alexametrics
23.7 C
Jember
Saturday, 24 September 2022

Sosiolog Unej: Perlu Pendekatan Sosiologis Atasi Masalah Mulyorejo Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Teror pembakaran dan perusakan rumah serta kendaraan di dua padukuhan Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember, tak bisa hanya dipandang dari kacamata hukum saja. Pemerintah perlu melakukan pendekatan sosiologis untuk mengurai perkara itu. Sebab, masalah yang menimbulkan konflik kelompok masyarakat di dua desa wilayah perbatasan Jember-Banyuwangi tersebut, cukup kompleks.

Sosiolog Universitas Jember Baiq Lily Handayani mengatakan, masalah di Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, ini memerlukan perhatian serius dari Pemkab Jember. Sebab, perkara ini menyangkut keamanan warga desa. “Apabila permasalahan ini tidak ditangani dengan tepat, maka akan menyebabkan permasalahan berikutnya yang berkepanjangan,” katanya, kepada Jawa Pos Radar Jember.

BACA JUGA: Ketimpangan Penguasaan Lahan, Akar Premanisme Berujung Pembakaran di Silo

Mobile_AP_Rectangle 2

Meski demikian, dia menyarankan, pemerintah perlu berhati-hati dalam menyelesaikannya. Jangan sampai dipolitisasi oleh pihak tertentu dan menjadi komoditas politik. Oleh karenanya, upaya penyelesaiannya memerlukan pendekatan sosiologis. Ini untuk memetakan dan mengungkapkan akar masalah tersebut. 

“Apabila tidak dipetakan dengan baik, maka akan menimbulkan permasalahan di masa depan yang terus berkepanjangan. Seperti dendam oleh pemilik rumah, mobil dan sepeda motor yang telah dibakar. Aau dendam oleh pelaku yang ditahan oleh pihak kepolisian,” bebernya.

Pada kasus tersebut, Lily menambahkan, hendaknya terlebih dahulu melakukan analisis situasi yang terjadi di dusun tersebut. Ini dibutuhkan untuk mengetahui akar masalah dari peristiwa yang menegangkan masyarakat. 

BACA JUGA: Sembilan Orang Ditetapkan Tersangka Kasus Pembakaran di Silo Jember

Tahapan ini mewajibkan sosiolog untuk dapat mengidentifikasi masalah secara tepat, baik dari segi sosial, budaya, ekonomi, politik, adat istiadat, perilaku, keyakinan, dan mitos-mitos yang berkembang. “Sosiolog dapat melakukan analisis situasi dengan pendekatan analisis SWOT,” ujarnya.

Selain itu, Lily berkata, juga dapat dilakukan network analysis untuk memetakan tokoh atau ketokohan yang dihormati oleh masyarakat setempat. Hal ini kaitannya dengan menemukan basis penghormatan oleh masyarakat setempat terhadap seseorang. 

“Apakah hal tersebut berbasis ekonomi, berbasis sosial, berbasis keagamaan, berbasis kekerabatan, berbasis patronase pekerjaan, jabatan  atau berbasis etnisitas. Sosiolog dalam hal ini mengidentifikasi basis kepatuhan dalam masyarakat,” sebutnya. 

BACA JUGA: Premanisme Disebut Menjadi Muasal Tragedi Pembakaran Rumah di Silo Jember

Upaya ini, menurut dia, penting dilakukan. Karena Padukuhan Patungrejo dan Dampikrejo, Dusun Baban Timur, adalah wilayah baru dan belum menemukan tokoh yang kuat dan sentral, dihormati, serta dipatuhi oleh berbagai kalangan. 

“Melalui tahapan ini, dapat ditemukan tokoh yang tepat untuk karakteristik masyarakat setempat. Apabila tidak ditemukan, maka dapat dilakukan rekayasa sosial penokohan berbasis kecenderungan kepatuhan masyarakat lokal,” paparnya.

Tahap berikutnya, Lily menuturkan, yakni melakukan fasilitasi warga. Dalam hal ini dapat dilakukan penjaringan opini dan melihat dinamika yang berkembang di dalam internal masyarakat melalui diskusi terfokus, observasi dan wawancara. 

BACA JUGA: Analisis Sosiolog tentang Tragedi Silo: Dipicu Ekonomi hingga Kekuasaan

Teknik fasilitasi adalah dengan mengundang semua pihak, baik itu perwakilan warga, aparat desa, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, kader posyandu, tokoh pemuda maupun tokoh agama. “Setelah semua pihak berkumpul maka dilakukan diskusi bersama melalui diskusi terfokus dan brainwashing,” jelasnya.

