerjaan perbaikan jalan yang berlangsung massal di Jember perlu sebuah pengawasan dan penertiban. Bukan terkait pekerjaannya, melainkan tentang penggunaan jalannya. Pasalnya, rentan terjadi kendaraan yang melebihi kapasitas melintas.

Baca Juga : Balap Liar di Jember Kambuh Lagi, Nekad Gunakan Jalanan Kota

Sebagaimana diketahui, di Jember ada berbagai jenis atau tipe jalan dengan kapasitas maksimal yang bisa dilewati. “Yang efektif untuk kontrol tonase memang melalui jembatan timbang. Namun, jembatan timbang di Jember sudah diambil alih pusat. Kelemahannya di situ,” ucap Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Jember Agus Wijaya.

Pemberlakuan over dimension dan overloading atau disebut odol, menurutnya, dinilainya menjadi kebijakan nasional yang dicanangkan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Sebab, kendaraan odol dapat mengancam keselamatan pengemudi, memicu kemacetan, bahkan berimbas pada kerusakan badan jalan. “Kami masih menyosialisasikan tentang odol ini. Targetnya, zero odol per tanggal 1 Januari 2023,” kata Agus.

Selain jalan nasional bebas odol, pihaknya juga tengah memetakan jalan kelas III yang ada di Jember untuk dipasangi papan ketentuan kendaraan yang diperbolehkan melintas. Jalan kelas III merupakan jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan yang dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,1 meter, ukuran panjang tidak melebihi sembilan meter, tinggi maksimum 3,5 meter, dan muatan sumbu terberat delapan ton.

Menurut dia, selama ini fenomena jalan rusak dan kontrol terhadap kendaraan yang melintasinya sering kali dikeluhkan masyarakat. Hal itu berimbas pada kerusakan jalan dan membuat jalan yang baru diperbaiki tidak berumur panjang. Bahkan kendaraan-kendaraan nakal, yaitu over kapasitas itu, lanjut dia, sering kali dilakukan modifikasi agar bisa bermuatan lebih. “Namun, ketika dilakukan pengujian KIR, pemilik kendaraan mendesain ulang kendaraan dalam kondisi standar. Ini sering kali kami dengan mereka kucing-kucingan,” terangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Proses pengerjaan perbaikan jalan yang berlangsung massal di Jember perlu sebuah pengawasan dan penertiban. Bukan terkait pekerjaannya, melainkan tentang penggunaan jalannya. Pasalnya, rentan terjadi kendaraan yang melebihi kapasitas melintas.

Baca Juga : Balap Liar di Jember Kambuh Lagi, Nekad Gunakan Jalanan Kota

Sebagaimana diketahui, di Jember ada berbagai jenis atau tipe jalan dengan kapasitas maksimal yang bisa dilewati. “Yang efektif untuk kontrol tonase memang melalui jembatan timbang. Namun, jembatan timbang di Jember sudah diambil alih pusat. Kelemahannya di situ,” ucap Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Jember Agus Wijaya.

Pemberlakuan over dimension dan overloading atau disebut odol, menurutnya, dinilainya menjadi kebijakan nasional yang dicanangkan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Sebab, kendaraan odol dapat mengancam keselamatan pengemudi, memicu kemacetan, bahkan berimbas pada kerusakan badan jalan. “Kami masih menyosialisasikan tentang odol ini. Targetnya, zero odol per tanggal 1 Januari 2023,” kata Agus.

Selain jalan nasional bebas odol, pihaknya juga tengah memetakan jalan kelas III yang ada di Jember untuk dipasangi papan ketentuan kendaraan yang diperbolehkan melintas. Jalan kelas III merupakan jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan yang dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,1 meter, ukuran panjang tidak melebihi sembilan meter, tinggi maksimum 3,5 meter, dan muatan sumbu terberat delapan ton.

Menurut dia, selama ini fenomena jalan rusak dan kontrol terhadap kendaraan yang melintasinya sering kali dikeluhkan masyarakat. Hal itu berimbas pada kerusakan jalan dan membuat jalan yang baru diperbaiki tidak berumur panjang. Bahkan kendaraan-kendaraan nakal, yaitu over kapasitas itu, lanjut dia, sering kali dilakukan modifikasi agar bisa bermuatan lebih. “Namun, ketika dilakukan pengujian KIR, pemilik kendaraan mendesain ulang kendaraan dalam kondisi standar. Ini sering kali kami dengan mereka kucing-kucingan,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/