alexametrics
30.9 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Wastafel(isasi) Tanpa Fungsi

Keberadaan sarana pendukung protokol kesehatan, wastafel, dinilai menjadi bagian penting pencegahan persebaran Covid-19. Namun nyatanya, banyak kondisi bak cuci tangan itu yang mulai rusak, kurang perawatan, sampai mangkrak. Bahkan sejak kali pertama wastafel itu ditempatkan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Akhir pekan kemarin, sejumlah orang terlihat bermain di sekitar Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sumbersari. Beberapa dari mereka tampak bersama keluarganya. Sesaat berlalu, orang-orang mulai beranjak pulang, walau ada pula yang menyempatkan diri mencuci tangan. Sebab, persis di depan RTH tersedia wastafel. “Loh, mana airnya? Kok gak keluar sih,” gerutu Rachel, bersama rekannya, Qinan. Mereka sepertinya kecele. Saat memutar keran, tidak keluar air.

Tak mau ambil pusing, kedua pelajar warga Kelurahan Sumbersari itu seketika balik kanan. Mereka membatalkan niatnya mencuci tangan gara-gara wastafel tidak ada airnya. “Pulang saja, cuci tangan di rumah. Bagaimana mau ada airnya, saluran air di bawah saja tidak ada,” jawab Rachel saat ditanya Jawa Pos Radar Jember, sesaat sebelum keduanya pergi.

Belum lama kedua pelajar itu bertandang, lalu datang seorang pengendara motor. Boncengan. Mereka berhenti tepat di depan RTH. Dia tampak mau beristirahat. Namun, saat akan cuci muka, dia ternyata juga kecele. Memutar keran tanpa air.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pemotor dan dua pelajar itu bisa jadi hanya segelintir orang yang tidak bisa menikmati sarana wastafel sebagaimana mestinya. Kondisi ini menjadi ironi. Di saat orang ramai-ramai dituntut rajin menerapkan protokol kesehatan (prokes) di tempat publik, ternyata dukungan fasilitasnya kurang memadai.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di RTH tersebut, sebenarnya keberadaan wastafel masih bagus dan utuh. Walau beberapa bagiannya tampak rusak. Seperti selang untuk aliran air yang hilang, pipa keran yang hampir copot, dan tidak ada tempat sabun. Kemungkinan, wastafel itu sudah lama tidak terisi air. Ini bisa dilihat dari bak cuci tangan yang tampak kotor. Selain itu, bisa juga keseringan kena hujan dan panas.

Tak jauh berbeda, di sejumlah fasilitas umum (fasum) lainnya juga demikian. Seperti wastafel yang terpantau di RTH Rambipuji. Taman rakyat yang tepat bersebelahan dengan pasar itu cukup ramai. Tiap malam, banyak pengunjung RTH dan lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) memadati kawasan RTH tersebut.

Namun, wastafel yang disediakan tidak banyak. Hanya satu. Itu pun kondisinya tak terurus. Bahkan lebih parah dari wastafel di RTH Sumbersari. Jangankan air, tempat saluran air saja tidak ada. Entah hilang atau dicuri. Lalu, salah satu bagian besi penyangga wastafel sudah penyok. Mungkin bekas tertabrak. Kedua keran dan kedua tempat sampahnya juga bernasib sama. Raib. Sementara yang tampak utuh hanya tandon air, bak air, tempat sampah di kedua sisi, besi penyangga, dan tempat sabun yang kosong.

Dengan kondisi seperti itu, tidak ada yang bisa dimanfaatkan dari wastafel tersebut. Hanya jadi penghias saja. “Kalau terus dibiarkan mangkrak seperti itu, bisa hilang. Siapa tahu nanti ada yang mencurinya karena dianggap sudah tidak dipakai,” ucap Zuhri, salah seorang PKL di kawasan RTH.

Baik PKL maupun pengunjung RTH, tentu tidak bisa menggunakan fasilitas cuci tangan itu. Padahal tiap malam, kawasan tersebut kerap terdapat kerumunan orang. Mereka yang seharusnya rajin mencuci tangan dengan ketersediaan wastafel, tapi nyatanya justru sebaliknya.

Bergeser ke timur dengan melihat wastafel di RTH Kelurahan Mangli, kondisinya juga tak jauh berbeda dengan dua RTH sebelumnya. Airnya kosong. Kerannya sudah mulai dol. Lalu, galvalum sebagai penyangga bak air ada yang sudah penyok.

