alexametrics
22.3 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

 Usung Isu Kekerasan Seksual hingga Radikalisme

Mahasiswa Bikin Mimbar Bebas, Kritik Kampus

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesetaraan gender hingga kasus pelecehan seksual yang tenggelam begitu saja di lingkungan kampus Universitas Jember (Unej) menjadi salah satu perhatian mahasiswa dari berbagai fakultas yang menggelar mimbar demokrasi di kawasan Patung Triumviraat Unej, kemarin (17/1). Bahkan, mereka juga tak segan menjuluki kampus negeri ternama di Jember tersebut sebagai “kampus misoginis”.

Satu per satu aktivis mahasiswa itu menyampaikan orasi dan harapan mereka terhadap Unej ke depan. Apalagi, tahun ini Unej akan memiliki rektor baru. Mereka menyampaikan beberapa persoalan kampus yang harus diselesaikan secara konkret. Yaitu mulai dari radikalisme agama, kesehatan, persoalan ramah gender, hingga keamanan kampus itu sendiri.

Wisnu Wilian menyampaikan, persoalan kekerasan atau pun pelecehan seksual rasanya tenggelam begitu saja. Kasus-kasus itu disebutnya nyata adanya, meski hingga kini penanganannya dinilai tak berujung. Padahal, kata mahasiswa Fakultas Teknik ini, diskusi dan dialog tentang kekerasan atau pelecehan seksual di lingkungan kampus juga kerap dilakukan. Tapi tetap saja, hasilnya nihil tak ada kejelasan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, Azhar Adaby, mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) mengutarakan, mimbar demokrasi mahasiswa itu sebagai refleksi akhir kepemimpinan, sehingga mahasiswa menyampaikan beberapa persoalan yang antara satu dengan persoalan lain saling berhubungan. Salah satunya adalah kasus pelecehan seksual yang menurutnya harus segera diatasi. “Mahasiswi perempuan, terutama yang jalan kaki, ada rasa waswas ketika berjalan kaki di kampus. Apalagi jika malam hari,” paparnya.

Pria asal Banyuwangi ini mengaku, perkuliahan sekarang pun juga ada yang sampai malam. Bahkan, kegiatan mahasiswa yang rapat di unit kegiatan mahasiswa (UKM) juga sampai larut. Sayangnya, infrastruktur dan keamanan kampus itu masih minim. “Akhir-akhir ini yang sering terjadi pelecehan seksual adalah adanya begal payudara,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesetaraan gender hingga kasus pelecehan seksual yang tenggelam begitu saja di lingkungan kampus Universitas Jember (Unej) menjadi salah satu perhatian mahasiswa dari berbagai fakultas yang menggelar mimbar demokrasi di kawasan Patung Triumviraat Unej, kemarin (17/1). Bahkan, mereka juga tak segan menjuluki kampus negeri ternama di Jember tersebut sebagai “kampus misoginis”.

Satu per satu aktivis mahasiswa itu menyampaikan orasi dan harapan mereka terhadap Unej ke depan. Apalagi, tahun ini Unej akan memiliki rektor baru. Mereka menyampaikan beberapa persoalan kampus yang harus diselesaikan secara konkret. Yaitu mulai dari radikalisme agama, kesehatan, persoalan ramah gender, hingga keamanan kampus itu sendiri.

Wisnu Wilian menyampaikan, persoalan kekerasan atau pun pelecehan seksual rasanya tenggelam begitu saja. Kasus-kasus itu disebutnya nyata adanya, meski hingga kini penanganannya dinilai tak berujung. Padahal, kata mahasiswa Fakultas Teknik ini, diskusi dan dialog tentang kekerasan atau pelecehan seksual di lingkungan kampus juga kerap dilakukan. Tapi tetap saja, hasilnya nihil tak ada kejelasan.

Sementara itu, Azhar Adaby, mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) mengutarakan, mimbar demokrasi mahasiswa itu sebagai refleksi akhir kepemimpinan, sehingga mahasiswa menyampaikan beberapa persoalan yang antara satu dengan persoalan lain saling berhubungan. Salah satunya adalah kasus pelecehan seksual yang menurutnya harus segera diatasi. “Mahasiswi perempuan, terutama yang jalan kaki, ada rasa waswas ketika berjalan kaki di kampus. Apalagi jika malam hari,” paparnya.

Pria asal Banyuwangi ini mengaku, perkuliahan sekarang pun juga ada yang sampai malam. Bahkan, kegiatan mahasiswa yang rapat di unit kegiatan mahasiswa (UKM) juga sampai larut. Sayangnya, infrastruktur dan keamanan kampus itu masih minim. “Akhir-akhir ini yang sering terjadi pelecehan seksual adalah adanya begal payudara,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesetaraan gender hingga kasus pelecehan seksual yang tenggelam begitu saja di lingkungan kampus Universitas Jember (Unej) menjadi salah satu perhatian mahasiswa dari berbagai fakultas yang menggelar mimbar demokrasi di kawasan Patung Triumviraat Unej, kemarin (17/1). Bahkan, mereka juga tak segan menjuluki kampus negeri ternama di Jember tersebut sebagai “kampus misoginis”.

Satu per satu aktivis mahasiswa itu menyampaikan orasi dan harapan mereka terhadap Unej ke depan. Apalagi, tahun ini Unej akan memiliki rektor baru. Mereka menyampaikan beberapa persoalan kampus yang harus diselesaikan secara konkret. Yaitu mulai dari radikalisme agama, kesehatan, persoalan ramah gender, hingga keamanan kampus itu sendiri.

Wisnu Wilian menyampaikan, persoalan kekerasan atau pun pelecehan seksual rasanya tenggelam begitu saja. Kasus-kasus itu disebutnya nyata adanya, meski hingga kini penanganannya dinilai tak berujung. Padahal, kata mahasiswa Fakultas Teknik ini, diskusi dan dialog tentang kekerasan atau pelecehan seksual di lingkungan kampus juga kerap dilakukan. Tapi tetap saja, hasilnya nihil tak ada kejelasan.

Sementara itu, Azhar Adaby, mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) mengutarakan, mimbar demokrasi mahasiswa itu sebagai refleksi akhir kepemimpinan, sehingga mahasiswa menyampaikan beberapa persoalan yang antara satu dengan persoalan lain saling berhubungan. Salah satunya adalah kasus pelecehan seksual yang menurutnya harus segera diatasi. “Mahasiswi perempuan, terutama yang jalan kaki, ada rasa waswas ketika berjalan kaki di kampus. Apalagi jika malam hari,” paparnya.

Pria asal Banyuwangi ini mengaku, perkuliahan sekarang pun juga ada yang sampai malam. Bahkan, kegiatan mahasiswa yang rapat di unit kegiatan mahasiswa (UKM) juga sampai larut. Sayangnya, infrastruktur dan keamanan kampus itu masih minim. “Akhir-akhir ini yang sering terjadi pelecehan seksual adalah adanya begal payudara,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/