alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Biasa Upacara Di Lapangan, Pelajar ini Hormat Depan Televisi

Menjaga Nasionalis, Cara Pelajar Ini Hormat Secara Virtual

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – HUT Ke-76 RI di Jember banyak diperingati dengan berbagai cara. Salah satunya dilakukan Faris Dwi Saputra, dengan mengikuti upacara di depan televisi. Selain menjadi tugas dari sekolah, hal ini juga menjadi pengalaman tersendiri bagi dirinya. Sebab, bukan kali ini saja dia mengikuti upacara peringatan hari kemerdekaan dari depan layar kaca.

Siang itu, lampu di rumah Siti Yuliati tidak seluruhnya menyala. Di balik ruang tamu, putranya, Faris Dwi Saputra, sedang khusyuk mengikuti prosesi upacara bersama Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Namun, kebersamaan itu sebatas melalui perangkat elektronik.

Di ruang tempat Faris yang sedang bersikap tegak, lampu utama juga tak dinyalakan. Faris hanya menghidupkan lampu di atas televisi. Hal itu untuk kepentingan tugas sekolahnya. Sebab, jika lampu utama menyala, hasilnya bisa jelek. Lebih remang-remang karena melawan cahaya dan itu telah dicobanya sebelum upacara dimulai.

Mobile_AP_Rectangle 2

Keseriusan Faris dalam melakukan upacara seorang diri tak perlu diragukan. Bocah yang tinggal di gang sempit, tepatnya di Gang Family, Jalan Karimata, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, tersebut, setiap hari Senin juga upacara sendirian. Hal itu dilakukan sejak dirinya tak masuk ke sekolahnya karena pandemi. Faris rindu bermain dan belajar bersama teman-temannya. Dan merindukan pengibaran bendera merah putih. “Sejak SD dia sangat suka upacara. Sekarang dia kelas 2 di SMPN 10 Kreongan,” ungkap Yuliati.

Sejak pagi, anak kuli bangunan itu telah bersemangat. Dia bergegas mandi dan meminta ibunya merapikan pakaian dan dasi. Faris pun mengenakan seragam sekolah lengkap dengan sepatunya. Yuliati yang melihat itu tidak terkejut, karena setiap Senin dirinya selalu diajak upacara oleh sang anak. “Upacara kali ini, saya hanya diminta untuk memotret. Katanya ada tugas sekolah untuk ikut upacara di depan TV,” paparnya.

Keseriusan Faris dalam menjalani upacara meski tak di lapangan bukan kali ini saja. Tahun lalu, Faris juga memperingati HUT RI di depan rumahnya. Saat itu, ibunya juga diminta untuk hormat ke bendera merah putih. Insiden itu pun sempat diabadikan oleh ketua RT setempat.

Tak lama kemudian, Faris menyelesaikan upacara bersama Presiden di depan TV. Foto hasil jepretan ibunya, nantinya menjadi bukti dan disetor melalui Google Classroom ke sekolahnya. Namanya saja upacara bersama Presiden, Faris pun sekitar tiga jam mengikuti prosesi sedari awal hingga selesai.

Setelah hormat kepada bendera merah putih dan berdoa bersama, upacara kemudian selesai. Melihat itu, Yuliati merasa terenyuh, karena putranya sejak SD telah menyukainya. “Dulu waktu di SDN Sumbersari, dia sering menjadi petugas pengibar bendera. Saat pandemi di awal-awal, saya diajari pegang bendera yang benar sampai mengibarkannya. Selama pandemi, setiap Senin dia upacara sendiri,” tutur Yuliati.

Seusai upacara, Faris mengaku, saat dirinya kecil dulu, dia suka menjadi polisi cilik. Dia kerap mendapat pembinaan bahkan pernah tampil di depan bupati. “Tiga tahun saya jadi polisi cilik. Tetapi, selama ada korona, semuanya harus online,” paparnya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – HUT Ke-76 RI di Jember banyak diperingati dengan berbagai cara. Salah satunya dilakukan Faris Dwi Saputra, dengan mengikuti upacara di depan televisi. Selain menjadi tugas dari sekolah, hal ini juga menjadi pengalaman tersendiri bagi dirinya. Sebab, bukan kali ini saja dia mengikuti upacara peringatan hari kemerdekaan dari depan layar kaca.

Siang itu, lampu di rumah Siti Yuliati tidak seluruhnya menyala. Di balik ruang tamu, putranya, Faris Dwi Saputra, sedang khusyuk mengikuti prosesi upacara bersama Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Namun, kebersamaan itu sebatas melalui perangkat elektronik.

Di ruang tempat Faris yang sedang bersikap tegak, lampu utama juga tak dinyalakan. Faris hanya menghidupkan lampu di atas televisi. Hal itu untuk kepentingan tugas sekolahnya. Sebab, jika lampu utama menyala, hasilnya bisa jelek. Lebih remang-remang karena melawan cahaya dan itu telah dicobanya sebelum upacara dimulai.

Keseriusan Faris dalam melakukan upacara seorang diri tak perlu diragukan. Bocah yang tinggal di gang sempit, tepatnya di Gang Family, Jalan Karimata, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, tersebut, setiap hari Senin juga upacara sendirian. Hal itu dilakukan sejak dirinya tak masuk ke sekolahnya karena pandemi. Faris rindu bermain dan belajar bersama teman-temannya. Dan merindukan pengibaran bendera merah putih. “Sejak SD dia sangat suka upacara. Sekarang dia kelas 2 di SMPN 10 Kreongan,” ungkap Yuliati.