Wastafel yang tepat berada di rimbunan pohon beringin itu juga kotor dengan daun-daun yang berguguran. Meskipun tandon dan kedua tempat sampahnya masih utuh, tapi dengan kondisi seperti itu, tentu tidak bisa digunakan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Akhir pekan kemarin, sejumlah orang terlihat bermain di sekitar Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sumbersari. Beberapa dari mereka tampak bersama keluarganya. Sesaat berlalu, orang-orang mulai beranjak pulang, walau ada pula yang menyempatkan diri mencuci tangan. Sebab, persis di depan RTH tersedia wastafel. “Loh, mana airnya? Kok gak keluar sih,” gerutu Rachel, bersama rekannya, Qinan. Mereka sepertinya kecele. Saat memutar keran, tidak keluar air.

Tak mau ambil pusing, kedua pelajar warga Kelurahan Sumbersari itu seketika balik kanan. Mereka membatalkan niatnya mencuci tangan gara-gara wastafel tidak ada airnya. “Pulang saja, cuci tangan di rumah. Bagaimana mau ada airnya, saluran air di bawah saja tidak ada,” jawab Rachel saat ditanya Jawa Pos Radar Jember, sesaat sebelum keduanya pergi.

Belum lama kedua pelajar itu bertandang, lalu datang seorang pengendara motor. Boncengan. Mereka berhenti tepat di depan RTH. Dia tampak mau beristirahat. Namun, saat akan cuci muka, dia ternyata juga kecele. Memutar keran tanpa air.

Pemotor dan dua pelajar itu bisa jadi hanya segelintir orang yang tidak bisa menikmati sarana wastafel sebagaimana mestinya. Kondisi ini menjadi ironi. Di saat orang ramai-ramai dituntut rajin menerapkan protokol kesehatan (prokes) di tempat publik, ternyata dukungan fasilitasnya kurang memadai.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di RTH tersebut, sebenarnya keberadaan wastafel masih bagus dan utuh. Walau beberapa bagiannya tampak rusak. Seperti selang untuk aliran air yang hilang, pipa keran yang hampir copot, dan tidak ada tempat sabun. Kemungkinan, wastafel itu sudah lama tidak terisi air. Ini bisa dilihat dari bak cuci tangan yang tampak kotor. Selain itu, bisa juga keseringan kena hujan dan panas.

Tak jauh berbeda, di sejumlah fasilitas umum (fasum) lainnya juga demikian. Seperti wastafel yang terpantau di RTH Rambipuji. Taman rakyat yang tepat bersebelahan dengan pasar itu cukup ramai. Tiap malam, banyak pengunjung RTH dan lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) memadati kawasan RTH tersebut.

Namun, wastafel yang disediakan tidak banyak. Hanya satu. Itu pun kondisinya tak terurus. Bahkan lebih parah dari wastafel di RTH Sumbersari. Jangankan air, tempat saluran air saja tidak ada. Entah hilang atau dicuri. Lalu, salah satu bagian besi penyangga wastafel sudah penyok. Mungkin bekas tertabrak. Kedua keran dan kedua tempat sampahnya juga bernasib sama. Raib. Sementara yang tampak utuh hanya tandon air, bak air, tempat sampah di kedua sisi, besi penyangga, dan tempat sabun yang kosong.

Dengan kondisi seperti itu, tidak ada yang bisa dimanfaatkan dari wastafel tersebut. Hanya jadi penghias saja. “Kalau terus dibiarkan mangkrak seperti itu, bisa hilang. Siapa tahu nanti ada yang mencurinya karena dianggap sudah tidak dipakai,” ucap Zuhri, salah seorang PKL di kawasan RTH.

Baik PKL maupun pengunjung RTH, tentu tidak bisa menggunakan fasilitas cuci tangan itu. Padahal tiap malam, kawasan tersebut kerap terdapat kerumunan orang. Mereka yang seharusnya rajin mencuci tangan dengan ketersediaan wastafel, tapi nyatanya justru sebaliknya.

Bergeser ke timur dengan melihat wastafel di RTH Kelurahan Mangli, kondisinya juga tak jauh berbeda dengan dua RTH sebelumnya. Airnya kosong. Kerannya sudah mulai dol. Lalu, galvalum sebagai penyangga bak air ada yang sudah penyok.

