alexametrics
27.5 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Pendemo Ditahan, Ortu Minta Maaf

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Demonstrasi terkait penolakan Undang-Undang Omnibus Law beberapa waktu lalu masih menyisakan persoalan. Yaitu, lima orang ditahan karena terlibat dugaan tindak pidana perusakan. Satu dari lima keluarga anak yang ditahan meminta bantuan Komisi A DPRD Jember, kemarin (17/11).

Keluarga pendemo yang datang adalah NH dan FT. Keduanya merupakan orang tua seorang mahasiswa berinisial MRE. Mereka datang ke DPRD dengan didampingi kuasa hukumnya untuk meminta bantuan dewan, sekaligus menyampaikan permohonan maaf dan berharap agar anaknya yang kini menjadi tahanan polisi dibebaskan.

“Kami ingin anak kami dibebaskan. Dia masih mahasiswa baru. Belum pernah kuliah tatap muka. Kami datang untuk meminta maaf. Kami tidak tahu kalau anak kami saat itu ikut demo,” kata NH kepada sejumlah anggota dewan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kuasa hukum MRE, Achmad Syarifudin Malik menyampaikan, MRE merupakan mahasiswa baru yang belum masuk ke kampusnya karena kuliah masih jarak jauh. Dalam perusakan demonstrasi penolakan di depan Kantor DPRD Jember, beberapa waktu lalu, MRE hanya ikut-ikutan dan tidak mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya dilakukan dalam aksi tersebut.

Demi kelangsungan perkuliahan MRE, menurut dia, mereka datang ke dewan untuk meminta bantuan. Dalam kasus tersebut ada potensi dimaafkan perbuatannya. Sebagai kuasa hukum, mewakili MRE, dia pun meminta maaf kepada dewan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Demonstrasi terkait penolakan Undang-Undang Omnibus Law beberapa waktu lalu masih menyisakan persoalan. Yaitu, lima orang ditahan karena terlibat dugaan tindak pidana perusakan. Satu dari lima keluarga anak yang ditahan meminta bantuan Komisi A DPRD Jember, kemarin (17/11).

Keluarga pendemo yang datang adalah NH dan FT. Keduanya merupakan orang tua seorang mahasiswa berinisial MRE. Mereka datang ke DPRD dengan didampingi kuasa hukumnya untuk meminta bantuan dewan, sekaligus menyampaikan permohonan maaf dan berharap agar anaknya yang kini menjadi tahanan polisi dibebaskan.

“Kami ingin anak kami dibebaskan. Dia masih mahasiswa baru. Belum pernah kuliah tatap muka. Kami datang untuk meminta maaf. Kami tidak tahu kalau anak kami saat itu ikut demo,” kata NH kepada sejumlah anggota dewan.

Kuasa hukum MRE, Achmad Syarifudin Malik menyampaikan, MRE merupakan mahasiswa baru yang belum masuk ke kampusnya karena kuliah masih jarak jauh. Dalam perusakan demonstrasi penolakan di depan Kantor DPRD Jember, beberapa waktu lalu, MRE hanya ikut-ikutan dan tidak mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya dilakukan dalam aksi tersebut.

Demi kelangsungan perkuliahan MRE, menurut dia, mereka datang ke dewan untuk meminta bantuan. Dalam kasus tersebut ada potensi dimaafkan perbuatannya. Sebagai kuasa hukum, mewakili MRE, dia pun meminta maaf kepada dewan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Demonstrasi terkait penolakan Undang-Undang Omnibus Law beberapa waktu lalu masih menyisakan persoalan. Yaitu, lima orang ditahan karena terlibat dugaan tindak pidana perusakan. Satu dari lima keluarga anak yang ditahan meminta bantuan Komisi A DPRD Jember, kemarin (17/11).

Keluarga pendemo yang datang adalah NH dan FT. Keduanya merupakan orang tua seorang mahasiswa berinisial MRE. Mereka datang ke DPRD dengan didampingi kuasa hukumnya untuk meminta bantuan dewan, sekaligus menyampaikan permohonan maaf dan berharap agar anaknya yang kini menjadi tahanan polisi dibebaskan.

“Kami ingin anak kami dibebaskan. Dia masih mahasiswa baru. Belum pernah kuliah tatap muka. Kami datang untuk meminta maaf. Kami tidak tahu kalau anak kami saat itu ikut demo,” kata NH kepada sejumlah anggota dewan.

Kuasa hukum MRE, Achmad Syarifudin Malik menyampaikan, MRE merupakan mahasiswa baru yang belum masuk ke kampusnya karena kuliah masih jarak jauh. Dalam perusakan demonstrasi penolakan di depan Kantor DPRD Jember, beberapa waktu lalu, MRE hanya ikut-ikutan dan tidak mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya dilakukan dalam aksi tersebut.

Demi kelangsungan perkuliahan MRE, menurut dia, mereka datang ke dewan untuk meminta bantuan. Dalam kasus tersebut ada potensi dimaafkan perbuatannya. Sebagai kuasa hukum, mewakili MRE, dia pun meminta maaf kepada dewan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/