alexametrics
24.6 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Pemerintah Keteteran, Minyak Goreng Menghilang dari Pasar Tradisional

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER.RADARJEMBER.ID- Pemerintah keteteran mengatasi kelangkaan minyak goreng di pasaran. Bahkan, setelah kebijakan penyeragaman harga minyak goreng Rp 14 ribu per 1 liter pada Januari lalu, salah satu kebutuhan pokok rumah tangga ini justru menghilang. Publik pun panik. Lemahnya pengawasan dari pemerintah menambah carut marutnya distribusi minyak goreng tersebut. Di pasar-pasar tradisional dan toko kelontongan, minyak goreng seperti raib.

Imbasnya, toko swalayan yang menyediakan minyak goreng dengan harga standar pun jadi buruan. Bahkan, dalam video yang beredar di media sosial, sejumlah ibu-ibu menyerbu toko swalayan di Kecamatan Kencong. Mereka berebut untuk mendapatkan minyak goreng kemasan. Oleh pengelola swalayan, per orang dibatasi maksimal pembeliannya dua liter saja.

Tak hanya di Kecamatan Kencong, video warga yang sedang berebut mendapatkan minyak goreng juga terjadi di salah satu swalayan di Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung. Video itu juga sempat dibagikan di media sosial dan menjadi perbincangan hangat warganet.

Mobile_AP_Rectangle 2

Yusqy, salah satu pedagang kaki lima di Kecamatan Balung, mengatakan, kelangkaan minyak goreng terjadi setelah pemerintah memutuskan kebijakan satu harga. Sejak saat itu, dia mengaku, mulai kesulitan mendapatkan minyak goreng di pasar tradisional dan toko kelontongan.

Kalau pun ada, kata dia, harganya lebih mahal dari ketetapan pemerintah. “Pernah ada harga per liter Rp 20 ribu. Karena butuh ya tetap saya beli. Sebab, selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga untuk keperluan usaha,” ungkap Yusqy.

Sekarang masyarakat mengandalkan toko ritel untuk mendapatkan minyak goreng. Sebab, di pasar tradisional memang sudah tidak ada lagi. Sampai-sampai, warga rela berebut untuk mendapatkan kebutuhan pokok tersebut. Seperti yang terlihat dari video yang beredar di media sosial belakangan ini.

Warga yang lain menilai, pemerintah daerah harus memantau distribusi minyak goreng. Terutama yang di pasar-pasar tradisional. Apalagi, Pemkab Jember punya 30 pasar yang tersebar di hampir semua kecamatan. “Seharusnya keberadaan pasar tradisional itu bisa dimanfaatkan untuk menjamin stok minyak goreng agar tidak sampai langka seperti sekarang. Pemerintah jangan cuma main operasi pasar. Itu bukan solusi,” tutur Syamsul, warga Kecamatan Balung.

- Advertisement -

JEMBER.RADARJEMBER.ID- Pemerintah keteteran mengatasi kelangkaan minyak goreng di pasaran. Bahkan, setelah kebijakan penyeragaman harga minyak goreng Rp 14 ribu per 1 liter pada Januari lalu, salah satu kebutuhan pokok rumah tangga ini justru menghilang. Publik pun panik. Lemahnya pengawasan dari pemerintah menambah carut marutnya distribusi minyak goreng tersebut. Di pasar-pasar tradisional dan toko kelontongan, minyak goreng seperti raib.

Imbasnya, toko swalayan yang menyediakan minyak goreng dengan harga standar pun jadi buruan. Bahkan, dalam video yang beredar di media sosial, sejumlah ibu-ibu menyerbu toko swalayan di Kecamatan Kencong. Mereka berebut untuk mendapatkan minyak goreng kemasan. Oleh pengelola swalayan, per orang dibatasi maksimal pembeliannya dua liter saja.

Tak hanya di Kecamatan Kencong, video warga yang sedang berebut mendapatkan minyak goreng juga terjadi di salah satu swalayan di Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung. Video itu juga sempat dibagikan di media sosial dan menjadi perbincangan hangat warganet.