Wastafel yang tepat berada di rimbunan pohon beringin itu juga kotor dengan daun-daun yang berguguran. Meskipun tandon dan kedua tempat sampahnya masih utuh, tapi dengan kondisi seperti itu, tentu tidak bisa digunakan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Akhir pekan kemarin, sejumlah orang terlihat bermain di sekitar Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sumbersari. Beberapa dari mereka tampak bersama keluarganya. Sesaat berlalu, orang-orang mulai beranjak pulang, walau ada pula yang menyempatkan diri mencuci tangan. Sebab, persis di depan RTH tersedia wastafel. “Loh, mana airnya? Kok gak keluar sih,” gerutu Rachel, bersama rekannya, Qinan. Mereka sepertinya kecele. Saat memutar keran, tidak keluar air.

Tak mau ambil pusing, kedua pelajar warga Kelurahan Sumbersari itu seketika balik kanan. Mereka membatalkan niatnya mencuci tangan gara-gara wastafel tidak ada airnya. “Pulang saja, cuci tangan di rumah. Bagaimana mau ada airnya, saluran air di bawah saja tidak ada,” jawab Rachel saat ditanya Jawa Pos Radar Jember, sesaat sebelum keduanya pergi.

Belum lama kedua pelajar itu bertandang, lalu datang seorang pengendara motor. Boncengan. Mereka berhenti tepat di depan RTH. Dia tampak mau beristirahat. Namun, saat akan cuci muka, dia ternyata juga kecele. Memutar keran tanpa air.

Pemotor dan dua pelajar itu bisa jadi hanya segelintir orang yang tidak bisa menikmati sarana wastafel sebagaimana mestinya. Kondisi ini menjadi ironi. Di saat orang ramai-ramai dituntut rajin menerapkan protokol kesehatan (prokes) di tempat publik, ternyata dukungan fasilitasnya kurang memadai.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di RTH tersebut, sebenarnya keberadaan wastafel masih bagus dan utuh. Walau beberapa bagiannya tampak rusak. Seperti selang untuk aliran air yang hilang, pipa keran yang hampir copot, dan tidak ada tempat sabun. Kemungkinan, wastafel itu sudah lama tidak terisi air. Ini bisa dilihat dari bak cuci tangan yang tampak kotor. Selain itu, bisa juga keseringan kena hujan dan panas.

Tak jauh berbeda, di sejumlah fasilitas umum (fasum) lainnya juga demikian. Seperti wastafel yang terpantau di RTH Rambipuji. Taman rakyat yang tepat bersebelahan dengan pasar itu cukup ramai. Tiap malam, banyak pengunjung RTH dan lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) memadati kawasan RTH tersebut.

Namun, wastafel yang disediakan tidak banyak. Hanya satu. Itu pun kondisinya tak terurus. Bahkan lebih parah dari wastafel di RTH Sumbersari. Jangankan air, tempat saluran air saja tidak ada. Entah hilang atau dicuri. Lalu, salah satu bagian besi penyangga wastafel sudah penyok. Mungkin bekas tertabrak. Kedua keran dan kedua tempat sampahnya juga bernasib sama. Raib. Sementara yang tampak utuh hanya tandon air, bak air, tempat sampah di kedua sisi, besi penyangga, dan tempat sabun yang kosong.

Dengan kondisi seperti itu, tidak ada yang bisa dimanfaatkan dari wastafel tersebut. Hanya jadi penghias saja. “Kalau terus dibiarkan mangkrak seperti itu, bisa hilang. Siapa tahu nanti ada yang mencurinya karena dianggap sudah tidak dipakai,” ucap Zuhri, salah seorang PKL di kawasan RTH.

Baik PKL maupun pengunjung RTH, tentu tidak bisa menggunakan fasilitas cuci tangan itu. Padahal tiap malam, kawasan tersebut kerap terdapat kerumunan orang. Mereka yang seharusnya rajin mencuci tangan dengan ketersediaan wastafel, tapi nyatanya justru sebaliknya.

Bergeser ke timur dengan melihat wastafel di RTH Kelurahan Mangli, kondisinya juga tak jauh berbeda dengan dua RTH sebelumnya. Airnya kosong. Kerannya sudah mulai dol. Lalu, galvalum sebagai penyangga bak air ada yang sudah penyok.

Wastafel yang tepat berada di rimbunan pohon beringin itu juga kotor dengan daun-daun yang berguguran. Meskipun tandon dan kedua tempat sampahnya masih utuh, tapi dengan kondisi seperti itu, tentu tidak bisa digunakan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/