alexametrics
28 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Tidak Semua Siswa Membutuhkan Kuota

Efektivitas Subsidi Kuota bagi SLB

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suasana belajar di tengah pandemi sudah berlangsung selama lebih dari dua semester. Siswa dan guru telah dibiasakan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Alokasi subsidi penunjang sistem pembelajaran pun ramai-ramai turun di kalangan pelajar. Tak terkecuali para pelajar sekolah luar biasa (SLB).

Namun, tak semuanya menganggap sistem daring dan subsidi kuota menjadi alternatif yang efektif bagi pembelajaran. Menurut Rahman Hadi, salah satu guru SLB Negeri Jember, paket kuota yang telah disubsidi belum sepenuhnya menjawab masalah anak-anak kebutuhan khusus. Terlebih untuk jenjang sekolah dasar.

Menurut dia, siswa SDLB lebih menguatkan pembelajaran dengan sistem face to face. Dalam satu minggu, murid di sekolah wajib melakukan pertemuan tatap muka. “Paling tidak tiga hari dalam satu pekan,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Rahman mengakui bahwa semua muridnya mendapat subsidi kuota internet yang langsung terkirim ke nomor ponsel wali murid. Nah, di sinilah muncul kendala. Tidak sedikit wali murid yang tak memiliki ponsel. Imbasnya, anak-anak pun tidak bisa mengakses pelajaran melalui daring. Selain itu, ada juga ponsel yang dipakai untuk kegiatan belajar mengajar, harus dibawa orang tuanya bekerja.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suasana belajar di tengah pandemi sudah berlangsung selama lebih dari dua semester. Siswa dan guru telah dibiasakan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Alokasi subsidi penunjang sistem pembelajaran pun ramai-ramai turun di kalangan pelajar. Tak terkecuali para pelajar sekolah luar biasa (SLB).

Namun, tak semuanya menganggap sistem daring dan subsidi kuota menjadi alternatif yang efektif bagi pembelajaran. Menurut Rahman Hadi, salah satu guru SLB Negeri Jember, paket kuota yang telah disubsidi belum sepenuhnya menjawab masalah anak-anak kebutuhan khusus. Terlebih untuk jenjang sekolah dasar.

Menurut dia, siswa SDLB lebih menguatkan pembelajaran dengan sistem face to face. Dalam satu minggu, murid di sekolah wajib melakukan pertemuan tatap muka. “Paling tidak tiga hari dalam satu pekan,” ujarnya.

Rahman mengakui bahwa semua muridnya mendapat subsidi kuota internet yang langsung terkirim ke nomor ponsel wali murid. Nah, di sinilah muncul kendala. Tidak sedikit wali murid yang tak memiliki ponsel. Imbasnya, anak-anak pun tidak bisa mengakses pelajaran melalui daring. Selain itu, ada juga ponsel yang dipakai untuk kegiatan belajar mengajar, harus dibawa orang tuanya bekerja.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suasana belajar di tengah pandemi sudah berlangsung selama lebih dari dua semester. Siswa dan guru telah dibiasakan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Alokasi subsidi penunjang sistem pembelajaran pun ramai-ramai turun di kalangan pelajar. Tak terkecuali para pelajar sekolah luar biasa (SLB).

Namun, tak semuanya menganggap sistem daring dan subsidi kuota menjadi alternatif yang efektif bagi pembelajaran. Menurut Rahman Hadi, salah satu guru SLB Negeri Jember, paket kuota yang telah disubsidi belum sepenuhnya menjawab masalah anak-anak kebutuhan khusus. Terlebih untuk jenjang sekolah dasar.

Menurut dia, siswa SDLB lebih menguatkan pembelajaran dengan sistem face to face. Dalam satu minggu, murid di sekolah wajib melakukan pertemuan tatap muka. “Paling tidak tiga hari dalam satu pekan,” ujarnya.

Rahman mengakui bahwa semua muridnya mendapat subsidi kuota internet yang langsung terkirim ke nomor ponsel wali murid. Nah, di sinilah muncul kendala. Tidak sedikit wali murid yang tak memiliki ponsel. Imbasnya, anak-anak pun tidak bisa mengakses pelajaran melalui daring. Selain itu, ada juga ponsel yang dipakai untuk kegiatan belajar mengajar, harus dibawa orang tuanya bekerja.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/