Selanjutnya, membangun kesamaan persepsi mengenai situasi yang sedang dialami di lokasi tersebut. Dan menggiring opini atau wacana untuk melakukan upaya perubahan menuju kebaikan bersama anggota masyarakat.

Terakhir, kata dia, adalah pembentukan kelembagaan dan struktur jika diperlukan. Misal seperti struktur lembaga adat. Semua pengurus berasal dari anggota masyarakat, dengan memberikan kewenangan pada mereka untuk menentukan sendiri. “Dalam hal ini sosiolog sebagai perekayasa hanya menjadi fasilitator yang mendampingi warga,” urainya.

Melalui upaya-upaya tersebut, diharapkan masyarakat akan menjadi lebih solid dan terbentuk bonding yang kuat, serta solidaritas yang tinggi. Upaya membangun bonding dan solidaritas juga harus sering dilakukan dengan berbagai pendekatan. Hal ini untuk mengurangi gesekan-gesekan dan memunculkan cita-cita bersama untuk membangun desa. 

“Bahkan harus ada visi bersama di masa depan, sehingga rasa memiliki dan saling membutuhkan akan memperkuat solidaritas,” bebernya.

Identitas dusun pun harus dibangun dengan sedemikian rupa. Ini agar menjadi sebuah semangat bersama, acara dan ritual bersama. Tentunya hal ini dengan izin dari pihak Perhutani selaku pemilik dari KRPH tersebut. “Warga harus menyadari itu,” pungkasnya. (*)

Editor: Mahrus Sholih

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Teror pembakaran dan perusakan rumah serta kendaraan di dua padukuhan Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember, tak bisa hanya dipandang dari kacamata hukum saja. Pemerintah perlu melakukan pendekatan sosiologis untuk mengurai perkara itu. Sebab, masalah yang menimbulkan konflik kelompok masyarakat di dua desa wilayah perbatasan Jember-Banyuwangi tersebut, cukup kompleks.

Sosiolog Universitas Jember Baiq Lily Handayani mengatakan, masalah di Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, ini memerlukan perhatian serius dari Pemkab Jember. Sebab, perkara ini menyangkut keamanan warga desa. “Apabila permasalahan ini tidak ditangani dengan tepat, maka akan menyebabkan permasalahan berikutnya yang berkepanjangan,” katanya, kepada Jawa Pos Radar Jember.

BACA JUGA: Ketimpangan Penguasaan Lahan, Akar Premanisme Berujung Pembakaran di Silo

Meski demikian, dia menyarankan, pemerintah perlu berhati-hati dalam menyelesaikannya. Jangan sampai dipolitisasi oleh pihak tertentu dan menjadi komoditas politik. Oleh karenanya, upaya penyelesaiannya memerlukan pendekatan sosiologis. Ini untuk memetakan dan mengungkapkan akar masalah tersebut. 

“Apabila tidak dipetakan dengan baik, maka akan menimbulkan permasalahan di masa depan yang terus berkepanjangan. Seperti dendam oleh pemilik rumah, mobil dan sepeda motor yang telah dibakar. Aau dendam oleh pelaku yang ditahan oleh pihak kepolisian,” bebernya.

Pada kasus tersebut, Lily menambahkan, hendaknya terlebih dahulu melakukan analisis situasi yang terjadi di dusun tersebut. Ini dibutuhkan untuk mengetahui akar masalah dari peristiwa yang menegangkan masyarakat. 

BACA JUGA: Sembilan Orang Ditetapkan Tersangka Kasus Pembakaran di Silo Jember

Tahapan ini mewajibkan sosiolog untuk dapat mengidentifikasi masalah secara tepat, baik dari segi sosial, budaya, ekonomi, politik, adat istiadat, perilaku, keyakinan, dan mitos-mitos yang berkembang. “Sosiolog dapat melakukan analisis situasi dengan pendekatan analisis SWOT,” ujarnya.

Selain itu, Lily berkata, juga dapat dilakukan network analysis untuk memetakan tokoh atau ketokohan yang dihormati oleh masyarakat setempat. Hal ini kaitannya dengan menemukan basis penghormatan oleh masyarakat setempat terhadap seseorang. 

“Apakah hal tersebut berbasis ekonomi, berbasis sosial, berbasis keagamaan, berbasis kekerabatan, berbasis patronase pekerjaan, jabatan  atau berbasis etnisitas. Sosiolog dalam hal ini mengidentifikasi basis kepatuhan dalam masyarakat,” sebutnya. 

