alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Petani Unjuk Nasionalisme, Merah Putih Dikibarkan

Peringatan HUT ke-77 RI banyak dihelat oleh pejabat maupun masyarakat. Di Bangsalsari, ada puluhan petani yang tidak mau ketinggalan. Mereka menggelar upacara dan melakukan perlombaan di tengah sawah. Bagaimana kemeriahannya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Embun di pematang sawah pagi itu belum kering. Setiap langkah kaki yang menyentuh rerumputan terasa dingin. Maklum, matahari baru saja terbit. Para petani di Dusun Kedungsuko, Desa/Kecamatan Bangsalsari, seperti biasanya, sudah banyak yang berangkat ke sawah.

BACA JUGA : Seorang Ibu Meninggal Saat Lomba Balap Karung, Ini Penyebabnya

Namun, suasana pagi itu begitu berbeda. Petani yang terlihat tidak satu dua orang. Kali ini, mereka mengajak putra-putrinya ke sawah. Ada puluhan orang kompak mendatangi areal persawahan yang padinya baru saja dipanen, pekan lalu. Di tempat tersebut, mereka akan melangsungkan upacara peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-77 tahun.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pada detik-detik upacara akan dilakukan, gelak tawa petani yang bercanda pecah. Keriuhan pagi itu memecah suasana dingin di tengah sawah. Matahari yang mulai meninggi kontan menghangatkan badan. Anak-anak berlarian. Keriuhan pagi itu pun diselingi dengan suara khas bebek petani yang dibawa ke arena upacara.

Canda tawa petani yang saat itu membawa cangkul, arit, alat semprot, dan barang lain seketika berhenti. Ini setelah seseorang memekikkan kata “merdeka”. Para petani pun diminta untuk berbaris di ladang yang nantinya akan ditanami tanaman pangan. “Siap gerak! Lencang depan gerak!” kata seorang penyuluh pertanian lapangan (PPL) memberi apa-aba agar seluruh petani berbaris.

Anak-anak yang sempat bermain juga ikut dalam barisan tersebut. Emak-emak yang membawa bingkisan makanan yang dibungkus dengan daun pisang langsung ditaruh di pematang sawah. Sementara itu, petani yang datang dengan sepeda motor dan masih duduk di atasnya, seketika meninggalkan kendaraan yang diparkir di pematang sawah.

Pagi itu, tepatnya pukul 07.00, para pahlawan pangan asal Bangsalsari itu mulai terlihat serius. Bahkan, lansia yang menggendong cucunya juga masuk dalam barisan upacara. Tak lama kemudian, upacara bendera dilangsungkan. Begitu aba-aba penghormatan kepada sang Merah Putih dimulai, para petani pun memberikan penghormatan. Suasana cukup hening dan petani kompak menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 RI tersebut, para petani diharapkan tetap mengenang para pejuang kemerdekaan. Salah satunya dengan mengisi berbagai macam kegiatan dengan hal-hal positif. Seperti giat bekerja, giat menanam padi, demi ketahanan pangan nasional.

Puluhan warga itu merupakan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bangsalsari Makmur Jaya. Oleh petugas PPL, mereka pun diingatkan agar petani semakin produktif. “Petani harus lebih tangguh dan berdaya, mengingat kondisi pertanian ke depan akan semakin banyak menghadapi tantangan,” kata Sasrur Romadhoni, PPL yang sekaligus pembina upacara pagi itu.

Sekitar setengah jam kemudian, upacara selesai digelar. Solidaritas petani rupanya tidak terhenti di situ. Mereka melanjutkan dengan mengisi lomba-lomba unik khas agustusan. Ada lomba balap karung, makan kerupuk, dan adu cepat membawa kelereng dengan sendok makan.

Bahkan, ada lomba yang pastinya jarang ada di kota-kota. Yakni lomba menangkap bebek. Lomba itu diibaratkan menangkap para penjajah zaman dahulu. Saat lomba tangkap bebek berlangsung, kian membuat riuh para petani. “Kami harap bisa berlanjut di tahun-tahun mendatang, lebih kompak dan meriah,” kata M Mofleh, Ketua Gapoktan Makmur Jaya Bangsalsari.

Pembina Petani Perempuan di Gapoktan Makmur Jaya Bangsalsari, Nurul Fathiyah Fauzi, menambahkan, upacara tersebut merupakan kali pertama dilaksanakan petani setempat. Inisiatif itu muncul sebagai penegasan bahwa petani juga memiliki semangat nasionalisme yang tinggi sebagai pahlawan pangan bangsa Indonesia. “Antusiasmenya tinggi dan khidmat,” kata Nurul.

