alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Seorang Guru Penyintas Covid-19 Hasilkan Tulisan Karena Cinta

Tulisan itu menjadi buku yang diberi judul Lepas dari Korona dengan Cinta.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – BUKU setebal 219 halaman itu masih dipegang erat oleh Afifa. Sesekali dia membuka dan membacanya lagi, tulisan-tulisan yang berisi perjalanan hidupnya kala dia dinyatakan terpapar Covid-19, sekitar medio Desember 2020 lalu. “Ini salah satu buku yang sangat mewakili perjalanan saya,” akunya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, di rumahnya, lingkungan Perumahan Tegal Besar Permai 1, RT 01 RW 10 Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates.

Ibu dua anak ini sepertinya masih mengingat betul bagaimana badai Covid-19 saat itu menimpanya. Bahkan suami dan dua buah hatinya juga tak luput dari sasaran virus tersebut.

Tidak sampai di situ, lingkungan yang semestinya menjadi unsur pendukung kala seseorang dilanda musibah, justru sebaliknya. Dia merasa tersisih lantaran sempat dinyatakan positif. “Dulu masih gencar-gencarnya virus. Memang banyak warga sekitar rumah saya. Termasuk suami saya,” kenangnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mengisahkan, awalnya yang terlebih dulu terpapar sang suami, Muhib Alwi. Suaminya bahkan harus masuk ICU selama tiga hari dan menjalani perawatan intensif selama 17 hari. Tekanan psikis jelas dirasakan Afifa beserta dua buah hatinya. “Karena suami saya mau napas itu sulit. Kita yang mau jenguk juga sulit,” akunya.

Ujian tidak terhenti di situ. Setelah sang suami dinyatakan sehat, dokter yang memeriksanya menganjurkan dirawat di rumahnya. Namun, petaka kembali datang. Dalam hitungan hari, giliran Afifa yang dinyatakan positif Covid-19. “Bahkan saya sampai ditelepon petugas, untuk dibawa ke isolasi terpusat di JSG. Dalam benak saat itu, bagaimana nasib anak saya dan mengajar saya,” sesalnya.

Di saat gundah itu, pihak sekolah tempat Afifa bertugas, SMPN 2 Ajung, mengetahui kondisi Afifa bahwa dia positif terpapar Covid-19. Akhirnya dia pun terpaksa dibebastugaskan dari jam mengajarnya. Afifa diminta untuk tidak mengajar selama beberapa pekan kemudian, sebelum dia benar-benar dinyatakan sehat. Bahkan untuk mengajar dari rumah secara daring, dia belum diizinkan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – BUKU setebal 219 halaman itu masih dipegang erat oleh Afifa. Sesekali dia membuka dan membacanya lagi, tulisan-tulisan yang berisi perjalanan hidupnya kala dia dinyatakan terpapar Covid-19, sekitar medio Desember 2020 lalu. “Ini salah satu buku yang sangat mewakili perjalanan saya,” akunya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, di rumahnya, lingkungan Perumahan Tegal Besar Permai 1, RT 01 RW 10 Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates.

Ibu dua anak ini sepertinya masih mengingat betul bagaimana badai Covid-19 saat itu menimpanya. Bahkan suami dan dua buah hatinya juga tak luput dari sasaran virus tersebut.

Tidak sampai di situ, lingkungan yang semestinya menjadi unsur pendukung kala seseorang dilanda musibah, justru sebaliknya. Dia merasa tersisih lantaran sempat dinyatakan positif. “Dulu masih gencar-gencarnya virus. Memang banyak warga sekitar rumah saya. Termasuk suami saya,” kenangnya.

Dia mengisahkan, awalnya yang terlebih dulu terpapar sang suami, Muhib Alwi. Suaminya bahkan harus masuk ICU selama tiga hari dan menjalani perawatan intensif selama 17 hari. Tekanan psikis jelas dirasakan Afifa beserta dua buah hatinya. “Karena suami saya mau napas itu sulit. Kita yang mau jenguk juga sulit,” akunya.

Ujian tidak terhenti di situ. Setelah sang suami dinyatakan sehat, dokter yang memeriksanya menganjurkan dirawat di rumahnya. Namun, petaka kembali datang. Dalam hitungan hari, giliran Afifa yang dinyatakan positif Covid-19. “Bahkan saya sampai ditelepon petugas, untuk dibawa ke isolasi terpusat di JSG. Dalam benak saat itu, bagaimana nasib anak saya dan mengajar saya,” sesalnya.

Di saat gundah itu, pihak sekolah tempat Afifa bertugas, SMPN 2 Ajung, mengetahui kondisi Afifa bahwa dia positif terpapar Covid-19. Akhirnya dia pun terpaksa dibebastugaskan dari jam mengajarnya. Afifa diminta untuk tidak mengajar selama beberapa pekan kemudian, sebelum dia benar-benar dinyatakan sehat. Bahkan untuk mengajar dari rumah secara daring, dia belum diizinkan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – BUKU setebal 219 halaman itu masih dipegang erat oleh Afifa. Sesekali dia membuka dan membacanya lagi, tulisan-tulisan yang berisi perjalanan hidupnya kala dia dinyatakan terpapar Covid-19, sekitar medio Desember 2020 lalu. “Ini salah satu buku yang sangat mewakili perjalanan saya,” akunya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, di rumahnya, lingkungan Perumahan Tegal Besar Permai 1, RT 01 RW 10 Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates.

Ibu dua anak ini sepertinya masih mengingat betul bagaimana badai Covid-19 saat itu menimpanya. Bahkan suami dan dua buah hatinya juga tak luput dari sasaran virus tersebut.

Tidak sampai di situ, lingkungan yang semestinya menjadi unsur pendukung kala seseorang dilanda musibah, justru sebaliknya. Dia merasa tersisih lantaran sempat dinyatakan positif. “Dulu masih gencar-gencarnya virus. Memang banyak warga sekitar rumah saya. Termasuk suami saya,” kenangnya.

Dia mengisahkan, awalnya yang terlebih dulu terpapar sang suami, Muhib Alwi. Suaminya bahkan harus masuk ICU selama tiga hari dan menjalani perawatan intensif selama 17 hari. Tekanan psikis jelas dirasakan Afifa beserta dua buah hatinya. “Karena suami saya mau napas itu sulit. Kita yang mau jenguk juga sulit,” akunya.

Ujian tidak terhenti di situ. Setelah sang suami dinyatakan sehat, dokter yang memeriksanya menganjurkan dirawat di rumahnya. Namun, petaka kembali datang. Dalam hitungan hari, giliran Afifa yang dinyatakan positif Covid-19. “Bahkan saya sampai ditelepon petugas, untuk dibawa ke isolasi terpusat di JSG. Dalam benak saat itu, bagaimana nasib anak saya dan mengajar saya,” sesalnya.

Di saat gundah itu, pihak sekolah tempat Afifa bertugas, SMPN 2 Ajung, mengetahui kondisi Afifa bahwa dia positif terpapar Covid-19. Akhirnya dia pun terpaksa dibebastugaskan dari jam mengajarnya. Afifa diminta untuk tidak mengajar selama beberapa pekan kemudian, sebelum dia benar-benar dinyatakan sehat. Bahkan untuk mengajar dari rumah secara daring, dia belum diizinkan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/