Sejak pagi, anak kuli bangunan itu telah bersemangat. Dia bergegas mandi dan meminta ibunya merapikan pakaian dan dasi. Faris pun mengenakan seragam sekolah lengkap dengan sepatunya. Yuliati yang melihat itu tidak terkejut, karena setiap Senin dirinya selalu diajak upacara oleh sang anak. “Upacara kali ini, saya hanya diminta untuk memotret. Katanya ada tugas sekolah untuk ikut upacara di depan TV,” paparnya.

Keseriusan Faris dalam menjalani upacara meski tak di lapangan bukan kali ini saja. Tahun lalu, Faris juga memperingati HUT RI di depan rumahnya. Saat itu, ibunya juga diminta untuk hormat ke bendera merah putih. Insiden itu pun sempat diabadikan oleh ketua RT setempat.

Tak lama kemudian, Faris menyelesaikan upacara bersama Presiden di depan TV. Foto hasil jepretan ibunya, nantinya menjadi bukti dan disetor melalui Google Classroom ke sekolahnya. Namanya saja upacara bersama Presiden, Faris pun sekitar tiga jam mengikuti prosesi sedari awal hingga selesai.

Setelah hormat kepada bendera merah putih dan berdoa bersama, upacara kemudian selesai. Melihat itu, Yuliati merasa terenyuh, karena putranya sejak SD telah menyukainya. “Dulu waktu di SDN Sumbersari, dia sering menjadi petugas pengibar bendera. Saat pandemi di awal-awal, saya diajari pegang bendera yang benar sampai mengibarkannya. Selama pandemi, setiap Senin dia upacara sendiri,” tutur Yuliati.

Seusai upacara, Faris mengaku, saat dirinya kecil dulu, dia suka menjadi polisi cilik. Dia kerap mendapat pembinaan bahkan pernah tampil di depan bupati. “Tiga tahun saya jadi polisi cilik. Tetapi, selama ada korona, semuanya harus online,” paparnya.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – HUT Ke-76 RI di Jember banyak diperingati dengan berbagai cara. Salah satunya dilakukan Faris Dwi Saputra, dengan mengikuti upacara di depan televisi. Selain menjadi tugas dari sekolah, hal ini juga menjadi pengalaman tersendiri bagi dirinya. Sebab, bukan kali ini saja dia mengikuti upacara peringatan hari kemerdekaan dari depan layar kaca.

Siang itu, lampu di rumah Siti Yuliati tidak seluruhnya menyala. Di balik ruang tamu, putranya, Faris Dwi Saputra, sedang khusyuk mengikuti prosesi upacara bersama Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Namun, kebersamaan itu sebatas melalui perangkat elektronik.

Di ruang tempat Faris yang sedang bersikap tegak, lampu utama juga tak dinyalakan. Faris hanya menghidupkan lampu di atas televisi. Hal itu untuk kepentingan tugas sekolahnya. Sebab, jika lampu utama menyala, hasilnya bisa jelek. Lebih remang-remang karena melawan cahaya dan itu telah dicobanya sebelum upacara dimulai.

Keseriusan Faris dalam melakukan upacara seorang diri tak perlu diragukan. Bocah yang tinggal di gang sempit, tepatnya di Gang Family, Jalan Karimata, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, tersebut, setiap hari Senin juga upacara sendirian. Hal itu dilakukan sejak dirinya tak masuk ke sekolahnya karena pandemi. Faris rindu bermain dan belajar bersama teman-temannya. Dan merindukan pengibaran bendera merah putih. “Sejak SD dia sangat suka upacara. Sekarang dia kelas 2 di SMPN 10 Kreongan,” ungkap Yuliati.

Sejak pagi, anak kuli bangunan itu telah bersemangat. Dia bergegas mandi dan meminta ibunya merapikan pakaian dan dasi. Faris pun mengenakan seragam sekolah lengkap dengan sepatunya. Yuliati yang melihat itu tidak terkejut, karena setiap Senin dirinya selalu diajak upacara oleh sang anak. “Upacara kali ini, saya hanya diminta untuk memotret. Katanya ada tugas sekolah untuk ikut upacara di depan TV,” paparnya.

Keseriusan Faris dalam menjalani upacara meski tak di lapangan bukan kali ini saja. Tahun lalu, Faris juga memperingati HUT RI di depan rumahnya. Saat itu, ibunya juga diminta untuk hormat ke bendera merah putih. Insiden itu pun sempat diabadikan oleh ketua RT setempat.

Tak lama kemudian, Faris menyelesaikan upacara bersama Presiden di depan TV. Foto hasil jepretan ibunya, nantinya menjadi bukti dan disetor melalui Google Classroom ke sekolahnya. Namanya saja upacara bersama Presiden, Faris pun sekitar tiga jam mengikuti prosesi sedari awal hingga selesai.

Setelah hormat kepada bendera merah putih dan berdoa bersama, upacara kemudian selesai. Melihat itu, Yuliati merasa terenyuh, karena putranya sejak SD telah menyukainya. “Dulu waktu di SDN Sumbersari, dia sering menjadi petugas pengibar bendera. Saat pandemi di awal-awal, saya diajari pegang bendera yang benar sampai mengibarkannya. Selama pandemi, setiap Senin dia upacara sendiri,” tutur Yuliati.

Seusai upacara, Faris mengaku, saat dirinya kecil dulu, dia suka menjadi polisi cilik. Dia kerap mendapat pembinaan bahkan pernah tampil di depan bupati. “Tiga tahun saya jadi polisi cilik. Tetapi, selama ada korona, semuanya harus online,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/