Setelah menggelar upacara dan berbagai perlombaan, petani menutup serangkaian acara dengan berdoa bersama. Selain itu, mereka makan bersama di tengah persawahan tersebut. Meski terik matahari siang mulai menyengat, momen tersebut membahagiakan banyak keluarga pahlawan pangan tersebut. (c2/nur)

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Embun di pematang sawah pagi itu belum kering. Setiap langkah kaki yang menyentuh rerumputan terasa dingin. Maklum, matahari baru saja terbit. Para petani di Dusun Kedungsuko, Desa/Kecamatan Bangsalsari, seperti biasanya, sudah banyak yang berangkat ke sawah.

BACA JUGA : Seorang Ibu Meninggal Saat Lomba Balap Karung, Ini Penyebabnya

Namun, suasana pagi itu begitu berbeda. Petani yang terlihat tidak satu dua orang. Kali ini, mereka mengajak putra-putrinya ke sawah. Ada puluhan orang kompak mendatangi areal persawahan yang padinya baru saja dipanen, pekan lalu. Di tempat tersebut, mereka akan melangsungkan upacara peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-77 tahun.

Pada detik-detik upacara akan dilakukan, gelak tawa petani yang bercanda pecah. Keriuhan pagi itu memecah suasana dingin di tengah sawah. Matahari yang mulai meninggi kontan menghangatkan badan. Anak-anak berlarian. Keriuhan pagi itu pun diselingi dengan suara khas bebek petani yang dibawa ke arena upacara.

Canda tawa petani yang saat itu membawa cangkul, arit, alat semprot, dan barang lain seketika berhenti. Ini setelah seseorang memekikkan kata “merdeka”. Para petani pun diminta untuk berbaris di ladang yang nantinya akan ditanami tanaman pangan. “Siap gerak! Lencang depan gerak!” kata seorang penyuluh pertanian lapangan (PPL) memberi apa-aba agar seluruh petani berbaris.

Anak-anak yang sempat bermain juga ikut dalam barisan tersebut. Emak-emak yang membawa bingkisan makanan yang dibungkus dengan daun pisang langsung ditaruh di pematang sawah. Sementara itu, petani yang datang dengan sepeda motor dan masih duduk di atasnya, seketika meninggalkan kendaraan yang diparkir di pematang sawah.

Pagi itu, tepatnya pukul 07.00, para pahlawan pangan asal Bangsalsari itu mulai terlihat serius. Bahkan, lansia yang menggendong cucunya juga masuk dalam barisan upacara. Tak lama kemudian, upacara bendera dilangsungkan. Begitu aba-aba penghormatan kepada sang Merah Putih dimulai, para petani pun memberikan penghormatan. Suasana cukup hening dan petani kompak menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 RI tersebut, para petani diharapkan tetap mengenang para pejuang kemerdekaan. Salah satunya dengan mengisi berbagai macam kegiatan dengan hal-hal positif. Seperti giat bekerja, giat menanam padi, demi ketahanan pangan nasional.

Puluhan warga itu merupakan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bangsalsari Makmur Jaya. Oleh petugas PPL, mereka pun diingatkan agar petani semakin produktif. “Petani harus lebih tangguh dan berdaya, mengingat kondisi pertanian ke depan akan semakin banyak menghadapi tantangan,” kata Sasrur Romadhoni, PPL yang sekaligus pembina upacara pagi itu.

Sekitar setengah jam kemudian, upacara selesai digelar. Solidaritas petani rupanya tidak terhenti di situ. Mereka melanjutkan dengan mengisi lomba-lomba unik khas agustusan. Ada lomba balap karung, makan kerupuk, dan adu cepat membawa kelereng dengan sendok makan.

Bahkan, ada lomba yang pastinya jarang ada di kota-kota. Yakni lomba menangkap bebek. Lomba itu diibaratkan menangkap para penjajah zaman dahulu. Saat lomba tangkap bebek berlangsung, kian membuat riuh para petani. “Kami harap bisa berlanjut di tahun-tahun mendatang, lebih kompak dan meriah,” kata M Mofleh, Ketua Gapoktan Makmur Jaya Bangsalsari.

Pembina Petani Perempuan di Gapoktan Makmur Jaya Bangsalsari, Nurul Fathiyah Fauzi, menambahkan, upacara tersebut merupakan kali pertama dilaksanakan petani setempat. Inisiatif itu muncul sebagai penegasan bahwa petani juga memiliki semangat nasionalisme yang tinggi sebagai pahlawan pangan bangsa Indonesia. “Antusiasmenya tinggi dan khidmat,” kata Nurul.

