alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Seorang Guru Penyintas Covid-19 Hasilkan Tulisan Karena Cinta

Tulisan itu menjadi buku yang diberi judul Lepas dari Korona dengan Cinta.

Mobile_AP_Rectangle 1

Belum lagi saat itu, kata dia, keparnoan tetangga yang masih membalut keluarganya karena sebagai penyintas, benar-benar menjadi pukulan di benaknya. “Anak saya yang mau latihan hadrah saja, itu diminta libur. Sudah di sekolah libur ngajar, suami baru pulang, anak tidak bisa beraktivitas. Sangat jadi tekanan buat saya,” kata guru IPA ini.

Entah dapat ilham dari mana, di tengah kondisinya yang carut-marut itu, Afifa ingin menuliskan perjalanan kisahnya melawan virus tersebut. Dia memulai setahap demi setahap menulis sebuah tulisan mengenai perjalanan hidupnya, hingga kemudian dikumpulkannya tulisan itu menjadi buku yang diberi judul Lepas dari Korona dengan Cinta.

Kata Afifa, buku itu sejatinya berangkat dari kegelisahan batinnya, diangkat dari kisah nyata, kala dia dan keluarganya terpapar Covid-19. Ada beberapa tema yang dia sajikan dalam tulisannya itu. Salah satu gagasannya adalah tentang cinta, yang sejatinya harus diupayakan, ditunjukkan, kepada siapa pun dan dalam kondisi apa pun. Dia juga mengkritik soal keparnoan masyarakat, bahkan termasuk sekolahnya, yang terkesan menutup diri ketika terjadi suatu musibah tanpa ada saling support. “Sengaja saya kemas judulnya dengan kata ‘cinta’. Saya ingin membuka cara pandang pembaca bahwa cinta itu memiliki kekuatan membangkitkan dan membangun kepedulian,” terang ibu 43 tahun ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tidak butuh waktu lama, Afifa merampungkan buku keduanya itu selama tiga bulan. Peluncuran buku itu juga baru-baru kemarin, sekitar akhir 2021 lalu dia mencetak sebanyak 200 eksemplar. Bagi dia, tulisan tidak hanya berisi pengalaman hidup seseorang, namun ada banyak pelajaran berharga di sana yang dirasa perlu ia sampaikan, khususnya kepada kedua buah hatinya.

Sebenarnya, selain buku tersebut, dia juga sempat menulis buku pertamanya berjudul Berdiri di Atas Dua Cinta. “Ini sedang proses penulisan buku ketiga saya, temanya tentang kondisi siswa selama KBM daring. Ada yang hamil, narkoba, kecanduan game online, dan lainnya. Semoga segera rampung,” harapnya. (c2/nur)

- Advertisement -

Belum lagi saat itu, kata dia, keparnoan tetangga yang masih membalut keluarganya karena sebagai penyintas, benar-benar menjadi pukulan di benaknya. “Anak saya yang mau latihan hadrah saja, itu diminta libur. Sudah di sekolah libur ngajar, suami baru pulang, anak tidak bisa beraktivitas. Sangat jadi tekanan buat saya,” kata guru IPA ini.

Entah dapat ilham dari mana, di tengah kondisinya yang carut-marut itu, Afifa ingin menuliskan perjalanan kisahnya melawan virus tersebut. Dia memulai setahap demi setahap menulis sebuah tulisan mengenai perjalanan hidupnya, hingga kemudian dikumpulkannya tulisan itu menjadi buku yang diberi judul Lepas dari Korona dengan Cinta.

Kata Afifa, buku itu sejatinya berangkat dari kegelisahan batinnya, diangkat dari kisah nyata, kala dia dan keluarganya terpapar Covid-19. Ada beberapa tema yang dia sajikan dalam tulisannya itu. Salah satu gagasannya adalah tentang cinta, yang sejatinya harus diupayakan, ditunjukkan, kepada siapa pun dan dalam kondisi apa pun. Dia juga mengkritik soal keparnoan masyarakat, bahkan termasuk sekolahnya, yang terkesan menutup diri ketika terjadi suatu musibah tanpa ada saling support. “Sengaja saya kemas judulnya dengan kata ‘cinta’. Saya ingin membuka cara pandang pembaca bahwa cinta itu memiliki kekuatan membangkitkan dan membangun kepedulian,” terang ibu 43 tahun ini.

Tidak butuh waktu lama, Afifa merampungkan buku keduanya itu selama tiga bulan. Peluncuran buku itu juga baru-baru kemarin, sekitar akhir 2021 lalu dia mencetak sebanyak 200 eksemplar. Bagi dia, tulisan tidak hanya berisi pengalaman hidup seseorang, namun ada banyak pelajaran berharga di sana yang dirasa perlu ia sampaikan, khususnya kepada kedua buah hatinya.

Sebenarnya, selain buku tersebut, dia juga sempat menulis buku pertamanya berjudul Berdiri di Atas Dua Cinta. “Ini sedang proses penulisan buku ketiga saya, temanya tentang kondisi siswa selama KBM daring. Ada yang hamil, narkoba, kecanduan game online, dan lainnya. Semoga segera rampung,” harapnya. (c2/nur)

Belum lagi saat itu, kata dia, keparnoan tetangga yang masih membalut keluarganya karena sebagai penyintas, benar-benar menjadi pukulan di benaknya. “Anak saya yang mau latihan hadrah saja, itu diminta libur. Sudah di sekolah libur ngajar, suami baru pulang, anak tidak bisa beraktivitas. Sangat jadi tekanan buat saya,” kata guru IPA ini.

Entah dapat ilham dari mana, di tengah kondisinya yang carut-marut itu, Afifa ingin menuliskan perjalanan kisahnya melawan virus tersebut. Dia memulai setahap demi setahap menulis sebuah tulisan mengenai perjalanan hidupnya, hingga kemudian dikumpulkannya tulisan itu menjadi buku yang diberi judul Lepas dari Korona dengan Cinta.

Kata Afifa, buku itu sejatinya berangkat dari kegelisahan batinnya, diangkat dari kisah nyata, kala dia dan keluarganya terpapar Covid-19. Ada beberapa tema yang dia sajikan dalam tulisannya itu. Salah satu gagasannya adalah tentang cinta, yang sejatinya harus diupayakan, ditunjukkan, kepada siapa pun dan dalam kondisi apa pun. Dia juga mengkritik soal keparnoan masyarakat, bahkan termasuk sekolahnya, yang terkesan menutup diri ketika terjadi suatu musibah tanpa ada saling support. “Sengaja saya kemas judulnya dengan kata ‘cinta’. Saya ingin membuka cara pandang pembaca bahwa cinta itu memiliki kekuatan membangkitkan dan membangun kepedulian,” terang ibu 43 tahun ini.

Tidak butuh waktu lama, Afifa merampungkan buku keduanya itu selama tiga bulan. Peluncuran buku itu juga baru-baru kemarin, sekitar akhir 2021 lalu dia mencetak sebanyak 200 eksemplar. Bagi dia, tulisan tidak hanya berisi pengalaman hidup seseorang, namun ada banyak pelajaran berharga di sana yang dirasa perlu ia sampaikan, khususnya kepada kedua buah hatinya.

Sebenarnya, selain buku tersebut, dia juga sempat menulis buku pertamanya berjudul Berdiri di Atas Dua Cinta. “Ini sedang proses penulisan buku ketiga saya, temanya tentang kondisi siswa selama KBM daring. Ada yang hamil, narkoba, kecanduan game online, dan lainnya. Semoga segera rampung,” harapnya. (c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/