alexametrics
23 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Pemudik Akali Petugas Pos Penyekatan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak awal, aturan penyekatan untuk membatasi mobilitas masyarakat di masa libur Lebaran dianggap tidak konsisten. Banyak pihak yang mengkritisi aturan tersebut, termasuk para akademisi. Sebab, mereka menilai tidak ada prosedur operasional standar yang jelas. Sehingga potensi pembangkangan cukup tinggi.

Jawa Pos Radar Jember coba menelisik beberapa kisah para penerobos penyekatan. Ternyata, motif dan cara yang mereka lalukan cukup variatif. Mulai dari penggunaan surat tugas pekerjaan, menerobos secara diam-diam menunggu petugas pos pantau lengah, hingga berangkat dini hari ketika pos penjagaan longgar. Salah satu penerobos itu adalah Ponira (bukan nama sebenarnya).

Ponira merupakan pekerja pada perusahaan BUMN di Surabaya. Kebetulan juga, ibunya merupakan pegawai di lingkungan kedinasan Jember. Ia mengaku lolos dan masuk Jember dengan menyertakan surat tugas dari kantor. Padahal, sebenarnya ia tidak ada kepentingan pekerjaan yang harus diselesaikan di Jember. Surat itu hanya untuk mengakali petugas pos penyekatan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ia mengendarai mobil dari Surabaya ke Jember tepat H-3 Lebaran atau setelah kebijakan pembatasan itu diterapkan. Dia mengaku, setiap penyekatan di kabupaten berhasil ia terobos. Tidak ada persyaratan khusus yang harus dilengkapi Ponira kecuali surat tugas. “Karena suami dan anak saya memiliki jabatan tinggi. Jadi, pembuatan suratnya agak mudah. Beda dengan anak saya yang di Jakarta,” ungkap ibu Ponira, saat ditemui di kantor dinasnya.

Lain orang, beda cerita. Suhaili merupakan pemudik yang menuju Banyuwangi. Ia bersama istri dan anaknya mengendarai motor agar sampai di Banyuwangi. Ia berangkat pada H+2 Idul Fitri. Saat ia berangkat, pos penyekatan di Gumitir cukup longgar. Tidak ada interogasi khusus atau keterangan pemberhentian dari pihak kepolisian. Suhaili bisa luasa melintasi wilayah perbatasan Jember-Banyuwangi tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak awal, aturan penyekatan untuk membatasi mobilitas masyarakat di masa libur Lebaran dianggap tidak konsisten. Banyak pihak yang mengkritisi aturan tersebut, termasuk para akademisi. Sebab, mereka menilai tidak ada prosedur operasional standar yang jelas. Sehingga potensi pembangkangan cukup tinggi.

Jawa Pos Radar Jember coba menelisik beberapa kisah para penerobos penyekatan. Ternyata, motif dan cara yang mereka lalukan cukup variatif. Mulai dari penggunaan surat tugas pekerjaan, menerobos secara diam-diam menunggu petugas pos pantau lengah, hingga berangkat dini hari ketika pos penjagaan longgar. Salah satu penerobos itu adalah Ponira (bukan nama sebenarnya).

Ponira merupakan pekerja pada perusahaan BUMN di Surabaya. Kebetulan juga, ibunya merupakan pegawai di lingkungan kedinasan Jember. Ia mengaku lolos dan masuk Jember dengan menyertakan surat tugas dari kantor. Padahal, sebenarnya ia tidak ada kepentingan pekerjaan yang harus diselesaikan di Jember. Surat itu hanya untuk mengakali petugas pos penyekatan.

Ia mengendarai mobil dari Surabaya ke Jember tepat H-3 Lebaran atau setelah kebijakan pembatasan itu diterapkan. Dia mengaku, setiap penyekatan di kabupaten berhasil ia terobos. Tidak ada persyaratan khusus yang harus dilengkapi Ponira kecuali surat tugas. “Karena suami dan anak saya memiliki jabatan tinggi. Jadi, pembuatan suratnya agak mudah. Beda dengan anak saya yang di Jakarta,” ungkap ibu Ponira, saat ditemui di kantor dinasnya.

Lain orang, beda cerita. Suhaili merupakan pemudik yang menuju Banyuwangi. Ia bersama istri dan anaknya mengendarai motor agar sampai di Banyuwangi. Ia berangkat pada H+2 Idul Fitri. Saat ia berangkat, pos penyekatan di Gumitir cukup longgar. Tidak ada interogasi khusus atau keterangan pemberhentian dari pihak kepolisian. Suhaili bisa luasa melintasi wilayah perbatasan Jember-Banyuwangi tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak awal, aturan penyekatan untuk membatasi mobilitas masyarakat di masa libur Lebaran dianggap tidak konsisten. Banyak pihak yang mengkritisi aturan tersebut, termasuk para akademisi. Sebab, mereka menilai tidak ada prosedur operasional standar yang jelas. Sehingga potensi pembangkangan cukup tinggi.

Jawa Pos Radar Jember coba menelisik beberapa kisah para penerobos penyekatan. Ternyata, motif dan cara yang mereka lalukan cukup variatif. Mulai dari penggunaan surat tugas pekerjaan, menerobos secara diam-diam menunggu petugas pos pantau lengah, hingga berangkat dini hari ketika pos penjagaan longgar. Salah satu penerobos itu adalah Ponira (bukan nama sebenarnya).

Ponira merupakan pekerja pada perusahaan BUMN di Surabaya. Kebetulan juga, ibunya merupakan pegawai di lingkungan kedinasan Jember. Ia mengaku lolos dan masuk Jember dengan menyertakan surat tugas dari kantor. Padahal, sebenarnya ia tidak ada kepentingan pekerjaan yang harus diselesaikan di Jember. Surat itu hanya untuk mengakali petugas pos penyekatan.

Ia mengendarai mobil dari Surabaya ke Jember tepat H-3 Lebaran atau setelah kebijakan pembatasan itu diterapkan. Dia mengaku, setiap penyekatan di kabupaten berhasil ia terobos. Tidak ada persyaratan khusus yang harus dilengkapi Ponira kecuali surat tugas. “Karena suami dan anak saya memiliki jabatan tinggi. Jadi, pembuatan suratnya agak mudah. Beda dengan anak saya yang di Jakarta,” ungkap ibu Ponira, saat ditemui di kantor dinasnya.

Lain orang, beda cerita. Suhaili merupakan pemudik yang menuju Banyuwangi. Ia bersama istri dan anaknya mengendarai motor agar sampai di Banyuwangi. Ia berangkat pada H+2 Idul Fitri. Saat ia berangkat, pos penyekatan di Gumitir cukup longgar. Tidak ada interogasi khusus atau keterangan pemberhentian dari pihak kepolisian. Suhaili bisa luasa melintasi wilayah perbatasan Jember-Banyuwangi tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/