alexametrics
24.7 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Datangkan Alat dan Bahan dari Luar, Corak dan Motif dari Sekolah Sendiri

Kreasi batik yang menjadi salah satu kearifan lokal nusantara kini sudah mulai berkembang, dengan banyaknya sentuhan dari generasi milenial. Kreatornya pun tak hanya orang dewasa, namun juga dari kalangan pelajar. Meskipun dibuat dengan bahan dan alat yang sama, namun berbicara motif, mereka tak takut untuk tampil beda.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – LIMA menit sebelum bel istirahat berbunyi, para pelajar berseragam batik terlihat sibuk menyiapkan sejumlah perlengkapan. Beberapa siswa laki-laki menyiapkan api yang dihidupkan dari sebuah tumang atau tungku kecil, sedangkan siswa perempuan menyiapkan kain yang sebelumnya mereka simpan serta beberapa alat lainnya. Salah satunya canting dan bahan pewarna. Setelah seluruh bahan dan alat siap, tangan mereka mulai bergerak lincah di atas kain yang telah dibentangkan.

Inilah aktivitas yang tampak di SMK Baiturohmah, Kecamatan Jombang. Meskipun baru belajar, mereka sudah terlihat cukup piawai. Seolah membatik sudah menjadi rutinitas baru mereka yang cukup produktif di tempat belajarnya.

Tak beda jauh dengan proses pembuatan batik pada umumnya, mereka juga menggunakan berbagai bahan pewarna dan alat yang sama. Seperti canting, pewarna, hingga jenis kainnya, semuanya mereka datangkan secara daring online dari luar daerah seperti Solo dan Pekalongan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun meski bahannya didatangkan dari luar Jember, kreasi motifnya adalah orisinal karya para siswa. Aneka motif dan corak yang diciptakan oleh para milenial ini layak diapresiasi. Mereka jarang meniru atau mengadopsi motif dari batik-batik lain, baik dari Jember maupun daerah lain. “Kadang membuat batik tulis, kadang juga batik cap. Kami buat sendiri motifnya,” ujar, Denok Suswati, Kepala Jurusan (Kajur) Kriya Tekstil Batik SMK Baiturohmah.

Motif yang diciptakan umumnya terinspirasi dari lingkungan sekitar mereka. Misalnya dari dedaunan dan tumbuhan seperti buah naga, pepaya, jagung, daun kelor, bambu, dan lain sebagainya. Daun-daun itu sengaja mereka pilih bukan tanpa alasan. Banyak dari mereka yang meyakini, jika diamati, daun-daun di lingkungan sekolah itu memiliki bentuk yang eksotik saat dituangkan. Bahkan, hampir sebagian besar kreasi batik mereka berasal dari daun-daun sekitar tersebut.

Kreasi ini menjadikan karya mereka eksklusif. Sangat sedikit sekali yang menyamai motif-motif kreasi tersebut. Tak hanya untuk batik tulis, motif batik cetak atau cap pun demikian.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – LIMA menit sebelum bel istirahat berbunyi, para pelajar berseragam batik terlihat sibuk menyiapkan sejumlah perlengkapan. Beberapa siswa laki-laki menyiapkan api yang dihidupkan dari sebuah tumang atau tungku kecil, sedangkan siswa perempuan menyiapkan kain yang sebelumnya mereka simpan serta beberapa alat lainnya. Salah satunya canting dan bahan pewarna. Setelah seluruh bahan dan alat siap, tangan mereka mulai bergerak lincah di atas kain yang telah dibentangkan.

Inilah aktivitas yang tampak di SMK Baiturohmah, Kecamatan Jombang. Meskipun baru belajar, mereka sudah terlihat cukup piawai. Seolah membatik sudah menjadi rutinitas baru mereka yang cukup produktif di tempat belajarnya.

Tak beda jauh dengan proses pembuatan batik pada umumnya, mereka juga menggunakan berbagai bahan pewarna dan alat yang sama. Seperti canting, pewarna, hingga jenis kainnya, semuanya mereka datangkan secara daring online dari luar daerah seperti Solo dan Pekalongan.