Yusqy, salah satu pedagang kaki lima di Kecamatan Balung, mengatakan, kelangkaan minyak goreng terjadi setelah pemerintah memutuskan kebijakan satu harga. Sejak saat itu, dia mengaku, mulai kesulitan mendapatkan minyak goreng di pasar tradisional dan toko kelontongan.

Kalau pun ada, kata dia, harganya lebih mahal dari ketetapan pemerintah. “Pernah ada harga per liter Rp 20 ribu. Karena butuh ya tetap saya beli. Sebab, selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga untuk keperluan usaha,” ungkap Yusqy.

Sekarang masyarakat mengandalkan toko ritel untuk mendapatkan minyak goreng. Sebab, di pasar tradisional memang sudah tidak ada lagi. Sampai-sampai, warga rela berebut untuk mendapatkan kebutuhan pokok tersebut. Seperti yang terlihat dari video yang beredar di media sosial belakangan ini.

Warga yang lain menilai, pemerintah daerah harus memantau distribusi minyak goreng. Terutama yang di pasar-pasar tradisional. Apalagi, Pemkab Jember punya 30 pasar yang tersebar di hampir semua kecamatan. “Seharusnya keberadaan pasar tradisional itu bisa dimanfaatkan untuk menjamin stok minyak goreng agar tidak sampai langka seperti sekarang. Pemerintah jangan cuma main operasi pasar. Itu bukan solusi,” tutur Syamsul, warga Kecamatan Balung.

JEMBER.RADARJEMBER.ID- Pemerintah keteteran mengatasi kelangkaan minyak goreng di pasaran. Bahkan, setelah kebijakan penyeragaman harga minyak goreng Rp 14 ribu per 1 liter pada Januari lalu, salah satu kebutuhan pokok rumah tangga ini justru menghilang. Publik pun panik. Lemahnya pengawasan dari pemerintah menambah carut marutnya distribusi minyak goreng tersebut. Di pasar-pasar tradisional dan toko kelontongan, minyak goreng seperti raib.

Imbasnya, toko swalayan yang menyediakan minyak goreng dengan harga standar pun jadi buruan. Bahkan, dalam video yang beredar di media sosial, sejumlah ibu-ibu menyerbu toko swalayan di Kecamatan Kencong. Mereka berebut untuk mendapatkan minyak goreng kemasan. Oleh pengelola swalayan, per orang dibatasi maksimal pembeliannya dua liter saja.

Tak hanya di Kecamatan Kencong, video warga yang sedang berebut mendapatkan minyak goreng juga terjadi di salah satu swalayan di Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung. Video itu juga sempat dibagikan di media sosial dan menjadi perbincangan hangat warganet.

Yusqy, salah satu pedagang kaki lima di Kecamatan Balung, mengatakan, kelangkaan minyak goreng terjadi setelah pemerintah memutuskan kebijakan satu harga. Sejak saat itu, dia mengaku, mulai kesulitan mendapatkan minyak goreng di pasar tradisional dan toko kelontongan.

Kalau pun ada, kata dia, harganya lebih mahal dari ketetapan pemerintah. “Pernah ada harga per liter Rp 20 ribu. Karena butuh ya tetap saya beli. Sebab, selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga untuk keperluan usaha,” ungkap Yusqy.

Sekarang masyarakat mengandalkan toko ritel untuk mendapatkan minyak goreng. Sebab, di pasar tradisional memang sudah tidak ada lagi. Sampai-sampai, warga rela berebut untuk mendapatkan kebutuhan pokok tersebut. Seperti yang terlihat dari video yang beredar di media sosial belakangan ini.

Warga yang lain menilai, pemerintah daerah harus memantau distribusi minyak goreng. Terutama yang di pasar-pasar tradisional. Apalagi, Pemkab Jember punya 30 pasar yang tersebar di hampir semua kecamatan. “Seharusnya keberadaan pasar tradisional itu bisa dimanfaatkan untuk menjamin stok minyak goreng agar tidak sampai langka seperti sekarang. Pemerintah jangan cuma main operasi pasar. Itu bukan solusi,” tutur Syamsul, warga Kecamatan Balung.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/