alexametrics
29.2 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Makna Penghormatan Kepada Merah Putih Di Areal Persawahan

Mobile_AP_Rectangle 1

ARJASA, RADARJEMBER.ID – TAK mau ketinggalan, momen 17 Agustus kemarin juga diikuti oleh berbagai elemen masyarakat. Mulai dari anak petani, pelajar, mahasiswa, relawan pemakaman, tenaga kesehatan (nakes), hingga penggemar kereta api. Mereka menggelar upacara dengan tempat yang berbeda-beda. Ada yang di areal persawahan, pinggir rel kereta, tengah jalan raya, hingga lereng pegunungan. Kendati begitu, apa yang mereka lakukan tetap berlangsung khidmat dan sarat makna.

Sejumlah anak petani di Dusun Krajan Barat, Desa Candijati, Kecamatan Arjasa, misalnya. Mereka melakukan upacara dengan sangat sederhana. Tak ada inspektur upacara, juga tidak ada pasukan khusus pengibar bendera. Apalagi mimbar atau podium. Namun, semangat mereka seolah ingin menegaskan bahwa ayah mereka yang berprofesi sebagai petani, hari ini masih belum merdeka dari kelangkaan pupuk. “Anak-anak di sekolah biasanya upacara. Mereka sengaja diajak sebagai salah satu upaya memupuk rasa nasionalisme,” kata Jumantoro, seorang petani yang memimpin upacara itu.

Perayaan sederhana itu, menurutnya, juga dimaknai sebagai gambaran terhadap kondisi petani hari ini. Sebab, sampai saat ini petani masih saja dihantui kelangkaan pupuk dan harga murah ketika panen raya tiba. “Kemerdekaan tak lepas dari peran petani sebagai penyokong logistik pangan untuk pejuang. Karena itu, nasionalisme anak-anak ini tidak boleh pudar,” ucapnya.

- Advertisement -

ARJASA, RADARJEMBER.ID – TAK mau ketinggalan, momen 17 Agustus kemarin juga diikuti oleh berbagai elemen masyarakat. Mulai dari anak petani, pelajar, mahasiswa, relawan pemakaman, tenaga kesehatan (nakes), hingga penggemar kereta api. Mereka menggelar upacara dengan tempat yang berbeda-beda. Ada yang di areal persawahan, pinggir rel kereta, tengah jalan raya, hingga lereng pegunungan. Kendati begitu, apa yang mereka lakukan tetap berlangsung khidmat dan sarat makna.

Sejumlah anak petani di Dusun Krajan Barat, Desa Candijati, Kecamatan Arjasa, misalnya. Mereka melakukan upacara dengan sangat sederhana. Tak ada inspektur upacara, juga tidak ada pasukan khusus pengibar bendera. Apalagi mimbar atau podium. Namun, semangat mereka seolah ingin menegaskan bahwa ayah mereka yang berprofesi sebagai petani, hari ini masih belum merdeka dari kelangkaan pupuk. “Anak-anak di sekolah biasanya upacara. Mereka sengaja diajak sebagai salah satu upaya memupuk rasa nasionalisme,” kata Jumantoro, seorang petani yang memimpin upacara itu.

Perayaan sederhana itu, menurutnya, juga dimaknai sebagai gambaran terhadap kondisi petani hari ini. Sebab, sampai saat ini petani masih saja dihantui kelangkaan pupuk dan harga murah ketika panen raya tiba. “Kemerdekaan tak lepas dari peran petani sebagai penyokong logistik pangan untuk pejuang. Karena itu, nasionalisme anak-anak ini tidak boleh pudar,” ucapnya.

ARJASA, RADARJEMBER.ID – TAK mau ketinggalan, momen 17 Agustus kemarin juga diikuti oleh berbagai elemen masyarakat. Mulai dari anak petani, pelajar, mahasiswa, relawan pemakaman, tenaga kesehatan (nakes), hingga penggemar kereta api. Mereka menggelar upacara dengan tempat yang berbeda-beda. Ada yang di areal persawahan, pinggir rel kereta, tengah jalan raya, hingga lereng pegunungan. Kendati begitu, apa yang mereka lakukan tetap berlangsung khidmat dan sarat makna.

Sejumlah anak petani di Dusun Krajan Barat, Desa Candijati, Kecamatan Arjasa, misalnya. Mereka melakukan upacara dengan sangat sederhana. Tak ada inspektur upacara, juga tidak ada pasukan khusus pengibar bendera. Apalagi mimbar atau podium. Namun, semangat mereka seolah ingin menegaskan bahwa ayah mereka yang berprofesi sebagai petani, hari ini masih belum merdeka dari kelangkaan pupuk. “Anak-anak di sekolah biasanya upacara. Mereka sengaja diajak sebagai salah satu upaya memupuk rasa nasionalisme,” kata Jumantoro, seorang petani yang memimpin upacara itu.

Perayaan sederhana itu, menurutnya, juga dimaknai sebagai gambaran terhadap kondisi petani hari ini. Sebab, sampai saat ini petani masih saja dihantui kelangkaan pupuk dan harga murah ketika panen raya tiba. “Kemerdekaan tak lepas dari peran petani sebagai penyokong logistik pangan untuk pejuang. Karena itu, nasionalisme anak-anak ini tidak boleh pudar,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/