alexametrics
23.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Pelihara Lutung Jawa Harus Izin Presiden

Mobile_AP_Rectangle 1

TEGALBOTO – Dua lutung Jawa itu diberi nama Jhony dan Rina. Geraknya pasif, tak selincah lutung di alam liar. Ruang geraknya terbatas di dalam  kandang kecil. Maklum, satwa dengan nama latin  Trachypithecus auratus auratus itu dipelihara oleh warga. Padahal, untuk memelihara lutung Jawa, seseorang harus mendapat izin dari Presiden.

Jhony dan Rina baru saja didapatkan oleh Bidang KSDA Wilayah III Jember dari warga Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Warga menyerahkannya secara sukarela pada petugas BKSDA. Satwa itu lalu dikirim ke pusat rehabilitasi lutung di Javan Langur Center, Kota Batu, Malang. “Dia dipelihara sejak kecil oleh Abdul Aziz, warga Sumberejo,” kata Budi Harsono, Kepala Resort Konservasi Wilayah 16 Jember.

Saat diminta untuk diserahkan kepada petugas, dia mengaku ada rasa tidak ikhlas karena sudah merawatnya sejak kecil. Namun, memelihara hewan tersebut dilarang, karena termasuk satwa dilindungi. “Jika hewan itu bisa bicara, pasti memilih hidup di habitat alaminya,” terang Budi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Memelihara satwa tersebut tanpa izin bisa dikenai pidana. Hal itu sudah diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Terpaksa, Abdul Aziz menyerahkannya kepada petugas.

Jhony dan Rina diberangkatkan ke Malang bersama satwa dilindungi lainnya. Mulai dari buaya muara, burung jalak Bali, jalak putih, nuri kepala hitam, buaya muara, kakak tua jambul kuning dan jingga. “Kami titipkan untuk tangkar di Jatim Park. Untuk lutung Jawa di Javan Langur Center,” tambah Setyo Utomo, Kepala BKSDA Wilayah III Jember.

- Advertisement -

TEGALBOTO – Dua lutung Jawa itu diberi nama Jhony dan Rina. Geraknya pasif, tak selincah lutung di alam liar. Ruang geraknya terbatas di dalam  kandang kecil. Maklum, satwa dengan nama latin  Trachypithecus auratus auratus itu dipelihara oleh warga. Padahal, untuk memelihara lutung Jawa, seseorang harus mendapat izin dari Presiden.

Jhony dan Rina baru saja didapatkan oleh Bidang KSDA Wilayah III Jember dari warga Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Warga menyerahkannya secara sukarela pada petugas BKSDA. Satwa itu lalu dikirim ke pusat rehabilitasi lutung di Javan Langur Center, Kota Batu, Malang. “Dia dipelihara sejak kecil oleh Abdul Aziz, warga Sumberejo,” kata Budi Harsono, Kepala Resort Konservasi Wilayah 16 Jember.

Saat diminta untuk diserahkan kepada petugas, dia mengaku ada rasa tidak ikhlas karena sudah merawatnya sejak kecil. Namun, memelihara hewan tersebut dilarang, karena termasuk satwa dilindungi. “Jika hewan itu bisa bicara, pasti memilih hidup di habitat alaminya,” terang Budi.

Memelihara satwa tersebut tanpa izin bisa dikenai pidana. Hal itu sudah diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Terpaksa, Abdul Aziz menyerahkannya kepada petugas.

Jhony dan Rina diberangkatkan ke Malang bersama satwa dilindungi lainnya. Mulai dari buaya muara, burung jalak Bali, jalak putih, nuri kepala hitam, buaya muara, kakak tua jambul kuning dan jingga. “Kami titipkan untuk tangkar di Jatim Park. Untuk lutung Jawa di Javan Langur Center,” tambah Setyo Utomo, Kepala BKSDA Wilayah III Jember.

TEGALBOTO – Dua lutung Jawa itu diberi nama Jhony dan Rina. Geraknya pasif, tak selincah lutung di alam liar. Ruang geraknya terbatas di dalam  kandang kecil. Maklum, satwa dengan nama latin  Trachypithecus auratus auratus itu dipelihara oleh warga. Padahal, untuk memelihara lutung Jawa, seseorang harus mendapat izin dari Presiden.

Jhony dan Rina baru saja didapatkan oleh Bidang KSDA Wilayah III Jember dari warga Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Warga menyerahkannya secara sukarela pada petugas BKSDA. Satwa itu lalu dikirim ke pusat rehabilitasi lutung di Javan Langur Center, Kota Batu, Malang. “Dia dipelihara sejak kecil oleh Abdul Aziz, warga Sumberejo,” kata Budi Harsono, Kepala Resort Konservasi Wilayah 16 Jember.

Saat diminta untuk diserahkan kepada petugas, dia mengaku ada rasa tidak ikhlas karena sudah merawatnya sejak kecil. Namun, memelihara hewan tersebut dilarang, karena termasuk satwa dilindungi. “Jika hewan itu bisa bicara, pasti memilih hidup di habitat alaminya,” terang Budi.

Memelihara satwa tersebut tanpa izin bisa dikenai pidana. Hal itu sudah diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Terpaksa, Abdul Aziz menyerahkannya kepada petugas.

Jhony dan Rina diberangkatkan ke Malang bersama satwa dilindungi lainnya. Mulai dari buaya muara, burung jalak Bali, jalak putih, nuri kepala hitam, buaya muara, kakak tua jambul kuning dan jingga. “Kami titipkan untuk tangkar di Jatim Park. Untuk lutung Jawa di Javan Langur Center,” tambah Setyo Utomo, Kepala BKSDA Wilayah III Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/