Namun meski bahannya didatangkan dari luar Jember, kreasi motifnya adalah orisinal karya para siswa. Aneka motif dan corak yang diciptakan oleh para milenial ini layak diapresiasi. Mereka jarang meniru atau mengadopsi motif dari batik-batik lain, baik dari Jember maupun daerah lain. “Kadang membuat batik tulis, kadang juga batik cap. Kami buat sendiri motifnya,” ujar, Denok Suswati, Kepala Jurusan (Kajur) Kriya Tekstil Batik SMK Baiturohmah.

Motif yang diciptakan umumnya terinspirasi dari lingkungan sekitar mereka. Misalnya dari dedaunan dan tumbuhan seperti buah naga, pepaya, jagung, daun kelor, bambu, dan lain sebagainya. Daun-daun itu sengaja mereka pilih bukan tanpa alasan. Banyak dari mereka yang meyakini, jika diamati, daun-daun di lingkungan sekolah itu memiliki bentuk yang eksotik saat dituangkan. Bahkan, hampir sebagian besar kreasi batik mereka berasal dari daun-daun sekitar tersebut.

Kreasi ini menjadikan karya mereka eksklusif. Sangat sedikit sekali yang menyamai motif-motif kreasi tersebut. Tak hanya untuk batik tulis, motif batik cetak atau cap pun demikian.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – LIMA menit sebelum bel istirahat berbunyi, para pelajar berseragam batik terlihat sibuk menyiapkan sejumlah perlengkapan. Beberapa siswa laki-laki menyiapkan api yang dihidupkan dari sebuah tumang atau tungku kecil, sedangkan siswa perempuan menyiapkan kain yang sebelumnya mereka simpan serta beberapa alat lainnya. Salah satunya canting dan bahan pewarna. Setelah seluruh bahan dan alat siap, tangan mereka mulai bergerak lincah di atas kain yang telah dibentangkan.

Inilah aktivitas yang tampak di SMK Baiturohmah, Kecamatan Jombang. Meskipun baru belajar, mereka sudah terlihat cukup piawai. Seolah membatik sudah menjadi rutinitas baru mereka yang cukup produktif di tempat belajarnya.

Tak beda jauh dengan proses pembuatan batik pada umumnya, mereka juga menggunakan berbagai bahan pewarna dan alat yang sama. Seperti canting, pewarna, hingga jenis kainnya, semuanya mereka datangkan secara daring online dari luar daerah seperti Solo dan Pekalongan.

Namun meski bahannya didatangkan dari luar Jember, kreasi motifnya adalah orisinal karya para siswa. Aneka motif dan corak yang diciptakan oleh para milenial ini layak diapresiasi. Mereka jarang meniru atau mengadopsi motif dari batik-batik lain, baik dari Jember maupun daerah lain. “Kadang membuat batik tulis, kadang juga batik cap. Kami buat sendiri motifnya,” ujar, Denok Suswati, Kepala Jurusan (Kajur) Kriya Tekstil Batik SMK Baiturohmah.

Motif yang diciptakan umumnya terinspirasi dari lingkungan sekitar mereka. Misalnya dari dedaunan dan tumbuhan seperti buah naga, pepaya, jagung, daun kelor, bambu, dan lain sebagainya. Daun-daun itu sengaja mereka pilih bukan tanpa alasan. Banyak dari mereka yang meyakini, jika diamati, daun-daun di lingkungan sekolah itu memiliki bentuk yang eksotik saat dituangkan. Bahkan, hampir sebagian besar kreasi batik mereka berasal dari daun-daun sekitar tersebut.

Kreasi ini menjadikan karya mereka eksklusif. Sangat sedikit sekali yang menyamai motif-motif kreasi tersebut. Tak hanya untuk batik tulis, motif batik cetak atau cap pun demikian.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/