alexametrics
23.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Zakat Dapat Mengurangi Pajak

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER LOR, Radar Jember – Zakat termasuk dalam rukun Islam yang ketiga. Artinya, ini termasuk tiang utama tegaknya syariat Islam. Maka dari itu, hukum zakat adalah wajib untuk setiap muslim yang telah memenuhi syarat wajib dan syarat sahnya. Nah, kaitan dengan zakat ini, banyak orang yang tidak mengetahui ternyata dapat mengurangi jumlah besaran pajak, asalkan pembayaran zakat dilakukan ke lembaga yang resmi.

Kepala Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jember Achmad Fathor Rosyid menjelaskan, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama menyikapi zakat dan pajak. Jika mengacu pada pendapat Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mashudi, ketika orang mengeluarkan pajak, dia dianggap sudah termasuk membayar zakat. “Namun, pendapat ini banyak ditolak oleh mayoritas ulama,” jelasnya, di kantor AZKA, Jalan RA Kartini, Kampung Using, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Patrang, Sabtu (16/4).

Dia melanjutkan, pajak dan zakat tidaklah sama. Zakat mempunyai syarat dan ketentuan tersendiri, sedangkan pajak ditetapkan oleh pemerintah. Namun, pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat pada Pasal 22 dan Pasal 23 ayat 1-2 memberikan potongan pajak kepada muzaki atau orang yang mengeluarkan zakat profesinya. “Dengan syarat, zakat tersebut dikeluarkan melalui lembaga yang resmi dengan menunjukkan kuitansi zakat, misal pajak kita 200 ribu, zakat kita 50 ribu, berarti pajak kita tinggal 150 ribu,” terang Rosyid yang juga dosen di UIN KHAS Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tujuan diberlakukannya aturan ini agar wajib pajak yang beragama Islam tidak terkena kewajiban ganda. Selain membayar zakat, juga terkena kewajiban membayar pajak. Nah, untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat, akhirnya pemerintah mengambil jalan tengah dengan menerbitkan aturan tersebut. “Hal ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, pasal 4 ayat (3) huruf a,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER LOR, Radar Jember – Zakat termasuk dalam rukun Islam yang ketiga. Artinya, ini termasuk tiang utama tegaknya syariat Islam. Maka dari itu, hukum zakat adalah wajib untuk setiap muslim yang telah memenuhi syarat wajib dan syarat sahnya. Nah, kaitan dengan zakat ini, banyak orang yang tidak mengetahui ternyata dapat mengurangi jumlah besaran pajak, asalkan pembayaran zakat dilakukan ke lembaga yang resmi.

Kepala Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jember Achmad Fathor Rosyid menjelaskan, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama menyikapi zakat dan pajak. Jika mengacu pada pendapat Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mashudi, ketika orang mengeluarkan pajak, dia dianggap sudah termasuk membayar zakat. “Namun, pendapat ini banyak ditolak oleh mayoritas ulama,” jelasnya, di kantor AZKA, Jalan RA Kartini, Kampung Using, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Patrang, Sabtu (16/4).

Dia melanjutkan, pajak dan zakat tidaklah sama. Zakat mempunyai syarat dan ketentuan tersendiri, sedangkan pajak ditetapkan oleh pemerintah. Namun, pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat pada Pasal 22 dan Pasal 23 ayat 1-2 memberikan potongan pajak kepada muzaki atau orang yang mengeluarkan zakat profesinya. “Dengan syarat, zakat tersebut dikeluarkan melalui lembaga yang resmi dengan menunjukkan kuitansi zakat, misal pajak kita 200 ribu, zakat kita 50 ribu, berarti pajak kita tinggal 150 ribu,” terang Rosyid yang juga dosen di UIN KHAS Jember.

Tujuan diberlakukannya aturan ini agar wajib pajak yang beragama Islam tidak terkena kewajiban ganda. Selain membayar zakat, juga terkena kewajiban membayar pajak. Nah, untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat, akhirnya pemerintah mengambil jalan tengah dengan menerbitkan aturan tersebut. “Hal ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, pasal 4 ayat (3) huruf a,” ungkapnya.

JEMBER LOR, Radar Jember – Zakat termasuk dalam rukun Islam yang ketiga. Artinya, ini termasuk tiang utama tegaknya syariat Islam. Maka dari itu, hukum zakat adalah wajib untuk setiap muslim yang telah memenuhi syarat wajib dan syarat sahnya. Nah, kaitan dengan zakat ini, banyak orang yang tidak mengetahui ternyata dapat mengurangi jumlah besaran pajak, asalkan pembayaran zakat dilakukan ke lembaga yang resmi.

Kepala Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jember Achmad Fathor Rosyid menjelaskan, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama menyikapi zakat dan pajak. Jika mengacu pada pendapat Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mashudi, ketika orang mengeluarkan pajak, dia dianggap sudah termasuk membayar zakat. “Namun, pendapat ini banyak ditolak oleh mayoritas ulama,” jelasnya, di kantor AZKA, Jalan RA Kartini, Kampung Using, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Patrang, Sabtu (16/4).

Dia melanjutkan, pajak dan zakat tidaklah sama. Zakat mempunyai syarat dan ketentuan tersendiri, sedangkan pajak ditetapkan oleh pemerintah. Namun, pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat pada Pasal 22 dan Pasal 23 ayat 1-2 memberikan potongan pajak kepada muzaki atau orang yang mengeluarkan zakat profesinya. “Dengan syarat, zakat tersebut dikeluarkan melalui lembaga yang resmi dengan menunjukkan kuitansi zakat, misal pajak kita 200 ribu, zakat kita 50 ribu, berarti pajak kita tinggal 150 ribu,” terang Rosyid yang juga dosen di UIN KHAS Jember.

Tujuan diberlakukannya aturan ini agar wajib pajak yang beragama Islam tidak terkena kewajiban ganda. Selain membayar zakat, juga terkena kewajiban membayar pajak. Nah, untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat, akhirnya pemerintah mengambil jalan tengah dengan menerbitkan aturan tersebut. “Hal ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, pasal 4 ayat (3) huruf a,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/