BACA JUGA: Premanisme Disebut Menjadi Muasal Tragedi Pembakaran Rumah di Silo Jember

Upaya ini, menurut dia, penting dilakukan. Karena Padukuhan Patungrejo dan Dampikrejo, Dusun Baban Timur, adalah wilayah baru dan belum menemukan tokoh yang kuat dan sentral, dihormati, serta dipatuhi oleh berbagai kalangan. 

“Melalui tahapan ini, dapat ditemukan tokoh yang tepat untuk karakteristik masyarakat setempat. Apabila tidak ditemukan, maka dapat dilakukan rekayasa sosial penokohan berbasis kecenderungan kepatuhan masyarakat lokal,” paparnya.

Tahap berikutnya, Lily menuturkan, yakni melakukan fasilitasi warga. Dalam hal ini dapat dilakukan penjaringan opini dan melihat dinamika yang berkembang di dalam internal masyarakat melalui diskusi terfokus, observasi dan wawancara. 

BACA JUGA: Analisis Sosiolog tentang Tragedi Silo: Dipicu Ekonomi hingga Kekuasaan

Teknik fasilitasi adalah dengan mengundang semua pihak, baik itu perwakilan warga, aparat desa, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, kader posyandu, tokoh pemuda maupun tokoh agama. “Setelah semua pihak berkumpul maka dilakukan diskusi bersama melalui diskusi terfokus dan brainwashing,” jelasnya.

Selanjutnya, membangun kesamaan persepsi mengenai situasi yang sedang dialami di lokasi tersebut. Dan menggiring opini atau wacana untuk melakukan upaya perubahan menuju kebaikan bersama anggota masyarakat.

Terakhir, kata dia, adalah pembentukan kelembagaan dan struktur jika diperlukan. Misal seperti struktur lembaga adat. Semua pengurus berasal dari anggota masyarakat, dengan memberikan kewenangan pada mereka untuk menentukan sendiri. “Dalam hal ini sosiolog sebagai perekayasa hanya menjadi fasilitator yang mendampingi warga,” urainya.

Melalui upaya-upaya tersebut, diharapkan masyarakat akan menjadi lebih solid dan terbentuk bonding yang kuat, serta solidaritas yang tinggi. Upaya membangun bonding dan solidaritas juga harus sering dilakukan dengan berbagai pendekatan. Hal ini untuk mengurangi gesekan-gesekan dan memunculkan cita-cita bersama untuk membangun desa. 

“Bahkan harus ada visi bersama di masa depan, sehingga rasa memiliki dan saling membutuhkan akan memperkuat solidaritas,” bebernya.

Identitas dusun pun harus dibangun dengan sedemikian rupa. Ini agar menjadi sebuah semangat bersama, acara dan ritual bersama. Tentunya hal ini dengan izin dari pihak Perhutani selaku pemilik dari KRPH tersebut. “Warga harus menyadari itu,” pungkasnya. (*)

Editor: Mahrus Sholih

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Teror pembakaran dan perusakan rumah serta kendaraan di dua padukuhan Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember, tak bisa hanya dipandang dari kacamata hukum saja. Pemerintah perlu melakukan pendekatan sosiologis untuk mengurai perkara itu. Sebab, masalah yang menimbulkan konflik kelompok masyarakat di dua desa wilayah perbatasan Jember-Banyuwangi tersebut, cukup kompleks.

Sosiolog Universitas Jember Baiq Lily Handayani mengatakan, masalah di Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, ini memerlukan perhatian serius dari Pemkab Jember. Sebab, perkara ini menyangkut keamanan warga desa. “Apabila permasalahan ini tidak ditangani dengan tepat, maka akan menyebabkan permasalahan berikutnya yang berkepanjangan,” katanya, kepada Jawa Pos Radar Jember.

BACA JUGA: Ketimpangan Penguasaan Lahan, Akar Premanisme Berujung Pembakaran di Silo

Meski demikian, dia menyarankan, pemerintah perlu berhati-hati dalam menyelesaikannya. Jangan sampai dipolitisasi oleh pihak tertentu dan menjadi komoditas politik. Oleh karenanya, upaya penyelesaiannya memerlukan pendekatan sosiologis. Ini untuk memetakan dan mengungkapkan akar masalah tersebut. 

