alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Harga Tomat Naik, Pemkab Jember Tak Berdaya Kontrol Tata Niaga

Tengkulak Menang Banyak, Pemerintah Tak Berdaya Kontrol Tata Niaga Hortikultura

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Komoditas harga tomat melambung dalam beberapa hari terakhir. Ini terjadi di sejumlah pasar. Rekor tertinggi atau yang paling mahal terjadi di Pasar Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates Jember. Harga tomat Jember di pasar tembus angka Rp 14 ribu per kilogram, kemarin (17/1).

Harga tomat di pasar sejatinya bukan rahasia, terutama di kalangan warga yang sering belanja di pasar tradisional di Jember. Saat normal, hatga tomat Jember di pasar harganya berkisar antara Rp 2.000 sampai Rp 6.000 per kilogram. Namun, kali ini harga tomat Jember di pasar naik daun karena beberapa faktor. Harga di pasaran pun berbeda-beda seperti yang terjadi di beberapa pasar.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro menyebutkan, harga tomat Jember di pasar yang menembus angka Rp 14 ribu per kilogram diakui kalangan petani cukup mengejutkan. Menurut dia, hal itu berbeda jauh dengan harga tomat di tingkat petani. “Harga tomat hari ini Rp 6.000 per kilonya. Kalau di pasar sampai tembus Rp 14 ribu, ini yang terkadang membuat sakit hati petani,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, pemerintah selayaknya hadir untuk melakukan pengaturan tata niaga dengan baik, seperti saat ini tentang harga tomat Jember di pasar. Mulai dari pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten. Sebab jika tidak, tengkulak dan pedagang besar saja yang untung banyak. Petani tidak. “Ini pedagang besar yang menang banyak. Seharusnya kalau di pasar harga tomat di Jember tembus Rp 12 ribu sampai Rp 14 ribu, harga tomat Jember di petani kalau bisa Rp 10 ribu. Tetapi, di petani tetap Rp 6.000. Ada juga petani yang bisa jual Rp 8.000,” ucapnya.

Salah satu bentuk usulan kalangan petani, menurut Jumantoro, perlu adanya perlindungan terhadap harga komoditas hortikultura, baik tomat maupun yang lain. Dengan begitu, saat harganya mahal, petani bisa mendapat untung lebih besar. “Termasuk mengatur harga terendah. Mohon maaf, kalau harga tomat Jember di pasar anjlok, mau membayar buruh yang panen saja tidak cukup. Tolong tata niaga ini diatur dengan baik,” sambungnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bambang Saputro mengatakan, naiknya bukan murni persoalan tata niaga, tapi dipengaruhi cuaca. Iklim yang kurang mendukung membuat petani tomat panen kurang maksimal bahkan ada yang gagal panen. “Produk hortikultura sangat bergantung pada cuaca dan iklim,” katanya.

Lantaran produksi panen tomat petani berkurang, pasokan pun menurun. Iklim dan pasokan inilah yang dituding menjadi penyebab utama naiknya harga tomat Jember di pasar. “Pasokan petani dari Sumberjambe dan Ledokombo yang merupakan pemasok sayuran turun. Hujan berdampak pada hasil panen tomat,” ucapnya.

Dikatakan, dinasnya segera melakukan koordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait demi menjaga stabilitas harga tomat Jember di pasar maupun kebutuhan yang lain. “Kami dengan OPD terkait akan koordinasi lebih intens lagi agar harga stabil,” ucap mantan camat Kaliwates tersebut. Koordinasi ini juga dilakukan untuk mengantisipasi anjloknya harga, agar petani tidak sampai merugi.

Segera Panggil OPD

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Komoditas harga tomat melambung dalam beberapa hari terakhir. Ini terjadi di sejumlah pasar. Rekor tertinggi atau yang paling mahal terjadi di Pasar Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates Jember. Harga tomat Jember di pasar tembus angka Rp 14 ribu per kilogram, kemarin (17/1).

Harga tomat di pasar sejatinya bukan rahasia, terutama di kalangan warga yang sering belanja di pasar tradisional di Jember. Saat normal, hatga tomat Jember di pasar harganya berkisar antara Rp 2.000 sampai Rp 6.000 per kilogram. Namun, kali ini harga tomat Jember di pasar naik daun karena beberapa faktor. Harga di pasaran pun berbeda-beda seperti yang terjadi di beberapa pasar.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro menyebutkan, harga tomat Jember di pasar yang menembus angka Rp 14 ribu per kilogram diakui kalangan petani cukup mengejutkan. Menurut dia, hal itu berbeda jauh dengan harga tomat di tingkat petani. “Harga tomat hari ini Rp 6.000 per kilonya. Kalau di pasar sampai tembus Rp 14 ribu, ini yang terkadang membuat sakit hati petani,” katanya.

Menurut dia, pemerintah selayaknya hadir untuk melakukan pengaturan tata niaga dengan baik, seperti saat ini tentang harga tomat Jember di pasar. Mulai dari pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten. Sebab jika tidak, tengkulak dan pedagang besar saja yang untung banyak. Petani tidak. “Ini pedagang besar yang menang banyak. Seharusnya kalau di pasar harga tomat di Jember tembus Rp 12 ribu sampai Rp 14 ribu, harga tomat Jember di petani kalau bisa Rp 10 ribu. Tetapi, di petani tetap Rp 6.000. Ada juga petani yang bisa jual Rp 8.000,” ucapnya.

