alexametrics
23.2 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Datangkan Alat dan Bahan dari Luar, Corak dan Motif dari Sekolah Sendiri

Kreasi batik yang menjadi salah satu kearifan lokal nusantara kini sudah mulai berkembang, dengan banyaknya sentuhan dari generasi milenial. Kreatornya pun tak hanya orang dewasa, namun juga dari kalangan pelajar. Meskipun dibuat dengan bahan dan alat yang sama, namun berbicara motif, mereka tak takut untuk tampil beda.

Mobile_AP_Rectangle 1

SMK Baiturrohmah sempat disebut sebagai satu-satunya SMK yang memiliki Jurusan Kriya Batik. Sejak didirikan pada tahun ajaran 2016-2017 lalu, para siswa telah terlatih membuat batik dan menginovasikan beragam motif dan corak. “Kemampuan anak-anak itu saling melengkapi. Ada mereka yang pandai motif, ada yang mereka pandai nyanting, pandai pewarnaan, dan lainnya,” kata Denok.

Untuk soal kualitas, Denok menegaskan, batik tulis mereka bisa bersaing dengan batik lainnya. Sebab, bahannya dasarnya beragam. Ada yang terbuat dari jenis kain biasa hingga kain khusus. Seperti kain katun, prima, hingga sutra yang memiliki kualitas terbaik.

Meskipun kualitas sudah mumpuni, namun siswa SMK ini masih mengalami kesulitan untuk menaklukkan pasar. Meskipun begitu, yang terpenting bagi mereka bukanlah soal bisnis. Sebab, para pelajar ini masih bertekad mendalami bakatnya dalam urusan membatik. Mereka menyadari, inspirasi motif-motif itu menjadi salah karakteristik yang patut dipertahankan dan tidak boleh hilang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Harganya pun cukup terjangkau. Batik cap ditawarkan pada kisaran Rp 100-150 ribu per potong dengan ukuran 2 meter x 10 sentimeter. Sedangkan untuk batik tulis, berkisar Rp 100-600 ribu dengan menyesuaikan jenis kain, kombinasi warna, dan tingkat kesulitan motifnya. “Karena kesulitan akses pasar itu, kami lebih banyak mengandalkan bazar, ekspo, dan sejenisnya,” imbuhnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Saat ini, mereka memang memiliki galeri batik tersendiri di sekolahnya. Ke depan, selain mempertahankan motif-motif itu, mereka juga mengembangkan ke arah usaha dan sablon. Hal itu dilakukan untuk mengimbangi pengeluaran pembelanjaan tiap pekannya. “Kita masih perbanyak referensi, dan juga bagaimana sekiranya bisa mengimbangi biaya kebutuhan barang ini. Jadi, tak hanya produksi, tapi juga bisa menjual,” pungkasnya.

- Advertisement -

SMK Baiturrohmah sempat disebut sebagai satu-satunya SMK yang memiliki Jurusan Kriya Batik. Sejak didirikan pada tahun ajaran 2016-2017 lalu, para siswa telah terlatih membuat batik dan menginovasikan beragam motif dan corak. “Kemampuan anak-anak itu saling melengkapi. Ada mereka yang pandai motif, ada yang mereka pandai nyanting, pandai pewarnaan, dan lainnya,” kata Denok.

Untuk soal kualitas, Denok menegaskan, batik tulis mereka bisa bersaing dengan batik lainnya. Sebab, bahannya dasarnya beragam. Ada yang terbuat dari jenis kain biasa hingga kain khusus. Seperti kain katun, prima, hingga sutra yang memiliki kualitas terbaik.

Meskipun kualitas sudah mumpuni, namun siswa SMK ini masih mengalami kesulitan untuk menaklukkan pasar. Meskipun begitu, yang terpenting bagi mereka bukanlah soal bisnis. Sebab, para pelajar ini masih bertekad mendalami bakatnya dalam urusan membatik. Mereka menyadari, inspirasi motif-motif itu menjadi salah karakteristik yang patut dipertahankan dan tidak boleh hilang.

Harganya pun cukup terjangkau. Batik cap ditawarkan pada kisaran Rp 100-150 ribu per potong dengan ukuran 2 meter x 10 sentimeter. Sedangkan untuk batik tulis, berkisar Rp 100-600 ribu dengan menyesuaikan jenis kain, kombinasi warna, dan tingkat kesulitan motifnya. “Karena kesulitan akses pasar itu, kami lebih banyak mengandalkan bazar, ekspo, dan sejenisnya,” imbuhnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Saat ini, mereka memang memiliki galeri batik tersendiri di sekolahnya. Ke depan, selain mempertahankan motif-motif itu, mereka juga mengembangkan ke arah usaha dan sablon. Hal itu dilakukan untuk mengimbangi pengeluaran pembelanjaan tiap pekannya. “Kita masih perbanyak referensi, dan juga bagaimana sekiranya bisa mengimbangi biaya kebutuhan barang ini. Jadi, tak hanya produksi, tapi juga bisa menjual,” pungkasnya.

SMK Baiturrohmah sempat disebut sebagai satu-satunya SMK yang memiliki Jurusan Kriya Batik. Sejak didirikan pada tahun ajaran 2016-2017 lalu, para siswa telah terlatih membuat batik dan menginovasikan beragam motif dan corak. “Kemampuan anak-anak itu saling melengkapi. Ada mereka yang pandai motif, ada yang mereka pandai nyanting, pandai pewarnaan, dan lainnya,” kata Denok.

Untuk soal kualitas, Denok menegaskan, batik tulis mereka bisa bersaing dengan batik lainnya. Sebab, bahannya dasarnya beragam. Ada yang terbuat dari jenis kain biasa hingga kain khusus. Seperti kain katun, prima, hingga sutra yang memiliki kualitas terbaik.

Meskipun kualitas sudah mumpuni, namun siswa SMK ini masih mengalami kesulitan untuk menaklukkan pasar. Meskipun begitu, yang terpenting bagi mereka bukanlah soal bisnis. Sebab, para pelajar ini masih bertekad mendalami bakatnya dalam urusan membatik. Mereka menyadari, inspirasi motif-motif itu menjadi salah karakteristik yang patut dipertahankan dan tidak boleh hilang.

Harganya pun cukup terjangkau. Batik cap ditawarkan pada kisaran Rp 100-150 ribu per potong dengan ukuran 2 meter x 10 sentimeter. Sedangkan untuk batik tulis, berkisar Rp 100-600 ribu dengan menyesuaikan jenis kain, kombinasi warna, dan tingkat kesulitan motifnya. “Karena kesulitan akses pasar itu, kami lebih banyak mengandalkan bazar, ekspo, dan sejenisnya,” imbuhnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Saat ini, mereka memang memiliki galeri batik tersendiri di sekolahnya. Ke depan, selain mempertahankan motif-motif itu, mereka juga mengembangkan ke arah usaha dan sablon. Hal itu dilakukan untuk mengimbangi pengeluaran pembelanjaan tiap pekannya. “Kita masih perbanyak referensi, dan juga bagaimana sekiranya bisa mengimbangi biaya kebutuhan barang ini. Jadi, tak hanya produksi, tapi juga bisa menjual,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/