alexametrics
23 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Penggerak Disabilitas di Jember Dikira Pencari Sumbanggan

Door to Door Ajak Berorganisasi, Sempat Dikira Pencari Sumbangan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – KIPRAH Antok di organisasi difabel tak diragukan lagi. Mulai mengantarkan rekan-rekan Difabel Motor Indonesia (DMI) Jember untuk mendapatkan kartu BPJS Kesehatan, hingga ujian SIM di Satlantas Polres Jember. Dan berbicara organisasi difabel, Antok juga aktif mulai dari Persatuan Penyandang Cacat (Perpenca) Jember, DMI, hingga Persaid atau tim persatuan sepak bola difabel Jember.

Perjalanan aktif di organisasi tidak semulus yang dibayangkan orang. Penuh tantangan. Selepas dari bangku kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Jember (Unej) pada 2004 lalu menjadi titik awal dirinya bangkit. Kala itu, ketika mahasiswa lulus disambut suka cita, tapi tidak untuk Antok. Momentum tersebut justru menyadarkannya bahwa ia berbeda. “Saya mulai berpikir keadaan saya. Saya juga semakin sadar bahwa saya itu berbeda,” ungkapnya.

Seusai lulus, pemikirannya kian negatif. Ia ragu apakah orang percaya bahwa dirinya bisa bekerja. Dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya, Antok mulai mendaftar mengikuti pelatihan kerja bagi disabilitas di Bogor. “Saya ikut latihan tujuannya itu kerja. Bayangan saya itu akan disalurkan setelah ikut pelatihan komputer, padahal saya itu sudah bisa komputer,” terangnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Berkat latihan itu, paradigma Antok terhadap disabilitas berubah. “Ketemu disabilitas berbagai daerah. Itu ada beragam kegiatan di sana. Tapi, di Jember kok tidak ada apa-apa waktu itu,” tutur pria asli Desa Kasiyan, Kecamatan Puger, Jember tersebut. Awalnya, Antok terlahir normal. Namun, serangan virus polio saat dia berusia dua tahun membuat kakinya lunglai.

Sekembalinya di Jember, Antok mencari rekan-rekan semasa disabilitas. Ketemulah dengan Mais dan Zainuri. Mais dikenal sebagai seorang dosen, sedangkan Zaenuri merupakan guru yang sekarang sebagai Ketua Perpenca Jember. Ketiganya lalu bergerak bersama. Lewat data dari Dinas Sosial, Antok beserta rekan-rekannya bergerilya door to door dan mengundang ke acara yang tidak formal. Halal bihalal. Setelah pertemuan itu, baru ada pertemuan kembali dengan membahas organisasi dan membentuk Perpenca.

Dia mengatakan, tidak bisa memaksa orang atau instansi itu peduli terhadap disabilitas. Sebab, pemahamannya, mereka bukan tidak peduli, tapi tidak pernah berada di lingkungan penyandang disabilitas. Kebalikannya, bisa saja Antok tidak akan peduli tentang kusta, karena tidak pernah mengenal, mendengar, atau berkenalan dengan penderita kusta.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – KIPRAH Antok di organisasi difabel tak diragukan lagi. Mulai mengantarkan rekan-rekan Difabel Motor Indonesia (DMI) Jember untuk mendapatkan kartu BPJS Kesehatan, hingga ujian SIM di Satlantas Polres Jember. Dan berbicara organisasi difabel, Antok juga aktif mulai dari Persatuan Penyandang Cacat (Perpenca) Jember, DMI, hingga Persaid atau tim persatuan sepak bola difabel Jember.

Perjalanan aktif di organisasi tidak semulus yang dibayangkan orang. Penuh tantangan. Selepas dari bangku kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Jember (Unej) pada 2004 lalu menjadi titik awal dirinya bangkit. Kala itu, ketika mahasiswa lulus disambut suka cita, tapi tidak untuk Antok. Momentum tersebut justru menyadarkannya bahwa ia berbeda. “Saya mulai berpikir keadaan saya. Saya juga semakin sadar bahwa saya itu berbeda,” ungkapnya.

Seusai lulus, pemikirannya kian negatif. Ia ragu apakah orang percaya bahwa dirinya bisa bekerja. Dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya, Antok mulai mendaftar mengikuti pelatihan kerja bagi disabilitas di Bogor. “Saya ikut latihan tujuannya itu kerja. Bayangan saya itu akan disalurkan setelah ikut pelatihan komputer, padahal saya itu sudah bisa komputer,” terangnya.

