alexametrics
19.8 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Tak Pernah Bermimpi, Andalkan Doa dan Restu Orang Tua

Dia dinobatkan sebagai mahasiswa peraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi. Padahal, dia tak pernah bermimpi sebelumnya. Selama proses belajar, hanya dua yang menjadi pegangan. Yakni, doa dan restu orang tua.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Latifatul Ilmi Fitriah tak pernah menduga bakal meraih predikat wisudawan berprestasi karena meraih IPK tertinggi. Latifah merasa tak ada yang spesial dari cara belajarnya. Selama ini, dia hanya rutin mengulang  materi yang telah diberikan dosen.  Selain itu, dia konsisten dalam memperkaya diri dengan bahan kuliah dari berbagai sumber.

Kendati begitu, Latifah mengaku, ada yang tidak pernah terlewatkan olehnya selama proses belajar. Apalagi saat menghadapi ujian. Yakni, berdoa dan meminta restu dari orang tua. Berkat hal itu, dia meraih IPK 3,98. Nyaris sempurna. “Capaian ini karena rida Allah semata,” kata mahasiswa yang diwisuda pada periode VII tersebut.

Gadis kelahiran Banyuwangi tersebut merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej). Sejak kecil, Latifa bercita-cita menjadi guru. Karena itu, dia memutuskan untuk melanjutkan studi ekonomi di FKIP. Musababnya, pelajaran ekonomi menjadi salah satu mata pelajaran favoritnya semasa sekolah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selanjutnya, Latifah ingin mengabdikan diri sebagai guru di SLTA.  Sejak awal, dia memang memiliki tekad mengabdikan diri untuk mengajar usai menjalani wisuda. Yang mendasarinya adalah pesan mendiang ibunya sebelum wafat.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Latifatul Ilmi Fitriah tak pernah menduga bakal meraih predikat wisudawan berprestasi karena meraih IPK tertinggi. Latifah merasa tak ada yang spesial dari cara belajarnya. Selama ini, dia hanya rutin mengulang  materi yang telah diberikan dosen.  Selain itu, dia konsisten dalam memperkaya diri dengan bahan kuliah dari berbagai sumber.

Kendati begitu, Latifah mengaku, ada yang tidak pernah terlewatkan olehnya selama proses belajar. Apalagi saat menghadapi ujian. Yakni, berdoa dan meminta restu dari orang tua. Berkat hal itu, dia meraih IPK 3,98. Nyaris sempurna. “Capaian ini karena rida Allah semata,” kata mahasiswa yang diwisuda pada periode VII tersebut.

Gadis kelahiran Banyuwangi tersebut merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej). Sejak kecil, Latifa bercita-cita menjadi guru. Karena itu, dia memutuskan untuk melanjutkan studi ekonomi di FKIP. Musababnya, pelajaran ekonomi menjadi salah satu mata pelajaran favoritnya semasa sekolah.

Selanjutnya, Latifah ingin mengabdikan diri sebagai guru di SLTA.  Sejak awal, dia memang memiliki tekad mengabdikan diri untuk mengajar usai menjalani wisuda. Yang mendasarinya adalah pesan mendiang ibunya sebelum wafat.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Latifatul Ilmi Fitriah tak pernah menduga bakal meraih predikat wisudawan berprestasi karena meraih IPK tertinggi. Latifah merasa tak ada yang spesial dari cara belajarnya. Selama ini, dia hanya rutin mengulang  materi yang telah diberikan dosen.  Selain itu, dia konsisten dalam memperkaya diri dengan bahan kuliah dari berbagai sumber.

Kendati begitu, Latifah mengaku, ada yang tidak pernah terlewatkan olehnya selama proses belajar. Apalagi saat menghadapi ujian. Yakni, berdoa dan meminta restu dari orang tua. Berkat hal itu, dia meraih IPK 3,98. Nyaris sempurna. “Capaian ini karena rida Allah semata,” kata mahasiswa yang diwisuda pada periode VII tersebut.

Gadis kelahiran Banyuwangi tersebut merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej). Sejak kecil, Latifa bercita-cita menjadi guru. Karena itu, dia memutuskan untuk melanjutkan studi ekonomi di FKIP. Musababnya, pelajaran ekonomi menjadi salah satu mata pelajaran favoritnya semasa sekolah.

Selanjutnya, Latifah ingin mengabdikan diri sebagai guru di SLTA.  Sejak awal, dia memang memiliki tekad mengabdikan diri untuk mengajar usai menjalani wisuda. Yang mendasarinya adalah pesan mendiang ibunya sebelum wafat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/