alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Merdeka Milik Semua Warga

Mobile_AP_Rectangle 1

KEPATIHAN, Radar JemberProklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 sudah 77 tahun yang lalu. Tanggal tersebut tetap sakral, karena Indonesia lepas dari penjajahan. Setelah itu, kemerdekaan pun diperingati hingga sekarang. Di tengah masyarakat, momen itu pun diperingati dengan berbagai macam cara.

BACA JUGA : Waspada Gelombang Tinggi Terjadi di Laut Selatan Jawa Barat-Yogyakarta

Pagi kemarin, di halaman Jawa Pos Radar Jember juga dilangsungkan upacara yang diikuti seluruh karyawan. Ini dilakukan untuk menguatkan nilai-nilai nasionalisme. Bahwa kemerdekaan itu berkat anugerah Tuhan atas perjuangan para pahlawan. Kemerdekaan ini pula adalah milik segenap bangsa Indonesia.

Mobile_AP_Rectangle 2

Untuk itulah, peringatan kemerdekaan dan upacara bendera dihelat di mana-mana. Di istana negara, di kabupaten kota, hingga di pelosok desa. Ada yang melangsungkan secara formal dengan pakaian resmi. Ada pula yang melangsungkan upacara dengan pakaian kebesaran masing-masing.

Nah, karyawan Jawa Pos Radar Jember melangsungkan upacara dengan pakaian yang cukup berbeda. Ada seragam kebesaran. Ada pula karyawan laki-laki yang mengenakan sarung dan atasan batik. Sementara karyawan perempuan mengenakan daster.

Upacara ini berlangsung sekitar satu jam, sejak pukul 07.00. Upacara dikomando Mat Hari, seorang karyawan. Sementara itu, Direktur Jawa Pos Radar Jember Abdul Choliq Baya menjadi inspektur upacara. Momen sakral itu diikuti seluruh karyawan dari beberapa divisi. Prosesi upacara, mulai penampilan paduan suara, pembacaan Teks Proklamasi yang dipimpin direktur, hingga pengibaran bendera merah putih berlangsung baik.

Menurut General Manager Jawa Pos Radar Jember MS Rasyid, kemerdekaan merupakan milik semua orang. “Tidak ada larangan upacara di mana pun. Pakaiannya juga tidak diatur,” jelasnya. Bahkan, pada saat kemerdekaan Indonesia 1945, siapa saja boleh ikut. Baik petani, nelayan, pegawai, maupun mereka yang mengenakan celana pendek. Kemerdekaan maupun acara sakral peringatan kemerdekaan bisa dilakukan siapa saja, di mana saja, dan dengan pakaian apa pun. Terkecuali, upacara yang dilakukan kenegaraan, barulah ada batasan-batasan dan aturan paskibra. Seperti di Istana Negara, Alun-Alun Jember, atau upacara kenegaraan yang resmi.

Dalam momen upacara di halaman Radar Jember ini pun, sejumlah pria juga mengenakan songkok nasional. Sementara perempuan membawa hasduk untuk melengkapi aksesori agar pakaian ada ornamen merah putih. Namun demikian, terlepas dari apa pun pakaian yang dikenakan, tidak mengurangi momen sakral saat upacara berlangsung. (mg5/c2/nur)

- Advertisement -

KEPATIHAN, Radar JemberProklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 sudah 77 tahun yang lalu. Tanggal tersebut tetap sakral, karena Indonesia lepas dari penjajahan. Setelah itu, kemerdekaan pun diperingati hingga sekarang. Di tengah masyarakat, momen itu pun diperingati dengan berbagai macam cara.

BACA JUGA : Waspada Gelombang Tinggi Terjadi di Laut Selatan Jawa Barat-Yogyakarta

Pagi kemarin, di halaman Jawa Pos Radar Jember juga dilangsungkan upacara yang diikuti seluruh karyawan. Ini dilakukan untuk menguatkan nilai-nilai nasionalisme. Bahwa kemerdekaan itu berkat anugerah Tuhan atas perjuangan para pahlawan. Kemerdekaan ini pula adalah milik segenap bangsa Indonesia.

Untuk itulah, peringatan kemerdekaan dan upacara bendera dihelat di mana-mana. Di istana negara, di kabupaten kota, hingga di pelosok desa. Ada yang melangsungkan secara formal dengan pakaian resmi. Ada pula yang melangsungkan upacara dengan pakaian kebesaran masing-masing.

Nah, karyawan Jawa Pos Radar Jember melangsungkan upacara dengan pakaian yang cukup berbeda. Ada seragam kebesaran. Ada pula karyawan laki-laki yang mengenakan sarung dan atasan batik. Sementara karyawan perempuan mengenakan daster.