Berkat latihan itu, paradigma Antok terhadap disabilitas berubah. “Ketemu disabilitas berbagai daerah. Itu ada beragam kegiatan di sana. Tapi, di Jember kok tidak ada apa-apa waktu itu,” tutur pria asli Desa Kasiyan, Kecamatan Puger, Jember tersebut. Awalnya, Antok terlahir normal. Namun, serangan virus polio saat dia berusia dua tahun membuat kakinya lunglai.

Sekembalinya di Jember, Antok mencari rekan-rekan semasa disabilitas. Ketemulah dengan Mais dan Zainuri. Mais dikenal sebagai seorang dosen, sedangkan Zaenuri merupakan guru yang sekarang sebagai Ketua Perpenca Jember. Ketiganya lalu bergerak bersama. Lewat data dari Dinas Sosial, Antok beserta rekan-rekannya bergerilya door to door dan mengundang ke acara yang tidak formal. Halal bihalal. Setelah pertemuan itu, baru ada pertemuan kembali dengan membahas organisasi dan membentuk Perpenca.

Dia mengatakan, tidak bisa memaksa orang atau instansi itu peduli terhadap disabilitas. Sebab, pemahamannya, mereka bukan tidak peduli, tapi tidak pernah berada di lingkungan penyandang disabilitas. Kebalikannya, bisa saja Antok tidak akan peduli tentang kusta, karena tidak pernah mengenal, mendengar, atau berkenalan dengan penderita kusta.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – KIPRAH Antok di organisasi difabel tak diragukan lagi. Mulai mengantarkan rekan-rekan Difabel Motor Indonesia (DMI) Jember untuk mendapatkan kartu BPJS Kesehatan, hingga ujian SIM di Satlantas Polres Jember. Dan berbicara organisasi difabel, Antok juga aktif mulai dari Persatuan Penyandang Cacat (Perpenca) Jember, DMI, hingga Persaid atau tim persatuan sepak bola difabel Jember.

Perjalanan aktif di organisasi tidak semulus yang dibayangkan orang. Penuh tantangan. Selepas dari bangku kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Jember (Unej) pada 2004 lalu menjadi titik awal dirinya bangkit. Kala itu, ketika mahasiswa lulus disambut suka cita, tapi tidak untuk Antok. Momentum tersebut justru menyadarkannya bahwa ia berbeda. “Saya mulai berpikir keadaan saya. Saya juga semakin sadar bahwa saya itu berbeda,” ungkapnya.

Seusai lulus, pemikirannya kian negatif. Ia ragu apakah orang percaya bahwa dirinya bisa bekerja. Dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya, Antok mulai mendaftar mengikuti pelatihan kerja bagi disabilitas di Bogor. “Saya ikut latihan tujuannya itu kerja. Bayangan saya itu akan disalurkan setelah ikut pelatihan komputer, padahal saya itu sudah bisa komputer,” terangnya.

Berkat latihan itu, paradigma Antok terhadap disabilitas berubah. “Ketemu disabilitas berbagai daerah. Itu ada beragam kegiatan di sana. Tapi, di Jember kok tidak ada apa-apa waktu itu,” tutur pria asli Desa Kasiyan, Kecamatan Puger, Jember tersebut. Awalnya, Antok terlahir normal. Namun, serangan virus polio saat dia berusia dua tahun membuat kakinya lunglai.

Sekembalinya di Jember, Antok mencari rekan-rekan semasa disabilitas. Ketemulah dengan Mais dan Zainuri. Mais dikenal sebagai seorang dosen, sedangkan Zaenuri merupakan guru yang sekarang sebagai Ketua Perpenca Jember. Ketiganya lalu bergerak bersama. Lewat data dari Dinas Sosial, Antok beserta rekan-rekannya bergerilya door to door dan mengundang ke acara yang tidak formal. Halal bihalal. Setelah pertemuan itu, baru ada pertemuan kembali dengan membahas organisasi dan membentuk Perpenca.

Dia mengatakan, tidak bisa memaksa orang atau instansi itu peduli terhadap disabilitas. Sebab, pemahamannya, mereka bukan tidak peduli, tapi tidak pernah berada di lingkungan penyandang disabilitas. Kebalikannya, bisa saja Antok tidak akan peduli tentang kusta, karena tidak pernah mengenal, mendengar, atau berkenalan dengan penderita kusta.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/