“Apabila tidak dipetakan dengan baik, maka akan menimbulkan permasalahan di masa depan yang terus berkepanjangan. Seperti dendam oleh pemilik rumah, mobil dan sepeda motor yang telah dibakar. Aau dendam oleh pelaku yang ditahan oleh pihak kepolisian,” bebernya.

Pada kasus tersebut, Lily menambahkan, hendaknya terlebih dahulu melakukan analisis situasi yang terjadi di dusun tersebut. Ini dibutuhkan untuk mengetahui akar masalah dari peristiwa yang menegangkan masyarakat. 

BACA JUGA: Sembilan Orang Ditetapkan Tersangka Kasus Pembakaran di Silo Jember

Tahapan ini mewajibkan sosiolog untuk dapat mengidentifikasi masalah secara tepat, baik dari segi sosial, budaya, ekonomi, politik, adat istiadat, perilaku, keyakinan, dan mitos-mitos yang berkembang. “Sosiolog dapat melakukan analisis situasi dengan pendekatan analisis SWOT,” ujarnya.

Selain itu, Lily berkata, juga dapat dilakukan network analysis untuk memetakan tokoh atau ketokohan yang dihormati oleh masyarakat setempat. Hal ini kaitannya dengan menemukan basis penghormatan oleh masyarakat setempat terhadap seseorang. 

“Apakah hal tersebut berbasis ekonomi, berbasis sosial, berbasis keagamaan, berbasis kekerabatan, berbasis patronase pekerjaan, jabatan  atau berbasis etnisitas. Sosiolog dalam hal ini mengidentifikasi basis kepatuhan dalam masyarakat,” sebutnya. 

BACA JUGA: Premanisme Disebut Menjadi Muasal Tragedi Pembakaran Rumah di Silo Jember

Upaya ini, menurut dia, penting dilakukan. Karena Padukuhan Patungrejo dan Dampikrejo, Dusun Baban Timur, adalah wilayah baru dan belum menemukan tokoh yang kuat dan sentral, dihormati, serta dipatuhi oleh berbagai kalangan. 

“Melalui tahapan ini, dapat ditemukan tokoh yang tepat untuk karakteristik masyarakat setempat. Apabila tidak ditemukan, maka dapat dilakukan rekayasa sosial penokohan berbasis kecenderungan kepatuhan masyarakat lokal,” paparnya.

Tahap berikutnya, Lily menuturkan, yakni melakukan fasilitasi warga. Dalam hal ini dapat dilakukan penjaringan opini dan melihat dinamika yang berkembang di dalam internal masyarakat melalui diskusi terfokus, observasi dan wawancara. 

BACA JUGA: Analisis Sosiolog tentang Tragedi Silo: Dipicu Ekonomi hingga Kekuasaan

Teknik fasilitasi adalah dengan mengundang semua pihak, baik itu perwakilan warga, aparat desa, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, kader posyandu, tokoh pemuda maupun tokoh agama. “Setelah semua pihak berkumpul maka dilakukan diskusi bersama melalui diskusi terfokus dan brainwashing,” jelasnya.

Selanjutnya, membangun kesamaan persepsi mengenai situasi yang sedang dialami di lokasi tersebut. Dan menggiring opini atau wacana untuk melakukan upaya perubahan menuju kebaikan bersama anggota masyarakat.

Terakhir, kata dia, adalah pembentukan kelembagaan dan struktur jika diperlukan. Misal seperti struktur lembaga adat. Semua pengurus berasal dari anggota masyarakat, dengan memberikan kewenangan pada mereka untuk menentukan sendiri. “Dalam hal ini sosiolog sebagai perekayasa hanya menjadi fasilitator yang mendampingi warga,” urainya.

Melalui upaya-upaya tersebut, diharapkan masyarakat akan menjadi lebih solid dan terbentuk bonding yang kuat, serta solidaritas yang tinggi. Upaya membangun bonding dan solidaritas juga harus sering dilakukan dengan berbagai pendekatan. Hal ini untuk mengurangi gesekan-gesekan dan memunculkan cita-cita bersama untuk membangun desa. 

“Bahkan harus ada visi bersama di masa depan, sehingga rasa memiliki dan saling membutuhkan akan memperkuat solidaritas,” bebernya.

Identitas dusun pun harus dibangun dengan sedemikian rupa. Ini agar menjadi sebuah semangat bersama, acara dan ritual bersama. Tentunya hal ini dengan izin dari pihak Perhutani selaku pemilik dari KRPH tersebut. “Warga harus menyadari itu,” pungkasnya. (*)

Editor: Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/