Setelah menggelar upacara dan berbagai perlombaan, petani menutup serangkaian acara dengan berdoa bersama. Selain itu, mereka makan bersama di tengah persawahan tersebut. Meski terik matahari siang mulai menyengat, momen tersebut membahagiakan banyak keluarga pahlawan pangan tersebut. (c2/nur)

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Embun di pematang sawah pagi itu belum kering. Setiap langkah kaki yang menyentuh rerumputan terasa dingin. Maklum, matahari baru saja terbit. Para petani di Dusun Kedungsuko, Desa/Kecamatan Bangsalsari, seperti biasanya, sudah banyak yang berangkat ke sawah.

BACA JUGA : Seorang Ibu Meninggal Saat Lomba Balap Karung, Ini Penyebabnya

Namun, suasana pagi itu begitu berbeda. Petani yang terlihat tidak satu dua orang. Kali ini, mereka mengajak putra-putrinya ke sawah. Ada puluhan orang kompak mendatangi areal persawahan yang padinya baru saja dipanen, pekan lalu. Di tempat tersebut, mereka akan melangsungkan upacara peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-77 tahun.

Pada detik-detik upacara akan dilakukan, gelak tawa petani yang bercanda pecah. Keriuhan pagi itu memecah suasana dingin di tengah sawah. Matahari yang mulai meninggi kontan menghangatkan badan. Anak-anak berlarian. Keriuhan pagi itu pun diselingi dengan suara khas bebek petani yang dibawa ke arena upacara.

Canda tawa petani yang saat itu membawa cangkul, arit, alat semprot, dan barang lain seketika berhenti. Ini setelah seseorang memekikkan kata “merdeka”. Para petani pun diminta untuk berbaris di ladang yang nantinya akan ditanami tanaman pangan. “Siap gerak! Lencang depan gerak!” kata seorang penyuluh pertanian lapangan (PPL) memberi apa-aba agar seluruh petani berbaris.

Anak-anak yang sempat bermain juga ikut dalam barisan tersebut. Emak-emak yang membawa bingkisan makanan yang dibungkus dengan daun pisang langsung ditaruh di pematang sawah. Sementara itu, petani yang datang dengan sepeda motor dan masih duduk di atasnya, seketika meninggalkan kendaraan yang diparkir di pematang sawah.

Pagi itu, tepatnya pukul 07.00, para pahlawan pangan asal Bangsalsari itu mulai terlihat serius. Bahkan, lansia yang menggendong cucunya juga masuk dalam barisan upacara. Tak lama kemudian, upacara bendera dilangsungkan. Begitu aba-aba penghormatan kepada sang Merah Putih dimulai, para petani pun memberikan penghormatan. Suasana cukup hening dan petani kompak menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 RI tersebut, para petani diharapkan tetap mengenang para pejuang kemerdekaan. Salah satunya dengan mengisi berbagai macam kegiatan dengan hal-hal positif. Seperti giat bekerja, giat menanam padi, demi ketahanan pangan nasional.

Puluhan warga itu merupakan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bangsalsari Makmur Jaya. Oleh petugas PPL, mereka pun diingatkan agar petani semakin produktif. “Petani harus lebih tangguh dan berdaya, mengingat kondisi pertanian ke depan akan semakin banyak menghadapi tantangan,” kata Sasrur Romadhoni, PPL yang sekaligus pembina upacara pagi itu.

Sekitar setengah jam kemudian, upacara selesai digelar. Solidaritas petani rupanya tidak terhenti di situ. Mereka melanjutkan dengan mengisi lomba-lomba unik khas agustusan. Ada lomba balap karung, makan kerupuk, dan adu cepat membawa kelereng dengan sendok makan.

Bahkan, ada lomba yang pastinya jarang ada di kota-kota. Yakni lomba menangkap bebek. Lomba itu diibaratkan menangkap para penjajah zaman dahulu. Saat lomba tangkap bebek berlangsung, kian membuat riuh para petani. “Kami harap bisa berlanjut di tahun-tahun mendatang, lebih kompak dan meriah,” kata M Mofleh, Ketua Gapoktan Makmur Jaya Bangsalsari.

Pembina Petani Perempuan di Gapoktan Makmur Jaya Bangsalsari, Nurul Fathiyah Fauzi, menambahkan, upacara tersebut merupakan kali pertama dilaksanakan petani setempat. Inisiatif itu muncul sebagai penegasan bahwa petani juga memiliki semangat nasionalisme yang tinggi sebagai pahlawan pangan bangsa Indonesia. “Antusiasmenya tinggi dan khidmat,” kata Nurul.

Setelah menggelar upacara dan berbagai perlombaan, petani menutup serangkaian acara dengan berdoa bersama. Selain itu, mereka makan bersama di tengah persawahan tersebut. Meski terik matahari siang mulai menyengat, momen tersebut membahagiakan banyak keluarga pahlawan pangan tersebut. (c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/