alexametrics
28.2 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Dampak Kerusakan Gempa Jember Bertambah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gempa yang menggoyang Jember, Kamis (16/12) pagi, mengakibatkan sejumlah rumah dan fasilitas umum rusak. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, dampak kerusakan itu terus bertambah. Total sebanyak 46 rumah rusak. Baik ringan, sedang, maupun berat. Bangunan yang terdampak gempa Jember  itu tersebar di enam kecamatan di Jember, yakni Ambulu, Tempurejo, Wuluhan, Puger, Silo, dan Sukorambi.

“Awalnya ada 16, terus 30. Sekarang 46 rumah yang terdampak. Paling banyak di Ambulu Jember, ada 33 rumah,” kata Sigit Akbari, Plt Kepala BPBD Jember, saat ditemui di ruangannya, kemarin (17/12).

Selain rumah, Sigit menyampaikan, juga ada fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan di Ambulu. Namun, untuk korban jiwa atas terjadinya gempa Jember tidak ada. Beberapa warga hanya mengalami luka ringan dan sedang yang kini telah mendapatkan perawatan di puskesmas. “Tidak ada korban jiwa. Ada korban yang terkilir. Ada yang tertimpa reruntuhan atap,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pihaknya tidak bisa memprediksi kemungkinan adanya gempa Jember susulan yang bakal terjadi lagi. Namun, kata dia, potensi gempa masih ada. Berdasarkan pantauannya, secara umum gempa 2 skala Richter (SR) terjadi setiap 13 menit. “Kami tidak bisa memastikan ada gempa lagi atau tidak. Namun, potensi gempa lagi itu ada,” jelasnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) sejauh ini juga terus melakukan analisis data pasca-terjadinya gempa di Jember yang terjadi berdekatan, Senin (13/12) dan Kamis (17/12). Pengumpulan data makroseismik dan mikroseismik itu dilakukan di wilayah yang terdampak gempa. Pengumpulan data itu dilakukan langsung oleh Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Geofisika Pasuruan Bagian dari BMKG. Lokasinya di wilayah Pantai Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kamis malam (17/12).

Menurut Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Geofisika Pasuruan Suwarto, pihaknya melakukan pengumpulan data makroseismik dan mikroseismik itu bertujuan untuk memetakan dampak kerusakan akibat gempa. Juga untuk mengetahui struktur batuan di bawah permukaan daerah yang mengalami kerusakan akibat gempa. Pendataan dan pemetaan itu menggunakan alat seismograf.

Dari hasil pendataan yang dilakukan, Suwarto menyatakan, bangunan yang terdampak gempa Jember  tidak memenuhi standar. Ia mengatakan, hampir semua tidak ada kolom besi berdasarkan analisis awal. “Selain itu, rumah yang berada di sekitaran pantai struktur batuannya lunak. Sehingga mudah terpengaruh getaran,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gempa yang menggoyang Jember, Kamis (16/12) pagi, mengakibatkan sejumlah rumah dan fasilitas umum rusak. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, dampak kerusakan itu terus bertambah. Total sebanyak 46 rumah rusak. Baik ringan, sedang, maupun berat. Bangunan yang terdampak gempa Jember  itu tersebar di enam kecamatan di Jember, yakni Ambulu, Tempurejo, Wuluhan, Puger, Silo, dan Sukorambi.

“Awalnya ada 16, terus 30. Sekarang 46 rumah yang terdampak. Paling banyak di Ambulu Jember, ada 33 rumah,” kata Sigit Akbari, Plt Kepala BPBD Jember, saat ditemui di ruangannya, kemarin (17/12).

Selain rumah, Sigit menyampaikan, juga ada fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan di Ambulu. Namun, untuk korban jiwa atas terjadinya gempa Jember tidak ada. Beberapa warga hanya mengalami luka ringan dan sedang yang kini telah mendapatkan perawatan di puskesmas. “Tidak ada korban jiwa. Ada korban yang terkilir. Ada yang tertimpa reruntuhan atap,” ungkapnya.