Salah satu bentuk usulan kalangan petani, menurut Jumantoro, perlu adanya perlindungan terhadap harga komoditas hortikultura, baik tomat maupun yang lain. Dengan begitu, saat harganya mahal, petani bisa mendapat untung lebih besar. “Termasuk mengatur harga terendah. Mohon maaf, kalau harga tomat Jember di pasar anjlok, mau membayar buruh yang panen saja tidak cukup. Tolong tata niaga ini diatur dengan baik,” sambungnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bambang Saputro mengatakan, naiknya bukan murni persoalan tata niaga, tapi dipengaruhi cuaca. Iklim yang kurang mendukung membuat petani tomat panen kurang maksimal bahkan ada yang gagal panen. “Produk hortikultura sangat bergantung pada cuaca dan iklim,” katanya.

Lantaran produksi panen tomat petani berkurang, pasokan pun menurun. Iklim dan pasokan inilah yang dituding menjadi penyebab utama naiknya harga tomat Jember di pasar. “Pasokan petani dari Sumberjambe dan Ledokombo yang merupakan pemasok sayuran turun. Hujan berdampak pada hasil panen tomat,” ucapnya.

Dikatakan, dinasnya segera melakukan koordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait demi menjaga stabilitas harga tomat Jember di pasar maupun kebutuhan yang lain. “Kami dengan OPD terkait akan koordinasi lebih intens lagi agar harga stabil,” ucap mantan camat Kaliwates tersebut. Koordinasi ini juga dilakukan untuk mengantisipasi anjloknya harga, agar petani tidak sampai merugi.

Segera Panggil OPD

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Komoditas harga tomat melambung dalam beberapa hari terakhir. Ini terjadi di sejumlah pasar. Rekor tertinggi atau yang paling mahal terjadi di Pasar Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates Jember. Harga tomat Jember di pasar tembus angka Rp 14 ribu per kilogram, kemarin (17/1).

Harga tomat di pasar sejatinya bukan rahasia, terutama di kalangan warga yang sering belanja di pasar tradisional di Jember. Saat normal, hatga tomat Jember di pasar harganya berkisar antara Rp 2.000 sampai Rp 6.000 per kilogram. Namun, kali ini harga tomat Jember di pasar naik daun karena beberapa faktor. Harga di pasaran pun berbeda-beda seperti yang terjadi di beberapa pasar.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro menyebutkan, harga tomat Jember di pasar yang menembus angka Rp 14 ribu per kilogram diakui kalangan petani cukup mengejutkan. Menurut dia, hal itu berbeda jauh dengan harga tomat di tingkat petani. “Harga tomat hari ini Rp 6.000 per kilonya. Kalau di pasar sampai tembus Rp 14 ribu, ini yang terkadang membuat sakit hati petani,” katanya.

Menurut dia, pemerintah selayaknya hadir untuk melakukan pengaturan tata niaga dengan baik, seperti saat ini tentang harga tomat Jember di pasar. Mulai dari pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten. Sebab jika tidak, tengkulak dan pedagang besar saja yang untung banyak. Petani tidak. “Ini pedagang besar yang menang banyak. Seharusnya kalau di pasar harga tomat di Jember tembus Rp 12 ribu sampai Rp 14 ribu, harga tomat Jember di petani kalau bisa Rp 10 ribu. Tetapi, di petani tetap Rp 6.000. Ada juga petani yang bisa jual Rp 8.000,” ucapnya.

Salah satu bentuk usulan kalangan petani, menurut Jumantoro, perlu adanya perlindungan terhadap harga komoditas hortikultura, baik tomat maupun yang lain. Dengan begitu, saat harganya mahal, petani bisa mendapat untung lebih besar. “Termasuk mengatur harga terendah. Mohon maaf, kalau harga tomat Jember di pasar anjlok, mau membayar buruh yang panen saja tidak cukup. Tolong tata niaga ini diatur dengan baik,” sambungnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bambang Saputro mengatakan, naiknya bukan murni persoalan tata niaga, tapi dipengaruhi cuaca. Iklim yang kurang mendukung membuat petani tomat panen kurang maksimal bahkan ada yang gagal panen. “Produk hortikultura sangat bergantung pada cuaca dan iklim,” katanya.

Lantaran produksi panen tomat petani berkurang, pasokan pun menurun. Iklim dan pasokan inilah yang dituding menjadi penyebab utama naiknya harga tomat Jember di pasar. “Pasokan petani dari Sumberjambe dan Ledokombo yang merupakan pemasok sayuran turun. Hujan berdampak pada hasil panen tomat,” ucapnya.

Dikatakan, dinasnya segera melakukan koordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait demi menjaga stabilitas harga tomat Jember di pasar maupun kebutuhan yang lain. “Kami dengan OPD terkait akan koordinasi lebih intens lagi agar harga stabil,” ucap mantan camat Kaliwates tersebut. Koordinasi ini juga dilakukan untuk mengantisipasi anjloknya harga, agar petani tidak sampai merugi.

Segera Panggil OPD

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/