Upacara ini berlangsung sekitar satu jam, sejak pukul 07.00. Upacara dikomando Mat Hari, seorang karyawan. Sementara itu, Direktur Jawa Pos Radar Jember Abdul Choliq Baya menjadi inspektur upacara. Momen sakral itu diikuti seluruh karyawan dari beberapa divisi. Prosesi upacara, mulai penampilan paduan suara, pembacaan Teks Proklamasi yang dipimpin direktur, hingga pengibaran bendera merah putih berlangsung baik.

Menurut General Manager Jawa Pos Radar Jember MS Rasyid, kemerdekaan merupakan milik semua orang. “Tidak ada larangan upacara di mana pun. Pakaiannya juga tidak diatur,” jelasnya. Bahkan, pada saat kemerdekaan Indonesia 1945, siapa saja boleh ikut. Baik petani, nelayan, pegawai, maupun mereka yang mengenakan celana pendek. Kemerdekaan maupun acara sakral peringatan kemerdekaan bisa dilakukan siapa saja, di mana saja, dan dengan pakaian apa pun. Terkecuali, upacara yang dilakukan kenegaraan, barulah ada batasan-batasan dan aturan paskibra. Seperti di Istana Negara, Alun-Alun Jember, atau upacara kenegaraan yang resmi.

Dalam momen upacara di halaman Radar Jember ini pun, sejumlah pria juga mengenakan songkok nasional. Sementara perempuan membawa hasduk untuk melengkapi aksesori agar pakaian ada ornamen merah putih. Namun demikian, terlepas dari apa pun pakaian yang dikenakan, tidak mengurangi momen sakral saat upacara berlangsung. (mg5/c2/nur)

KEPATIHAN, Radar JemberProklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 sudah 77 tahun yang lalu. Tanggal tersebut tetap sakral, karena Indonesia lepas dari penjajahan. Setelah itu, kemerdekaan pun diperingati hingga sekarang. Di tengah masyarakat, momen itu pun diperingati dengan berbagai macam cara.

BACA JUGA : Waspada Gelombang Tinggi Terjadi di Laut Selatan Jawa Barat-Yogyakarta

Pagi kemarin, di halaman Jawa Pos Radar Jember juga dilangsungkan upacara yang diikuti seluruh karyawan. Ini dilakukan untuk menguatkan nilai-nilai nasionalisme. Bahwa kemerdekaan itu berkat anugerah Tuhan atas perjuangan para pahlawan. Kemerdekaan ini pula adalah milik segenap bangsa Indonesia.

Untuk itulah, peringatan kemerdekaan dan upacara bendera dihelat di mana-mana. Di istana negara, di kabupaten kota, hingga di pelosok desa. Ada yang melangsungkan secara formal dengan pakaian resmi. Ada pula yang melangsungkan upacara dengan pakaian kebesaran masing-masing.

Nah, karyawan Jawa Pos Radar Jember melangsungkan upacara dengan pakaian yang cukup berbeda. Ada seragam kebesaran. Ada pula karyawan laki-laki yang mengenakan sarung dan atasan batik. Sementara karyawan perempuan mengenakan daster.

Upacara ini berlangsung sekitar satu jam, sejak pukul 07.00. Upacara dikomando Mat Hari, seorang karyawan. Sementara itu, Direktur Jawa Pos Radar Jember Abdul Choliq Baya menjadi inspektur upacara. Momen sakral itu diikuti seluruh karyawan dari beberapa divisi. Prosesi upacara, mulai penampilan paduan suara, pembacaan Teks Proklamasi yang dipimpin direktur, hingga pengibaran bendera merah putih berlangsung baik.

Menurut General Manager Jawa Pos Radar Jember MS Rasyid, kemerdekaan merupakan milik semua orang. “Tidak ada larangan upacara di mana pun. Pakaiannya juga tidak diatur,” jelasnya. Bahkan, pada saat kemerdekaan Indonesia 1945, siapa saja boleh ikut. Baik petani, nelayan, pegawai, maupun mereka yang mengenakan celana pendek. Kemerdekaan maupun acara sakral peringatan kemerdekaan bisa dilakukan siapa saja, di mana saja, dan dengan pakaian apa pun. Terkecuali, upacara yang dilakukan kenegaraan, barulah ada batasan-batasan dan aturan paskibra. Seperti di Istana Negara, Alun-Alun Jember, atau upacara kenegaraan yang resmi.

Dalam momen upacara di halaman Radar Jember ini pun, sejumlah pria juga mengenakan songkok nasional. Sementara perempuan membawa hasduk untuk melengkapi aksesori agar pakaian ada ornamen merah putih. Namun demikian, terlepas dari apa pun pakaian yang dikenakan, tidak mengurangi momen sakral saat upacara berlangsung. (mg5/c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/