Pihaknya tidak bisa memprediksi kemungkinan adanya gempa Jember susulan yang bakal terjadi lagi. Namun, kata dia, potensi gempa masih ada. Berdasarkan pantauannya, secara umum gempa 2 skala Richter (SR) terjadi setiap 13 menit. “Kami tidak bisa memastikan ada gempa lagi atau tidak. Namun, potensi gempa lagi itu ada,” jelasnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) sejauh ini juga terus melakukan analisis data pasca-terjadinya gempa di Jember yang terjadi berdekatan, Senin (13/12) dan Kamis (17/12). Pengumpulan data makroseismik dan mikroseismik itu dilakukan di wilayah yang terdampak gempa. Pengumpulan data itu dilakukan langsung oleh Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Geofisika Pasuruan Bagian dari BMKG. Lokasinya di wilayah Pantai Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kamis malam (17/12).

Menurut Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Geofisika Pasuruan Suwarto, pihaknya melakukan pengumpulan data makroseismik dan mikroseismik itu bertujuan untuk memetakan dampak kerusakan akibat gempa. Juga untuk mengetahui struktur batuan di bawah permukaan daerah yang mengalami kerusakan akibat gempa. Pendataan dan pemetaan itu menggunakan alat seismograf.

Dari hasil pendataan yang dilakukan, Suwarto menyatakan, bangunan yang terdampak gempa Jember  tidak memenuhi standar. Ia mengatakan, hampir semua tidak ada kolom besi berdasarkan analisis awal. “Selain itu, rumah yang berada di sekitaran pantai struktur batuannya lunak. Sehingga mudah terpengaruh getaran,” terangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gempa yang menggoyang Jember, Kamis (16/12) pagi, mengakibatkan sejumlah rumah dan fasilitas umum rusak. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, dampak kerusakan itu terus bertambah. Total sebanyak 46 rumah rusak. Baik ringan, sedang, maupun berat. Bangunan yang terdampak gempa Jember  itu tersebar di enam kecamatan di Jember, yakni Ambulu, Tempurejo, Wuluhan, Puger, Silo, dan Sukorambi.

“Awalnya ada 16, terus 30. Sekarang 46 rumah yang terdampak. Paling banyak di Ambulu Jember, ada 33 rumah,” kata Sigit Akbari, Plt Kepala BPBD Jember, saat ditemui di ruangannya, kemarin (17/12).

Selain rumah, Sigit menyampaikan, juga ada fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan di Ambulu. Namun, untuk korban jiwa atas terjadinya gempa Jember tidak ada. Beberapa warga hanya mengalami luka ringan dan sedang yang kini telah mendapatkan perawatan di puskesmas. “Tidak ada korban jiwa. Ada korban yang terkilir. Ada yang tertimpa reruntuhan atap,” ungkapnya.

Pihaknya tidak bisa memprediksi kemungkinan adanya gempa Jember susulan yang bakal terjadi lagi. Namun, kata dia, potensi gempa masih ada. Berdasarkan pantauannya, secara umum gempa 2 skala Richter (SR) terjadi setiap 13 menit. “Kami tidak bisa memastikan ada gempa lagi atau tidak. Namun, potensi gempa lagi itu ada,” jelasnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) sejauh ini juga terus melakukan analisis data pasca-terjadinya gempa di Jember yang terjadi berdekatan, Senin (13/12) dan Kamis (17/12). Pengumpulan data makroseismik dan mikroseismik itu dilakukan di wilayah yang terdampak gempa. Pengumpulan data itu dilakukan langsung oleh Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Geofisika Pasuruan Bagian dari BMKG. Lokasinya di wilayah Pantai Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kamis malam (17/12).

Menurut Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Geofisika Pasuruan Suwarto, pihaknya melakukan pengumpulan data makroseismik dan mikroseismik itu bertujuan untuk memetakan dampak kerusakan akibat gempa. Juga untuk mengetahui struktur batuan di bawah permukaan daerah yang mengalami kerusakan akibat gempa. Pendataan dan pemetaan itu menggunakan alat seismograf.

Dari hasil pendataan yang dilakukan, Suwarto menyatakan, bangunan yang terdampak gempa Jember  tidak memenuhi standar. Ia mengatakan, hampir semua tidak ada kolom besi berdasarkan analisis awal. “Selain itu, rumah yang berada di sekitaran pantai struktur batuannya lunak. Sehingga mudah terpengaruh getaran,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/