alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Perlu Evaluasi agar Tepat Sasaran

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penggunaan dana bantuan tidak terduga (BTT) selama penanganan Covid-19 tahun 2020 lalu banyak disorot sejumlah pihak. Salah satunya terkait dengan perencanaan dan realisasi pengadaan bak cuci tangan atau wastafel.

Pengadaan wastafel yang sudah terjadi, menurut anggota Pansus DPRD Jember Edy Cahyo Purnomo, tidak melalui pertimbangan yang matang. Dikatakannya, perencanaan pengadaan wastafel hanya besar di anggaran, tetapi tidak memberi manfaat yang signifikan.

Seharusnya, kata dia, sebelum memutuskan pengadaan barang yang tepat, selayaknya dipikir apakah akan memberi manfaat besar atau hanya dananya yang besar. “Jadi, pengadaan wastafel di Jember sangat tidak tepat sasaran. Toko-toko saja pakai timba air untuk cuci tangan cukup, kok pemerintah harus bikin yang mahal. Ini namanya pemborosan,” ucap pria yang akrab disapa Ipung tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, dana pengadaan wastafel seharusnya bisa dialokasikan untuk kegiatan lain. “Sekolah-sekolah ada yang dapat banyak, manfaatnya apa? Lebih minimalis jika pakai pet seperti biasanya,” ulasnya.

Pengadaan barang dan jasa secara umum belum diketahui perincian penggunaannya. Pansus DPRD yang sudah meminta pun hanya diberi penjelasan garis-garis besar penggunaan anggaran. “Administrasi keuangannya tidak baik. Itu terjadi karena anggaran disediakan sebelum perencanaan yang jelas. Akibatnya seperti wastafel, dananya besar tetapi manfaatnya kecil,” ulas Ipung.

Ketua Pansus Covid-19 DPRD Jember David Handoko Seto juga menyoroti pengadaan wastafel. Menurutnya, kegiatan seperti itu perlu dievaluasi. Sebab, wastafel yang seharusnya cukup sederhana dan murah menjadi mahal akibat perencanaan program yang tidak tepat. “Sekelas mall dan toko-toko besar saja pakai timba dan dananya minimalis. Program yang tidak tepat seperti ini perlu dievaluasi,” ucap David.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penggunaan dana bantuan tidak terduga (BTT) selama penanganan Covid-19 tahun 2020 lalu banyak disorot sejumlah pihak. Salah satunya terkait dengan perencanaan dan realisasi pengadaan bak cuci tangan atau wastafel.

Pengadaan wastafel yang sudah terjadi, menurut anggota Pansus DPRD Jember Edy Cahyo Purnomo, tidak melalui pertimbangan yang matang. Dikatakannya, perencanaan pengadaan wastafel hanya besar di anggaran, tetapi tidak memberi manfaat yang signifikan.

Seharusnya, kata dia, sebelum memutuskan pengadaan barang yang tepat, selayaknya dipikir apakah akan memberi manfaat besar atau hanya dananya yang besar. “Jadi, pengadaan wastafel di Jember sangat tidak tepat sasaran. Toko-toko saja pakai timba air untuk cuci tangan cukup, kok pemerintah harus bikin yang mahal. Ini namanya pemborosan,” ucap pria yang akrab disapa Ipung tersebut.

Menurutnya, dana pengadaan wastafel seharusnya bisa dialokasikan untuk kegiatan lain. “Sekolah-sekolah ada yang dapat banyak, manfaatnya apa? Lebih minimalis jika pakai pet seperti biasanya,” ulasnya.

Pengadaan barang dan jasa secara umum belum diketahui perincian penggunaannya. Pansus DPRD yang sudah meminta pun hanya diberi penjelasan garis-garis besar penggunaan anggaran. “Administrasi keuangannya tidak baik. Itu terjadi karena anggaran disediakan sebelum perencanaan yang jelas. Akibatnya seperti wastafel, dananya besar tetapi manfaatnya kecil,” ulas Ipung.

Ketua Pansus Covid-19 DPRD Jember David Handoko Seto juga menyoroti pengadaan wastafel. Menurutnya, kegiatan seperti itu perlu dievaluasi. Sebab, wastafel yang seharusnya cukup sederhana dan murah menjadi mahal akibat perencanaan program yang tidak tepat. “Sekelas mall dan toko-toko besar saja pakai timba dan dananya minimalis. Program yang tidak tepat seperti ini perlu dievaluasi,” ucap David.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penggunaan dana bantuan tidak terduga (BTT) selama penanganan Covid-19 tahun 2020 lalu banyak disorot sejumlah pihak. Salah satunya terkait dengan perencanaan dan realisasi pengadaan bak cuci tangan atau wastafel.

Pengadaan wastafel yang sudah terjadi, menurut anggota Pansus DPRD Jember Edy Cahyo Purnomo, tidak melalui pertimbangan yang matang. Dikatakannya, perencanaan pengadaan wastafel hanya besar di anggaran, tetapi tidak memberi manfaat yang signifikan.

Seharusnya, kata dia, sebelum memutuskan pengadaan barang yang tepat, selayaknya dipikir apakah akan memberi manfaat besar atau hanya dananya yang besar. “Jadi, pengadaan wastafel di Jember sangat tidak tepat sasaran. Toko-toko saja pakai timba air untuk cuci tangan cukup, kok pemerintah harus bikin yang mahal. Ini namanya pemborosan,” ucap pria yang akrab disapa Ipung tersebut.

Menurutnya, dana pengadaan wastafel seharusnya bisa dialokasikan untuk kegiatan lain. “Sekolah-sekolah ada yang dapat banyak, manfaatnya apa? Lebih minimalis jika pakai pet seperti biasanya,” ulasnya.

Pengadaan barang dan jasa secara umum belum diketahui perincian penggunaannya. Pansus DPRD yang sudah meminta pun hanya diberi penjelasan garis-garis besar penggunaan anggaran. “Administrasi keuangannya tidak baik. Itu terjadi karena anggaran disediakan sebelum perencanaan yang jelas. Akibatnya seperti wastafel, dananya besar tetapi manfaatnya kecil,” ulas Ipung.

Ketua Pansus Covid-19 DPRD Jember David Handoko Seto juga menyoroti pengadaan wastafel. Menurutnya, kegiatan seperti itu perlu dievaluasi. Sebab, wastafel yang seharusnya cukup sederhana dan murah menjadi mahal akibat perencanaan program yang tidak tepat. “Sekelas mall dan toko-toko besar saja pakai timba dan dananya minimalis. Program yang tidak tepat seperti ini perlu dievaluasi,” ucap David.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/