alexametrics
28.3 C
Jember
Saturday, 22 January 2022

Marak Konten Negatif, Begini Cara Kreatif Mahasiswa UIN Khas

“Secara spesifik, masalah yang lahir tidak bisa dihindari dari media sosial adalah soal adanya fenomena perebutan identitas, juga hoax yang menyebar.” Ahidul Asror - Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

MANGLI, RADARJEMBER.ID – Di masa pandemi ini banyak konten media yang tumbuh pesat. Berbagai video kekinian beredar di berbagai aplikasi media sosial. Seperti TikTok dan Instagram. Namun, tidak semua konten memiliki muatan positif dan edukatif. Bahkan, sebagian cenderung bernilai negatif dan merusak. Inilah yang menjadi keresahan bersama.

Saat ini, golongan yang menggandrungi untuk mengisi konten-konten di media sosial itu adalah kalangan muda. Untuk itu, perlu adanya batasan dalam membuat dan menggunakan konten di media sosial. Mereka perlu mendapat edukasi tentang literasi digital. Sehingga bisa menjadi filter awal agar tidak sampai terpengaruh dengan konten yang ada.

Untuk menunjang literasi digital pada kalangan muda, Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember mengelar stadium general. Tujuannya agar mahasiswa fakultas dakwah dapat memiliki literasi digital yang mumpuni. “Secara spesifik, masalah yang lahir tidak bisa dihindari dari media sosial adalah soal adanya fenomena perebutan identitas, juga hoax yang menyebar,” ungkap Ahidul Asror, Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember, belum lama ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, Rachmah Ida, Guru Besar Ilmu Kajian Media, menjelaskan, saat ini mahasiswa yang memiliki latar belakang komunikasi sudah seharusnya dapat memfilter konten media. Jangan sampai mereka terbawa arus konten yang tidak merepresentasikan nilai-nilai agama. Menurut dia, selama pandemi ini penggunaan media sangatlah masif, sehingga penggunaannya pun luar biasa. “Internet connection sudah mencapai puncaknya. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga seluruh dunia,” ungkapnya.

Ia menerangkan, ada tiga hal yang menjadi visi komunikasi Islam di masa post-pandemi. Yaitu menyalurkan dan merasakan apa yang menjadi perasaan. Lalu, menumbuhkan rasa empati yang lebih tinggi. “Yang terakhir itu kondisi yang sama. Solidaritas,” paparnya.

- Advertisement -

MANGLI, RADARJEMBER.ID – Di masa pandemi ini banyak konten media yang tumbuh pesat. Berbagai video kekinian beredar di berbagai aplikasi media sosial. Seperti TikTok dan Instagram. Namun, tidak semua konten memiliki muatan positif dan edukatif. Bahkan, sebagian cenderung bernilai negatif dan merusak. Inilah yang menjadi keresahan bersama.

Saat ini, golongan yang menggandrungi untuk mengisi konten-konten di media sosial itu adalah kalangan muda. Untuk itu, perlu adanya batasan dalam membuat dan menggunakan konten di media sosial. Mereka perlu mendapat edukasi tentang literasi digital. Sehingga bisa menjadi filter awal agar tidak sampai terpengaruh dengan konten yang ada.

Untuk menunjang literasi digital pada kalangan muda, Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember mengelar stadium general. Tujuannya agar mahasiswa fakultas dakwah dapat memiliki literasi digital yang mumpuni. “Secara spesifik, masalah yang lahir tidak bisa dihindari dari media sosial adalah soal adanya fenomena perebutan identitas, juga hoax yang menyebar,” ungkap Ahidul Asror, Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember, belum lama ini.

Sementara itu, Rachmah Ida, Guru Besar Ilmu Kajian Media, menjelaskan, saat ini mahasiswa yang memiliki latar belakang komunikasi sudah seharusnya dapat memfilter konten media. Jangan sampai mereka terbawa arus konten yang tidak merepresentasikan nilai-nilai agama. Menurut dia, selama pandemi ini penggunaan media sangatlah masif, sehingga penggunaannya pun luar biasa. “Internet connection sudah mencapai puncaknya. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga seluruh dunia,” ungkapnya.

Ia menerangkan, ada tiga hal yang menjadi visi komunikasi Islam di masa post-pandemi. Yaitu menyalurkan dan merasakan apa yang menjadi perasaan. Lalu, menumbuhkan rasa empati yang lebih tinggi. “Yang terakhir itu kondisi yang sama. Solidaritas,” paparnya.

MANGLI, RADARJEMBER.ID – Di masa pandemi ini banyak konten media yang tumbuh pesat. Berbagai video kekinian beredar di berbagai aplikasi media sosial. Seperti TikTok dan Instagram. Namun, tidak semua konten memiliki muatan positif dan edukatif. Bahkan, sebagian cenderung bernilai negatif dan merusak. Inilah yang menjadi keresahan bersama.

Saat ini, golongan yang menggandrungi untuk mengisi konten-konten di media sosial itu adalah kalangan muda. Untuk itu, perlu adanya batasan dalam membuat dan menggunakan konten di media sosial. Mereka perlu mendapat edukasi tentang literasi digital. Sehingga bisa menjadi filter awal agar tidak sampai terpengaruh dengan konten yang ada.

Untuk menunjang literasi digital pada kalangan muda, Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember mengelar stadium general. Tujuannya agar mahasiswa fakultas dakwah dapat memiliki literasi digital yang mumpuni. “Secara spesifik, masalah yang lahir tidak bisa dihindari dari media sosial adalah soal adanya fenomena perebutan identitas, juga hoax yang menyebar,” ungkap Ahidul Asror, Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember, belum lama ini.

Sementara itu, Rachmah Ida, Guru Besar Ilmu Kajian Media, menjelaskan, saat ini mahasiswa yang memiliki latar belakang komunikasi sudah seharusnya dapat memfilter konten media. Jangan sampai mereka terbawa arus konten yang tidak merepresentasikan nilai-nilai agama. Menurut dia, selama pandemi ini penggunaan media sangatlah masif, sehingga penggunaannya pun luar biasa. “Internet connection sudah mencapai puncaknya. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga seluruh dunia,” ungkapnya.

Ia menerangkan, ada tiga hal yang menjadi visi komunikasi Islam di masa post-pandemi. Yaitu menyalurkan dan merasakan apa yang menjadi perasaan. Lalu, menumbuhkan rasa empati yang lebih tinggi. “Yang terakhir itu kondisi yang sama. Solidaritas,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca