alexametrics
31.2 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Panjang Jalannya, tapi Pendek Umurnya

Pemkab Jember tengah menggenjot perbaikan jalan sepanjang 1.080 kilometer. Pembangunan jalan tersebut tersebar di Jember. Sayangnya, upaya itu kurang diimbangi dengan kontrol, pengawasan, dan pencegahan agar usia jalan tidak pendek.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kendaraan bertonase tinggi saat ini masih bebas lalu lalang di Jember. Bahkan, sampai masuk ke jalan desa dan dusun. Akibatnya, jalan aspal cepat mrotol lantaran kendaraan over dimension and overloading (odol).

Baca Juga : Kinerja Disdukcapil Jatim Terbaik Nasional Pada Triwulan Satu Tahun 2022

Pengaruh kendaraan berat tersebut selayaknya diperhatikan oleh pemerintah. Apalagi, proyek multiyears yang menelan anggaran lebih dari Rp 600 miliar fokus pada perbaikan jalan aspal. Jika tidak, panjang jalan yang dicanangkan sekitar 1.080 kilo meter yang tersebar di Jember akan bisa menjadi muspro. Alih-alih jalan bisa berusia panjang alias tahan lama, bisa berumur pendek alias mudah rusak.

Mobile_AP_Rectangle 2

Oleh karenanya, pemerintah pun layak untuk melakukan sosialisasi sampai adanya pencegahan, bahkan sanksi. Selain itu, pemerintah juga perlu mengambil langkah tegas, mengingat jalan memiliki klasifikasi dan kekuatannya juga berbeda.

Staf Bidang Data dan Perencanaan Aset Infrastruktur Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Jember Gapurnomo mengatakan, dalam aturannya kelas jalan dibagi menjadi tiga. Hal itu berdasar Peraturan Menteri PUPR Nomor 5 Tahun 2018 tentang Penetapan Kelas Jalan Berdasarkan Fungsi dan Intensitas Lalu Lintas serta Daya Dukung Menerima Muatan Sumbu Terberat dan Dimensi Kendaraan Bermotor. “Pembagian ini terbagi menurut fungsi dan muatan kendaraan bermotor,” terangnya.

Dia melanjutkan, dari beberapa jenis atau tipe kelas jalan dengan kapasitas tonase maksimal, terbagi menjadi jalan kelas I, jalan kelas II, dan jalan kelas III. “Contoh yang tidak masuk katagori 1, 2, dan 3 itu seperti jalan dusun dan desa,” jelasnya melalui sambungan telepon, Sabtu (16/4).

Purnomo menjelaskan, jalan kelas I sebagaimana dimaksud meliputi jalan nasional, arteri, dan kolektor, yang dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter. Ukuran panjangnya tidak boleh melebihi 18.000 milimeter. Sedangkan tingginya tidak melebihi 4.200 milimeter. Selain itu, berat tonase maksimal adalah 10 ton. “Jalan tipe ini meliputi sepanjang jalan Tanggul, Rambipuji, sampai arah perbatasan Banyuwangi,” terangnya.

Kemudian, jalan kelas II meliputi jalan lokal dan lingkungan yang dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter. Panjang kendaraan tidak melebihi 12.000 milimeter. Sedangkan tingginya tidak melebihi 4.200 milimeter. Sementara, berat maksimal 8 ton. “Jalan ini seperti Jalan Arowana, Gebang, dan jalan-jalan lokal lainnya,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kendaraan bertonase tinggi saat ini masih bebas lalu lalang di Jember. Bahkan, sampai masuk ke jalan desa dan dusun. Akibatnya, jalan aspal cepat mrotol lantaran kendaraan over dimension and overloading (odol).

Baca Juga : Kinerja Disdukcapil Jatim Terbaik Nasional Pada Triwulan Satu Tahun 2022

Pengaruh kendaraan berat tersebut selayaknya diperhatikan oleh pemerintah. Apalagi, proyek multiyears yang menelan anggaran lebih dari Rp 600 miliar fokus pada perbaikan jalan aspal. Jika tidak, panjang jalan yang dicanangkan sekitar 1.080 kilo meter yang tersebar di Jember akan bisa menjadi muspro. Alih-alih jalan bisa berusia panjang alias tahan lama, bisa berumur pendek alias mudah rusak.

Oleh karenanya, pemerintah pun layak untuk melakukan sosialisasi sampai adanya pencegahan, bahkan sanksi. Selain itu, pemerintah juga perlu mengambil langkah tegas, mengingat jalan memiliki klasifikasi dan kekuatannya juga berbeda.

Staf Bidang Data dan Perencanaan Aset Infrastruktur Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Jember Gapurnomo mengatakan, dalam aturannya kelas jalan dibagi menjadi tiga. Hal itu berdasar Peraturan Menteri PUPR Nomor 5 Tahun 2018 tentang Penetapan Kelas Jalan Berdasarkan Fungsi dan Intensitas Lalu Lintas serta Daya Dukung Menerima Muatan Sumbu Terberat dan Dimensi Kendaraan Bermotor. “Pembagian ini terbagi menurut fungsi dan muatan kendaraan bermotor,” terangnya.

Dia melanjutkan, dari beberapa jenis atau tipe kelas jalan dengan kapasitas tonase maksimal, terbagi menjadi jalan kelas I, jalan kelas II, dan jalan kelas III. “Contoh yang tidak masuk katagori 1, 2, dan 3 itu seperti jalan dusun dan desa,” jelasnya melalui sambungan telepon, Sabtu (16/4).

Purnomo menjelaskan, jalan kelas I sebagaimana dimaksud meliputi jalan nasional, arteri, dan kolektor, yang dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter. Ukuran panjangnya tidak boleh melebihi 18.000 milimeter. Sedangkan tingginya tidak melebihi 4.200 milimeter. Selain itu, berat tonase maksimal adalah 10 ton. “Jalan tipe ini meliputi sepanjang jalan Tanggul, Rambipuji, sampai arah perbatasan Banyuwangi,” terangnya.

Kemudian, jalan kelas II meliputi jalan lokal dan lingkungan yang dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter. Panjang kendaraan tidak melebihi 12.000 milimeter. Sedangkan tingginya tidak melebihi 4.200 milimeter. Sementara, berat maksimal 8 ton. “Jalan ini seperti Jalan Arowana, Gebang, dan jalan-jalan lokal lainnya,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kendaraan bertonase tinggi saat ini masih bebas lalu lalang di Jember. Bahkan, sampai masuk ke jalan desa dan dusun. Akibatnya, jalan aspal cepat mrotol lantaran kendaraan over dimension and overloading (odol).

Baca Juga : Kinerja Disdukcapil Jatim Terbaik Nasional Pada Triwulan Satu Tahun 2022

Pengaruh kendaraan berat tersebut selayaknya diperhatikan oleh pemerintah. Apalagi, proyek multiyears yang menelan anggaran lebih dari Rp 600 miliar fokus pada perbaikan jalan aspal. Jika tidak, panjang jalan yang dicanangkan sekitar 1.080 kilo meter yang tersebar di Jember akan bisa menjadi muspro. Alih-alih jalan bisa berusia panjang alias tahan lama, bisa berumur pendek alias mudah rusak.

Oleh karenanya, pemerintah pun layak untuk melakukan sosialisasi sampai adanya pencegahan, bahkan sanksi. Selain itu, pemerintah juga perlu mengambil langkah tegas, mengingat jalan memiliki klasifikasi dan kekuatannya juga berbeda.

Staf Bidang Data dan Perencanaan Aset Infrastruktur Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Jember Gapurnomo mengatakan, dalam aturannya kelas jalan dibagi menjadi tiga. Hal itu berdasar Peraturan Menteri PUPR Nomor 5 Tahun 2018 tentang Penetapan Kelas Jalan Berdasarkan Fungsi dan Intensitas Lalu Lintas serta Daya Dukung Menerima Muatan Sumbu Terberat dan Dimensi Kendaraan Bermotor. “Pembagian ini terbagi menurut fungsi dan muatan kendaraan bermotor,” terangnya.

Dia melanjutkan, dari beberapa jenis atau tipe kelas jalan dengan kapasitas tonase maksimal, terbagi menjadi jalan kelas I, jalan kelas II, dan jalan kelas III. “Contoh yang tidak masuk katagori 1, 2, dan 3 itu seperti jalan dusun dan desa,” jelasnya melalui sambungan telepon, Sabtu (16/4).

Purnomo menjelaskan, jalan kelas I sebagaimana dimaksud meliputi jalan nasional, arteri, dan kolektor, yang dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter. Ukuran panjangnya tidak boleh melebihi 18.000 milimeter. Sedangkan tingginya tidak melebihi 4.200 milimeter. Selain itu, berat tonase maksimal adalah 10 ton. “Jalan tipe ini meliputi sepanjang jalan Tanggul, Rambipuji, sampai arah perbatasan Banyuwangi,” terangnya.

Kemudian, jalan kelas II meliputi jalan lokal dan lingkungan yang dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter. Panjang kendaraan tidak melebihi 12.000 milimeter. Sedangkan tingginya tidak melebihi 4.200 milimeter. Sementara, berat maksimal 8 ton. “Jalan ini seperti Jalan Arowana, Gebang, dan jalan-jalan lokal lainnya,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/