alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Tak Pernah Bermimpi, Andalkan Doa dan Restu Orang Tua

Dia dinobatkan sebagai mahasiswa peraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi. Padahal, dia tak pernah bermimpi sebelumnya. Selama proses belajar, hanya dua yang menjadi pegangan. Yakni, doa dan restu orang tua.

Mobile_AP_Rectangle 1

Ibunya, Almarhumah Siti Ngaisah, berpesan agar segera mengabdikan ilmu yang telah diperoleh. Ibunda Latifah wafat pada 2017 lalu. Meski sempat membuatnya terpuruk, Latifah segera sadar dan harus tetap semangat untuk mengejar impiannya menjadi seorang guru. Sejak itu, ayahnya menjadi satu-satunya sumber doa dan restu. “Sejak ibu meninggal, saya pamitnya ke ayah. Mau ujian juga pamit ke ayah,” katanya.

Selama kuliah di Kampus Tegalboto, sulung dari tiga bersaudara itu ternyata juga penuh prestasi. Latifa pernah menjadi juara pertama debat ekonomi yang digelar di program studinya. Daya kreativitasnya disalurkan dengan meneliti buah naga sebagai bahan lipstik. Buah naga memang banyak ditanam di desanya. Karyanya tersebut berhasil mengantarkan dia sebagai finalis dalam ajang Pekan Kreativitas Mahasiswa di Unej. Puncaknya, Latifah terpilih sebagai juara pertama mahasiswa berprestasi FKIP tahun 2019 lalu.

Tak hanya jago di bidang akademik, Latifah ternyata pecinta sastra, khususnya menulis puisi, dan cerita pendek. Bahkan, puisinya pernah dibukukan oleh sebuah penerbit. “Daripada bengong di kosan, jadi saya manfaatkan untuk menulis puisi dan cerpen,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Walau kini Latifah belum menjadi seorang pendidik seutuhnya, dia sudah mempersiapkan segala hal secara maksimal. Selama pandemi ini, Latifah telah merumuskan metode pembelajaran yang progresif. “Saya ingin membuat metode pembelajaran yang berbasis studi kasus. Jadi, siswa akan mengobservasi kondisi yang ada dan mengaitkannya dengan teori,” papar alumnus MAN 2 Banyuwangi tersebut.

- Advertisement -

Ibunya, Almarhumah Siti Ngaisah, berpesan agar segera mengabdikan ilmu yang telah diperoleh. Ibunda Latifah wafat pada 2017 lalu. Meski sempat membuatnya terpuruk, Latifah segera sadar dan harus tetap semangat untuk mengejar impiannya menjadi seorang guru. Sejak itu, ayahnya menjadi satu-satunya sumber doa dan restu. “Sejak ibu meninggal, saya pamitnya ke ayah. Mau ujian juga pamit ke ayah,” katanya.

Selama kuliah di Kampus Tegalboto, sulung dari tiga bersaudara itu ternyata juga penuh prestasi. Latifa pernah menjadi juara pertama debat ekonomi yang digelar di program studinya. Daya kreativitasnya disalurkan dengan meneliti buah naga sebagai bahan lipstik. Buah naga memang banyak ditanam di desanya. Karyanya tersebut berhasil mengantarkan dia sebagai finalis dalam ajang Pekan Kreativitas Mahasiswa di Unej. Puncaknya, Latifah terpilih sebagai juara pertama mahasiswa berprestasi FKIP tahun 2019 lalu.

Tak hanya jago di bidang akademik, Latifah ternyata pecinta sastra, khususnya menulis puisi, dan cerita pendek. Bahkan, puisinya pernah dibukukan oleh sebuah penerbit. “Daripada bengong di kosan, jadi saya manfaatkan untuk menulis puisi dan cerpen,” ucapnya.

Walau kini Latifah belum menjadi seorang pendidik seutuhnya, dia sudah mempersiapkan segala hal secara maksimal. Selama pandemi ini, Latifah telah merumuskan metode pembelajaran yang progresif. “Saya ingin membuat metode pembelajaran yang berbasis studi kasus. Jadi, siswa akan mengobservasi kondisi yang ada dan mengaitkannya dengan teori,” papar alumnus MAN 2 Banyuwangi tersebut.

Ibunya, Almarhumah Siti Ngaisah, berpesan agar segera mengabdikan ilmu yang telah diperoleh. Ibunda Latifah wafat pada 2017 lalu. Meski sempat membuatnya terpuruk, Latifah segera sadar dan harus tetap semangat untuk mengejar impiannya menjadi seorang guru. Sejak itu, ayahnya menjadi satu-satunya sumber doa dan restu. “Sejak ibu meninggal, saya pamitnya ke ayah. Mau ujian juga pamit ke ayah,” katanya.

Selama kuliah di Kampus Tegalboto, sulung dari tiga bersaudara itu ternyata juga penuh prestasi. Latifa pernah menjadi juara pertama debat ekonomi yang digelar di program studinya. Daya kreativitasnya disalurkan dengan meneliti buah naga sebagai bahan lipstik. Buah naga memang banyak ditanam di desanya. Karyanya tersebut berhasil mengantarkan dia sebagai finalis dalam ajang Pekan Kreativitas Mahasiswa di Unej. Puncaknya, Latifah terpilih sebagai juara pertama mahasiswa berprestasi FKIP tahun 2019 lalu.

Tak hanya jago di bidang akademik, Latifah ternyata pecinta sastra, khususnya menulis puisi, dan cerita pendek. Bahkan, puisinya pernah dibukukan oleh sebuah penerbit. “Daripada bengong di kosan, jadi saya manfaatkan untuk menulis puisi dan cerpen,” ucapnya.

Walau kini Latifah belum menjadi seorang pendidik seutuhnya, dia sudah mempersiapkan segala hal secara maksimal. Selama pandemi ini, Latifah telah merumuskan metode pembelajaran yang progresif. “Saya ingin membuat metode pembelajaran yang berbasis studi kasus. Jadi, siswa akan mengobservasi kondisi yang ada dan mengaitkannya dengan teori,” papar alumnus MAN 2 Banyuwangi tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/